Rangkuman Buku

Hasil Bacaan Terhadap Handbook of Semeotics karya Winfried Noth

BAB I

PENDAHULUAN

 

            “Bahasa dalam bentuk sintaksis dan morfologi pada satu sisi dan struktur bunyi pada sisi yang lain, hanya merupakan sarana untuk menyampaikan segala aspek kemaknaan yang hendak disampaikan oleh penuturnya” (Farera, 2004:2). Kutipan ini menyuratkan bahwa, semantik (dalam penggunaan bahasa, baik tuturan langsung, maupun dalam bentuk literatur) merupakan salah satu elemen yang sangat penting (untuk dikaji) dari struktur bahasa sebagai media komunikasi dan informasi.

Tradisi pengkajian keilmuan terhadap bahasa, dalam hal ini pengkajian mengenai semantik, penulis lakukan terhadap buku Handbook of Semeotics karya Winfried Noth, yang lebih khusus pada bab VI. Pada bab VI ini Winfried Noth menjelaskan ranah kajian semiotik. Ranah kajian semiotik ini terpusat pada literatur/ teks yang memiliki sifat estetis, seperti epik, lirik, puisi, atau drama.

Ada beberapa sub bab yang dibahas dalam bab VI ini, diantaranya :

  1. teks semiotik sebagai pengantar,
  2. hermeneutik dan penafsiran,
  3. retorika dan gaya penulisan,
  4. literatur,
  5. puisi dan kepuitisan,
  6. teater dan drama,
  7. naratif,
  8. mitos,
  9. ideologi,
  10. teologi.

Dari beberapa sub bab di atas, dapat diketahui bahwa sub bab 1 hingga 8 background literatur yang menjadi ranah kajian semiotik adalah literatur yang memiliki nilai estetis (karya sastra), namun seiring dengan perkembangan penelitian semiotik, literatur yang dikaji kemudian meluas kepada ideologi, dan teologi.

BAB II

RANGKUMAN HASIL BACA

 

  1. I.              SEMIOTIK  TEKS: PENGANTAR
    1. 1.             Survey Dalam Bidang Kajian

Topik Utama Dalam Penelitian semiotik dalam teks

Inti dari penelitian semiotik teks adalah bidang literatur. Pada awalnya penelitian semiotik dilakukan pada literatur yang bersifat estetis dengan berbagai kandungan metafora, seperti literatur, epik, lirik, puisi dan drama, namun seiring dengan perkembangannya, dimana kepentingannya dalam mitos, ideologi, dan teologi, semiotik teks berubah menjadi fenomena non estetika.

                    

  1. 2.             Semiotik Teks Dan Pendekatan-Pendekatan Pada Teks Yang Berhubungan
    1. a.               Semiotik Teks Sebagai Translinguistik

Bartes mengemukakan bahwa berdasarkan pada sebuah model linguistik yang lebih sempit yang diperluas dari fonologi ke sintaksis. (Cf. Tingkat linguistik Martinet: fonim, monim, dan frase) struktur-struktur diluar kalimat tidak lagi menjadi subyek dalam penelitian linguistik. Penelitian pada tingkat tekstual kemudian dianggap semiotik.

  1. b.              Semiotik Teks Sebagai Pragmatik Teks (berdasarkan fungsi)

Semiotik teks dalam perspektif ini adalah perluasan dari analisis ke dalam dimensi pragmatik dari teks. Fokusnya berada dalam proses-proses komunikatif dan fungsi-fungsi dari teks, dan perhatian khusus diberikan pada proses-proses pada resepsi teks, peran dari pembaca.

  1. c.               Teori Tanda-Tanda Dan Kode Dalam Teks

Semiotik terhadap linguistik dimulai dengan analisis pada tanda-tanda non linguistik dan kode-kode dalam teks. Hubungan diantara struktur-struktur linguistik dan tanda-tanda non linguistik atau kode-kode dalam teks dapat menjadi salah satu dari pemetaan ikonik atau salah satu dari persinggungan indeksikal. Pada kasus pertama, teks-teks verbal menggambarkan atau menjelaskan mengenai tanda-tanda nonverbal atau visual (misalnya, dalam sebuah puisi atau naratif). Dalam kasus kedua, teks verbal ditempatkan dalam konteks tanda-tanda atau kode-kode non linguistik (misalnya, dalam teater, film, komik, dll).

  1. 3.             Teks Dan Tekstualitas
    1. a.             Teks-Teks Sebagai Pesan-Pesan Kultural

Bakhtin, seperti yang dikutip oleh Todorov, menyebut teks sebagai “fakta primer” dalam ilmu manusia: “Teks adalah realitas saat itu juga (realitas dari pemikiran dan pengalaman) dimana pemikiran dan disiplin-disiplin ini dapat secara ekslusif menyusun dirinya sendiri. Dimana tidak terdapat teks, tidak terdapat obyek dalam pengkajian atau  pemikiran” (1981: 17). Secara lebih spesifik, Uspenskij dkk, menganggap teks sebagai “unsur utama (unit dasar) dari kebudayaan” (1973: 6), sebagai sebuah pesan yang dihasilkan oleh sistem-sistem dalam kode-kode budaya. (Untuk kriteria tambahan dari definisi ini lihat 3.2.1.)

  1. b.             Teks Sebagai Pesan Verbal

Dalam artian yang lebih sempit, teks adalah hanya sebuah pesan verbal. Secara etimologi teks, mengandung pengertian ‘sesuatu yang terjalin’, mengacu pada sebuah karakteristik tekstualitas yang dapat dibatasi sebagai sebuah ‘keseluruhan yang padu’.

  1. c.             Teks Sebagai Pesan Di Dalam Sebuah Konteks

Dalam pandangan pragmatis, teks didefinisikan oleh kriteria komunikasi: teks adalah pesan (verbal) dari seorang pengirim kepada seorang penerima. Hartmann, mengajukan hipotesis dari teks sebagai tanda linguistik murni, menyatakan bahwa bahasa dalam komunikasi selalu pada dasarnya teks (dan hanya secara sekunder kalimat, kata, dll) (1971: 10-11).

Kriteria pragmatik menentukan teks berada di dalam konteks situasionalnya. Konteks ini terdiri dari fenomena tekstual dan ekstra tekstual, yang Lotman telah coba bedakan dengan dua kriteria ekspresi dan demarkasi (1970: 51-52).

  1. d.             Teks Sebagai Sebuah Struktur Yang Padu

Dalam struktur sintaktik teks dan struktur semantik teks internalnya, teks dicirikan sebagai sebuah otonomi dan dalam hal-hal tertentu sistem tertutup (cf. Ducrot & Todorov 1972: 294). Keseluruhan sistemik dari teks diciptakan oleh sebuah proses dalam integrasi dari tanda-tanda individu kedalam sebuah tanda integral (Uspenskij dkk, 1973: 6) atau, dalam terminologi semiotik teoritis informasi, kedalam sebuah supertanda (cf. Posner & Reinecke, eds, 1977: 47-106).

  1. II.           HERMENEUTIK DAN PENAFSIRAN

Hermeneutik merupakan pendahulu dan disiplin yang berhubungan dengan semiotik teks. Hermeneutik pada awalnya merupakan “seni dalam interpretasi”, hermeneutik merupakan salah satu ilmu teks yang paling awal dan merupakan pendahulu dari semiotik teks. Seperti retorik, hermeneutik memiliki akar yang penting pada Yunani kuno.

  1. 1.             Asal-Usul Hermeneutik
    1. a.               Hermeneutik Kuno

Prinsip-prinsip dalam menjelaskan, menafsirkan, dan menterjemahkan, merupakan sebuah topik dari filsafat dan mitologi Yunani. Pada awalnya Plato (Epinomis 975c) membahas seni penafsiran dalam hubungannya dengan ramalan (mantik). Dengan keberadaan itu penafsiran dan ramalan merupakan seni hermeneutik (cf. Todorov 1977: 31). Keduanya berkaitan dengan pencarian makna. Dimana ramalan mengungkap makna-makna dalam obyek-obyek yang tampaknya tidak memiliki makna, penafsiran mengungkap makna-makna sekunder diluar makna-makna utama dalam teks.

Sebuah topik utama dari kritik tekstual kuno adalah penafsiran bahasa kiasan dari hasil penelitian Homer. Kritik klasik ditujukan pada dua tingkatan analisis teks. Pada “tingkat permukaan”, komentar tekstual harus menjelaskan makna-makna kata dan kalimat. Pada analisis “tingkat dalam”, sebuah ‘arti tersembunyi’ kedua harus diungkap yang kemudian dikenal dengan arti kiasan.

  1. b.              Penafsiran Injil

Dasar pemikiran kuno mengenai dua tingkat makna tekstual dikembangkan kedalam sebuah sistem penafsiran yang kompleks oleh ahli teologi Kristen setelah Origines (185-254).

Tradisi hermeneutik membedakan tiga tahapan dalam analisis injil (cf. Robertson & Huppe 1951: 1-3): tahap pertama, disebut dengan littera, berkaitan dengan struktur gramatik. Pada tahap kedua, yang disebut dengan sensus, makna yang jelas, harfiah atau naratif harus dipahami. Littera dan sensus membentuk kulit luar dari teks. Pada waktu yang sama, sensus mengandung tingkat pertama dari empat tingkat dalam makna-makna injil. Hal disebut dengan makna harfiah atau makna historis (sensus litteralis, s. historicus). Makna yang lebih luas yang berkaitan dengan dengan inti dari injil diungkap hanya pada tahap penafsiran ketiga, yang disebut dengan setentia (lihat Contoh H 1). Tahap penafsiran dari sententia adalah makna-makna spiritual dari Kitab Suci. Makna-makna ini dipelajari berdasarkan pada doktrin yang rinci dari berbagai makna-makna kitab. Dalam injil setiap makna di pelajari berdasarkan tiga gaya dari makna spiritual, yaitu

1)      Tropologi, Makna tropologi (moral) adalah kepentingan yang dimiliki Kitab untuk kehidupan individu dari manusia di bumi.

2)      Kiasan. Makna kiasan mengungkap lapisan makna yang mengacu pada Kristus dan Gereja.

3)      Anagogi. Makna anagogi mengacu pada misteri-misteri Ilahi yang akan diungkap di masa depan.

  1. 2.             Masalah Pemahaman Dalam Hermeneutik Modern

Hermeneutik modern dikembangkan dari Friedrich Schleiermacher (1768-1834) dan Wilhelm Dilthey (1833-1911) sampai Martin Heidegger (1889-1976), Rudolf Bultmann (1884-1976), Gadamer (1960), Betti (1962), Habermas (1968), Ricouer (1969), Szondi (1975), dan Apel (1976).

Dari tradisi filosofis ini, hanya dua masalah inti dalam memahami dan interpretasi, siklus hermeneutik dan bentuk ideal dalam interpretasi/ pemahaman yang benar.

Tahapan-Tahapan Dalam Penafsiran

Makna-Makna Injil

Kulit luar(struktur permukaan) 1. littera (tata bahasa)                –
2. sensus (semantik) (1) sensus litteralis(s. historicus)
Nukleus(struktur inti) 3. sententia (penafsiran tekstual) Tiga makna spiritual(2) sensus tropologicus(3) sensus allegoricus

(4) sensus anagogicus

  1. a.             Siklus Hermeneutik

Model pemahaman hermeneutik disebut juga dengan siklus hermeneutik Model pemahaman hermeneutik disebut juga dengan siklus hermeneutik. Dilthey menggambarkannya sebagai inti dari teorema interpretasi:

Dari kata-kata individu dan kombinasinya, keseluruhan dari sebuah kerja adalah untuk dipahami, dan toh, pemahaman yang lengkap dari bagian individu telah mengandung arti keseluruhan. Siklus ini terjadi lagi dalam hubungannya dengan kerja individu pada mentalitas dan perkembangan dari penulisnya. Siklus ini terjadi lagi dalam hubungannya dengan kerja individu ini pada genre sastra. (1900: 330)

Penentuan pemahaman oleh pra konsepsi individu dan pra disposisi historis dari penafsir adalah salah satu topik utama dari hermeneutik. (Lihat juga masalah yang berhubungan dari ideologi dalam Ideologi 2.2).

Menurut pembahasan Hauff mengenai hasil penelitian Gadamer,

pra konsepsi ini menghasilan sebuah konteks dalam makna dimana teks diintegrasiskan dan dimana teks tampak dipahami. Ketika teks disesuaikan dengan bingkai interpretatif tertentu, pra konsepsi ini [ . . .] disesuaikan. Ketika teks bertentangan dengan dengan bingkai yang pra diterima, berkontradiksi dengan ekspektasi semantik tertentu, pembaca akan tersinggung: Hanya pada saat ini dia menciptkan situasi yang menuntut penafsiran eksplisit. Pemahaman tekstual dilihat sebagai sebuah integrasi dari sesuatu yang asing menjadi sesuatu yang familiar, sesuatu yang belum diketahui menjadi sesuatu yang telah diketahui [. . .] (1971: 24).

Siklus hermeneutik bukanlah sebuah lingkaran setan. Siklus hermeneutik bukanlah subyektik atau obyektif, siklus hermeneutik menggambarkan pemahaman sebagai keadaan yang saling mempengaruhi dalam gerakan dari tradisi dan gerakan dari penafsir. Antisipasi dari signifikasi yang menentukan pemahaman dari sebuah tes bukanlah sebuah tindak subyektifitas, tetapi ditentukan oleh komunitas yang menghubungkan kita dengan tradisi. (1960: 252, 277).

  1. b.            Sebuah Penafsiran Yang Benar

Adanya perbedaan prespektif antara monosemi yang lebih mengacu pada teks dan menekankan kepentingan pada maksud penulis yang dibuktikan dengan penafsiran rekonsruktif, dan polisemi yang lebih mengacu pada perspektif pembaca yang dibuktikan dalam penafsiran produktif.

  1. III.        RETORIKA DAN GAYA PENULISAN
    1. 1.             Tata Bahasa, Retorika, Puisi, Dan Gaya Penulisan

Dari kelahirannya di Sisilia pada abad kelima sebelum masehi sampai berakhirnya pada abad kesembilan belas, retorika, dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu wacana lainnya, mengalami beberapa fase yang signifikan.

Retorika, seni kuno dari persuasi, dan gaya penulisan, turunannya yang terbaru, secara programatik dicakup dalam bidang semiotik oleh mereka yang mempertimbangkan semiotik menjadi sebuah disiplin yang mempelajari “kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat” (cf. Saussure 2.1).

 

  1. a.               Retorika Dan Puisi

Pada awalnya, retorika merupakan seni dan teori dari penuturan publik. Aristotle (ca. 335-34 SM) dengan jelas membedakan disiplin ini dari puisi dan membahas keduanya dalam acuan yang berbeda (cf.  misalnya, Herrick 1965). Puisinya adalah sebuah teori dalam literatur, yang berkaitan dengan epik, drama, dan lirik (hanya secara tidak langsung). Inti dari puisi dicirikan oleh imitasi (cf. Literatur 2.1), sementara persuasi didefinisikan sebagai inti dari retorika. Dipandang dari sudut semiotik, puisi didefinisikan dalam semantik dan retorikanya dalam dimensi pragmatik.

  1. b.              Retorika, Tata Bahasa, Dan Logika

Tata bahasa didefinisikan sebagai seni dari penuturan yang benar (ars recte loquendi), retorika adalah teori dan praksis dari penuturan yang baik secara teknis dan moral (ars bene dicendi) (cf. Lausberg 1960: 35-40).

Dalam Rhetoric nya (1, 1-2; II, 20, 22), Aristoteles membahas baik paralel dan perbedaan-perbedaan diantara seni persuasi dan logika, atau dialektik. Keduanya berkaitan dengan metoda-metoda dalam penalaran dan argumentasi. Tetapi metoda-metoda dalam memberikan bukti dengan sarana induksi atau deduksi (silogisme) berbeda. Logika mendapatkan bukti dari kesimpulan yang diikuti oleh kebutuhan. Tetapi dalam retorika, persuasi seringkali dicapai oleh bukti yang jelas saja. Disini, induksi berlanjut dengan memberikan contoh-contoh faktual atau fiktif, dan deduksi oleh silogisme yang tidak lengkap (cf. Lausberg 1960: 199-200),

  1. c.               Retorika Dan Gaya Penulisan

Retorika kuno mencakup gayapenulisan dalam cabang elocutio. Secara umum, tiga gaya (genera) dibedakan (dalam beragam versi cf. Wimsatt & Brooks 1957: 102-103),gaya penulisan yang luhur,gaya penulisan pertengahan atau umum, dangaya penulisan datar.

  1. 2.             Retorika
    1. a.             Dimensi Pragmatik Dalam Retorika Klasik

Sistem rinci dari retorika kuno menekankan pada dimensi pragmatik dalam penuturan persuasi. Morris menyebutkan retorika sebagai “sebuah bentuk awal dan terbatas dari pragmatik” (1938: 30).

1)             Fungsi-Fungsi Dan Tipologi Dari Wacana

Aristoteles menggolongkan tiga faktor-faktor persuasi efektif, (a) “ciri personal dari penutur,” (b) “menempatkan audiens kedalam sebuah bingkai pemikiran tertentu,” dan (c) “bukti” dan “subyek”, membatasi fungsi-fungsi ekspresif, penunjukan, dan referensi dari wacana

Kriteria pragmatik juga menjadi dasar dari tipologi wacana Aristoteles: Wacana forensik dan yudisial diarahkan pada seorang hakim. Subyeknya adalah tuduhan atau pembelaan. Wacana deliberatif diarahkan pada perkumpulan publik, yang didorong “untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.” Sebuah wacana dengan fungsi referensi dari pujian dan celaan disebut dengan penuturan epideiktik.

2)             Fase-Fase Dalam Produksi Wacana

a)             Inventio adalah penemuan gagasan-gagasan dan argumen-argumen. Sebuah sistem dari topik-topik

b)             Dispositio adalah organisasi efektif dari sebuah wacana. Ahli retorika Romawi merekomendasikan enam bagian: pengantar (exordium), penyataan pada kasus dan fakta (narratio), garis besar (divisio), argumen-argumen yang menegaskan (confirmatio) dan melawan (refutatio) kasus, dan kesimpulan (peroratio).

c)             Elocutio adalah pilihan kata-kata dan susunan sintaktiknya. Ini merupakan bidang dari gaya, trope, dan angka-angka.

d)            Memoria adalah senin dan teknik dalam mengingat sebuah penuturan. Dua alat mnemoteknik utama adalah hubungan gagasan-gagasan dengan tempat-tempat (loci) dan dengan gambaran-gambaran (cf. Rossi 1960, Yates 1966, Blum 1969, Eco 1989).

e)             Pronuntiatio mengajarkan penyampaian vokal dan isyarat yang efektif dari wacana (lihat Isyarat 2.3.3).

  1. 3.             Gaya Penulisan

Gaya seringkali didefinisikan dalam banyak artian yang lebih luas (tidak digunakan dalam artikel ini). Hill, contohnya, mendefinisikangayapenulisan sebagai studi bahasa diluar batas-batas dari kalimat (1958: 406). Gaya penulisan maka mencakup keseluruhan bidang dalam linguistik teks.

Gaya penulisan tidak dibatasi pada bahasa atau literatur. Didefinisikan sebagai perbedaan diantara pesan-pesan alternatif,gayabergantung pada kode. Oleh karenanya, kode-kode, seperti lukisan, arsitektur, atau kebiasaan, mengandung arti gaya-gayanya sendiri (cf. Uspenskij 1971a: 445). Ini membuatgayasebuah fenomena pansemiotik, sekalipun identifikasi darigayapenulisan dan semiotik (teks) ditolak.

  1. IV.             LITERATUR

Semiotik dalam literatur mempelajari spesifik dari tanda-tanda dan sistem-sistem literal. semiotik literatur menunjukan adanya saling tumpang tindih terutama dengan semiotik puitik dan estetik. Juga, semiotik literatur tidak selalu jelas dibedakan dari semiotik teks sebagai sebuah keseluruhan.  Bab ini akan berfokus pada teori-teori semiotik dalam kesusasteraan.

Semiotik dalam literatur memiliki akar-akarnya dalam linguistik dan strukturalisme semenjak FormalismeRussia. Disamping beragam pendekatan-pendekatan semiotik pada literatur, semiotik literatur hanyalah salah satu diantara beberapa teori literatur modern lainnya. Perbedaan dalam aliran-aliran semiotik dan tradisi telah mencegah sebuah konsensus umum mengenai inti dari literatur.

Wacana mengenai literatur, yaitu kritik sastra, secara umum mengambil dua arahan, penafsiran (atau interpretasi; cf. Hermeneutik) dan teori. Semiotik dalam literatur adalah sebuah teori, tetapi dalam aplikasinya menjadi sebuah metoda dari penafsiran.

  1. V.                PUISI DAN KEPUITISAN

Studi semiotik mengenai puisi dalam artian yang lebih sempit adalah bagian dari semiotik dalam literatur. Puisi juga kadang-kadang menjadi topik dalam studi dibawah judul semiotik dan puisi. tetapi yang lainnya (cf. Todorov 1968, Culler 1975), puitik mencakup keseluruhan bidang dalam literatur (cf. Retorika 1.1). Kepuitisan juga didefinisikan sebagai sebuah fenomena semiosis yang lebih umum, terjadi di dalam dan diluar literatur dan bahkan bahasa (lihat, misalnya, Film; cf. Ejxenbaum, ed 1927). Jakobson mendefinisikannya sebagai sebuah fenomena pansemiotik (1960: 351). Dalam artian yang lebih luas, semiotik dari kepuitisan bertemu dengan estetika semiotik. Poin-poin kontak ini membuatnya tidak mungkin untuk membatasi kepuitisan secara jelas dari area-area yang berhubungan dalam bidang semiotik.

Dua posisi dasar telah secara dasar mendominasi debat semiotik dalam inti dari puitik (cf. Koch 1983). Seseorang mempertimbangkan kepuitisan sebagai sebuah fungsi tekstual atau sebuahgayadalam komunikasi; yang lainnya menggambarkannya sebagai sebuah struktur tekstual. Untuk integrasi dari kedua prinsip didalam satu model semiotik dalam kepuitisan

Jakobson (1933a) memperkenalkan konsep dalam kepuitisan. Baginya, kepuitisan adalah sebuah sinonim dari fungsi puitik. Dalam pandangan ini, kepuitisan adalah sebuah fenomena semiotik yang dapat terjadi pada beragam tingkatan sebagai sebuah fungsi dari teks. Puisi, disisi lain, mengandung arti kepuitisan, tetapi, sebagai tambahan, evaluasi dalam sebuah teks sebagai puisi bergantung pada kaidah-kaidah literal dari sebuah era tertentu. Jakobson, oleh karena itu, menyimpulkan: “Studi linguistik dalam fungsi puitis harus melangkahi batas-batas dari puisi, dan, disisi lain, penelitian linguistik dalam puisi tidak dapat membatasi dirinya sendiri pada fungsi puitis”

Sesuai dengan teori semiotik dalam literal dan otonomi estetik, Jakobson mendefinisikan pesan puitik sebagai ototelik, yaitu, tidak memiliki fungsi lainnya disamping dirinya sendiri.

Secara umum, alat-alat struktural dalam puisi telah ditempatkan pada dua tingkat analisis linguistik 1) Pada tingkat ekspresi, ciri spesifik dalam puisi secara umum telah menjadi pengulangan fonetik dalam bentuk rima, aliterasi, atau struktur-struktur prosodik. 2) Pada tingkat isi, puisi secara umum telah didefinisikan dipandang dari sudut deviasi semantik, khususnya didalam retorika dan gaya penulisan.

  1. VI.             TEATER DAN DRAMA

Teater adalah topik dalam banyak dimensi-dimensi semiotik. Barthes menggambarkannya sebagai sebuah “polifoni informasional” dan mencirikan secara teater oleh “kepadatan tanda-tanda”  tertentu (Barthes 1964b: 262). Sebagai presentasi, teater memiliki ciri dari sebuah tanda, menunjukan satu hal sebagai pengganti hal lainnya (Eco 1975: 34). Sebagai tanda, teater berpartisipasi dalam proses-proses dari komunikasi estetik. Seperti drama dan pertunjukan, teater menunjukan tanda-tanda ikonik dan indeksikal; sebagai drama, teater memiliki struktur-struktur aktansial tertentu; sebagai teks tertulis dan performa visual dan non verbal, teater adalah sebuah kode yang berpartisipasi dalam gaya-gaya semiosis lainnya. Karena beragam persimpangan ini dengan topik-topik dan kode-kode yang dibahas dalam bagian-bagian dalam estetika dan komunikasi visual dan non verbal, semiotik dalam teater melampaui bidang dalam semiotik teks dalam artian yang lebih sempit.

  1. 1.      Patokan

Kontribusi pada semiotik dalam teater telah datang dari aliran-aliran individu dalam semiotik, dan baru-baru ini dari penulis yang telah mencoba sintesis pluralistik dalam beragam pendekatan. Survey umum dalam bidang keseluruhan diberikan oleh Wittig (1974), De Marinis & Magli (1975), Ertel (1977), de Lauretis (1979), Elam (1980), Lewis (1981), De Marinis (1982: 9-23), Pavis (1982: 11-21), dan Esslin (1987).

            Aliran-Aliran Semiotik Dalam Penelitian Teatrikal

Studi-studi semiotik awal mengenai teater dimulai pada tahun 1930-an dan 40-an didalam estetika Aliran Praha. Diantara kontributornya adalah Zich (1931: cf. Steiner & Volek 1978), Bogatyrev (1931; 1938; 1940), Brusak (1939), Honzl (1940), Veltrusky (1940; 1978; 1984a), dan Mukarovsky (1941). Untuk survey secara umum lihat Deak (1976), Matejka & Titunik, eds (1976: xi-xv), Slawinska (1978),Elam(1980: 5-19) dan Veltrusky (1981). Aliran-aliran lainnya dalam semiotik mengembangkan kontribusi-kontribusi baru pada studi teater hanya beberapa dekade kemudian.

Teori informasi dan linguistik matematik adalah model-model dari analisis untuk serangkaian studi-studi: Frank (1959), Balcerzan & Osinski (1966), Dinu (1968; 1972), Schraud (1966), Marcus (1970; 287-370; 1975), Ruffini (1973), dan Marcus, ed (1977). Dari sudut pandang glossematik Hjelmslev, Jansen (1968) menggariskan sebuah semiotik dalam drama. Sementara studinya berkaitan terutama dengan tes tertulis, Kowzan (1968; 1975), terinspirasi oleh semiologi Saussure, yang meluncurkan sebuah teori dalam kode-kode teatrikal.

            Pendekatan-Pendekatan Pluralistik

Menurut Alter, pendekatan-pendekatan semiotik pada teater berkaitan dengan “dua kategori dalam tanda-tanda” yang penulis sebut sebagai tanda-tanda verbal dan tanda-tanda pementasan (1981: 113-14). Studi-studi teater seringkali mengabaikan

salah satu dari dua dimensi semiotik dan maka menjadi korban dari satu atau dua “kesalahan”: Kesalahan literal membawa pada asimilasi dari teater kepada hanya teks dan hasil-hasil dalam reduksinya pada status dari sebuah genre literatur tertentu. Kesalahan dalam penampilan, sangat populer, membawa pada asimilasi dalam teater pada hanya performa, dan hasil-hasil dalam reduksinya pada status dari sebuah genre tertentu dari pertunjukan”. Usaha untuk mengatasi kesalahan tersebut dalam sebuah pendekatan holistik pada media barangkali salah satu dari ciri-ciri yang paling umum dalam pendekatan-pendekatan semiotik pada teater.

  1. 2.      Komunikasi Dalam Teater

Mounsssin (1970b) mengajukan tesis provokatif bahwasanya tidak terdapat komunikasi dalam semiosi teatrikal. Argumen ini membawa pada sebuah diskusi yang luas mengenai dasar teoritis komunikasi dalam teater (De Marinis 1975, Helbo 1975a, Ubersfeld 1977:  40-57, Ruffini 1978: 71-79, Elam 1980: 32-38, Helbo 1981, Fischer-Lichte 1983a: 189-94).

                             Teater Dan Semiotik-Semiotik Dalam Komunikasi

Dengan menyangkal sifat komunikatif dalam semiosis teatrikal adalah dipahami hanya dipandang dari sudut konsep-konsep dalam komunikasi dan signifikasi yang dikembangkan oleh aliran fungsional semiotik dari Buyssens, Prieto, dan Mounin. Teori ini menyatakan intensionalitas, bidireksionalitas, dan sebuah kode yang umum pada pengirim dan penerima sebagai kriteria dalam sebuah semiosis komunikasi (q.v.2.4). Mounin menyatakan bahwa interaksi semiotik tidak terjadi diantara audiens dan aktor-aktor dalam sebuah pertunjukan teatrikal (1970b: 91).

                            Model-Model Dalam Komunikasi Teatrikal

Secara prototip, semiosis teatrikal terdiri dari dua sistem yang saling bersambung atau bingkai-bingkai dalam komunikasi (cf. Pfister 1977: 21, Koch 1988: 4). Bingkai dalam adalah komunikasi dalam panggung. Ini sebuah pertukaran bidireksional secara esensial dalam pesan-pesan diantara sekurangnya dua aktor. Bingkai luar terdiri dari pesan penulis (yang tanda-tandanya adalah aktor) pada audiens teatrikal. Aliran komunikasi ini adalah unidireksional secara permukaan, tetapi jika beragam pesan-pesan feedback dari penonton pada penulis dipertimbangkan, sistem luar ini memiliki aspek-aspek bidireksional, juga. Analisis yang lebih komprehensif dalam komunikasi dalam teater telah seringkali dilakukan dalam dasar model Jakobson dalam fungsi-fungsi komunikatif (misalnya, Revzine & Revzine 1971). Untuk fungsi-fungsi ini dalam semiosis teatrikal, lihat juga Pavis (1976: 23-25), Pfister (1977: 149-68), Ubersfeld (1977: 42-44), dan Veltrusky (1978: 576-92). Elam mengembangkan sebuah “model komunikasi teatrikal” yang lebih kompleks (1980: 39).

  1. 3.      Tanda Teatrikal

Obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, dan akting-akting diatas panggung memiliki ciri dari sebuah tanda, apa saja struktur dari tanda-tanda tersebut, dan tipe-tipe tanda apa yang digunakan dalam pertunjukan teater?

                     Transformasi Semiotik Diatas Panggung

Esensi dari tanda teatrikal dan dinamika-dinamika semiotik adalah sebuah topik pengulangan dari semiotik-semiotik teks Praha (cf. Bogatyrev 1936; 1938, Veltrusky 1940, 1981; untuk ringkasan lihat Elam 1980: 3-19). Untuk kaum strukturalis Praha, teater adalah sebuah tempat dari transformasi semiotik: Obyek-obyek materi, peristiwa-peristiwa, dan prilaku yang memiliki sebuah fungsi praktis, non semiotik dalam kehidupan sehari-hari ditransformasi kedalam tanda-tanda dengan dipresentasikan dalam konteks estetika dalam panggung.

                       Struktur Dari Tanda Teatrikal

Obyek-obyek, orang-orang, dan prilaku mereka adalah penanda dalam tanda-tanda teatrikal yang dibentuk oleh ciri-ciri panggung, aktor, dan akting.

                     TANDA-TANDA DALAM OBYEK DAN TANDA-TANDA DALAM TANDA-TANDA

Berkaitan dengan tanda-tanda yang dibentuk oleh obyek, Bogatyrev membedakan diantara tanda-tanda dalam obyek-obyek dan tanda-tanda dalam tanda-tanda (1938: 33-34). Tanda-tanda dalam obyek, misalnya, sebuah kartu yang menunjukan sebuah gambar ‘rumah batu’, menyiratkan hanya sebuah transformasi dari non semiotik pada semiotik. Tanda-tanda dalam tanda-tanda, misalnya, sebuah kostum adat menunjukan pertama-tama sebuah nasionalitas dan kedua sebuah status sosial, mentransformasi obyek non semiotik (“sepotong pakaian”) dua kali kedalam unit-unit dalam makna kultural. Ini merupakan proses semiotik yang Hjelmslev telah mencirikan sebagai sebuah semiotik-semiotik konotatif. Dalam tingkat-tingkat makna konotatif tersebut dalam teater, lihat juga Ubersfeld (1977: 33-35) dan Elam (1980: 10).

                    AKTOR REFERENSI-DIRI

Berkaitan dengan aktor-aktor dan akting. Veltrusky menekankan bahwa “materi yang aktor gunakan adalah aktor diri itu sendiri, ciri-cirinya sendiri dan kemampuan-kemampuan” (1978: 554). Penanda, manusia dan prilakunya, dan yang ditandakan, merepresentasikan orang dan tindakan-tindakannya, adalah ciri yang sama: “Bahkan konsep dalam kesamaan dalam arti semiotik yang paling sederhana dari kemiripan cenderung, oleh karena itu, untuk memberikan cara pada gagasan dalam kesamaan.” Aspek ini dalam referensi-diri juga ditekankan oleh Ubersfeld, yang menyatakan bahwa tanda teatrikal memiliki tiga referensi, (1) di dalam dunia yang direpresentasikan secara teatrikalm (2) di dalam dunia ekstra teatrikal dan, (3) dalam eksistensi materinya sendiri (1977: 37).

                    POLISEMI MULTIMEDIAL

Tanda-tanda teatrikal maka pada dasarnya adalah polisemi. Sebagai sebuah sumber dari polisemi ini, Ubersfeld membahas perbedaan-perbedaan semiotik yang mungkin diantara teks teatrikal sebagai naskah tertulis, disisi lain, dan sebagai performa, disisi lainnya (1977: 35-36). Dalam interpretasinya, kedua bentuk dari teatrikal menyusun dua tanda-tanda triadik independen secara potensial (dengan penanda, yang ditandakan, dan referensi).

  1. 4.      Kode Teatrikal Dan Kode-Kode Dalam Teater

Kaidah-kaidah dalam pertunjukan teater menyusun kode teatrikal, tetapi teater adalah sebua media yang menggunakan banyak kode yang memiliki sebuah eksistensi semiotik diluar panggung.

                   Kode Teatrikal

Kaidah-kaidah semiotik yang menyusun kode dan sistem dalam teater dibahas secara rinci oleh Ertel (1977), Elam (1980: 49-87). De Marinis (1982: 113-38), dan Esslin (1987).

                   KODE DAN SISTEM

Dengan mengikuti Coseriu (lihat Sistem 2.2.3), Fischer-Lichte membedakan diantara kode teatrikal sebagai sistem, sebagai norma, dan sebagai penuturan (1983a: 21-23). Sebagai sistem, kode teatrikal terdiri dari semua unsur-unsur semiotik, kode-kode dan sub kode yagn dapat digunakan dalam pertunjukan teater.

                      Kode-Kode Dalam Teater

Kowzan mempertimbangkan kode-kode berikut menjadi konstituen umum dalam pertunjukan-pertunjukan teater (1968; 1975;167-221): (1) kata, (2) nada (lihat Paralinguistik), (3) mimik wajah (lihat Sinyal-Sinyal Wajah), (4) isyarat (q.v.), (5) gerakan (lihat Kinesik), (6) tata rias, (7) gaya rambut, (8) kostum, (9) aksesoris panggung, (10) dekorasi, (11) pencahayaan (cf. Russell 1978), (12) musik (q.v.), dan (13) efek suara.

  1. 5.      Konstelasi Aktansial Dalam Drama

Sejumlah studi telah mengembangkan atau meneraplan model-model semiotik untuk menganalisis adegan-adegan dan proses-proses drama. Model Souriau (1950) mengenai fungsi-fungsi drama dibahas oleh Greimas (1966: 201-215) sebagai sebuah pendahulu dalam sebuah semotik tesk dalam drama. Sebuah pembahasan dalam konstelasi aktansial Souriau juga dicakup dalam semiotik Elam mengenai teater (1980: 126-34). Pavis (1976: 67-78) dan Segre (1981) meneliti struktur-struktur dramatik dalam adegan dari sudut pandang naratologi semiotik. Ubersfeld menerapkan model aktansial Greimas dalam studinya yang lebih komprehensif mengenai konstelasi dramatik (1977: 58-150) dan memberikan juga garis besar pada sebuah teori semiotik teks dalam karakter, sebuah topik dimana Hamon (1972) mendedikasikan sebuah studi awal. Elam (1980) memperluas penelitian dalam logika drama dengan menerapkan model-model dari logika dunia-dunia yang mungkin dan filosofis teori dalam adegan.

  1. VII.          NARATIF

Semiotik naratif telah menjadi sebuah area klasik dalam semiotik teks. Bidang terdekat adalah semiotik literatur, tetapi naratologi, teori naratif, juga berkaitan dengan naratif non literal. Dalam dasarnya, naratologi semiotik juga dipengaruhi oleh analisis struktural dalam mitos. Dengan mengikuti sebuah tradisi yang dimulai dengan kaum Formalisme Russia (Propp) dan strukturalisme dalam antropologi (Levi-Strauss; lihat Mitos 2), penelitian semiotik teks telah memberikan perhatian khusus pada unit-unit minimal dari sebuah naratif dan prinsip-prinsip dalam kombinasi mereka ke dalam sebuah tata bahasa dalam plot.

  1. 1.      Dasar-Dasar Naratologi

Naratifitas, ciri spesifik dari sebuah teks naratif, adalah sebuah subyek dari penelitian antar disiplin yang dikenal juga sebagai naratologi.

1.1 Survey Dalam Naratologi

Naratifitas diperluas diluar lingkup dari sebuah genre spesifik dan media ekspresi. Didalam bidang antar disiplin dari naratologi, beberapa pendekatan telah dibedakan disamping perbedaan semiotik.

  1. Lingkup Naratifitas
  2. Lingkup Naratorogi
  3. Pendekatan-pendekatan Semiotik pada Naratifitas

1.2 Naratif Dan Naratifitas

Dengan referensi pada teori kaum Formalis dalam kesusasteraan, ahli naratologi semiotik telah mengajukan untuk mempelajari naratifitas (sebagai pengganti “naratif”) sebagai ciri khusus dalam wacana naratif (cf. misalnya, Cerisola 1980: 109). Inti dari naratif telah didefinisikan dalam hubungannya dengan beragam gaya-gaya lainnya dalam wacana.

1.3 Naratifitas Dalam Cerita Dan Wacana

Ahli naratologi mengakui kepentingan dari membedakan diantara wacana naratif dan peristiwa-peristiwa yang dinarasikan. Perbedaan ini pertama-tama dibahas dalam bentuk dikotomi, seperti mitos vs. mimesis dari Aristoteles (cf. Ricouer 1983: 31-35) atau baru-baru ini cerita dan alur (atau wacana). Kemudian, beragam perluasan dari perbedaan dasar ini diajukan (cf. Stierle 1975: 49-55, Segre 1979c: 1-56, Schmid 1984).

  1. Cerita dan Wacana.
  2. Tingkat Analisis Naratologi Berther
  3. Teori Gennete Mengenai Wacana Naratif.
  1. 2.      Pencarian Dari Narim

Motif, motifim (Dundes 1962: 101; Dolezel 1972), mitim, narim, naratif minimal (Labov & Waletzky 1967, Dorfman 1969), cerita minimal, dan cerita inti (Prince 1973; 1982) adalah konsep-konsep yang telah diajukan dalam mencari sebuah konstituen minimal dalam naratif (cf. Kongas & Maranda 1971: 21). Dua pendekatan pada masalah ini dapat dibedakan: Pertama adalah penetapan sebelumnya dalam narim dalam dasar sebuah logika tindakan dasar, dan yang kedua adalah pendekatan sesudahnya, yang berasal dari narim dengan deduksi dari sebuah kumpulan dalam naratif.

 2.1 Unit Dasar Dalam Tindakan

Dari sudut pandang logika dalam tindakan, ahli naratologi telah mendefinisikan narim sebagai unit-unit yang sesuai dengan satu, dua, atau tiga pernyataan.

  1. Pandangan Monadik.
  2. Pandangan Diadik dan Triadik Pada Narim.

   2.2 Definisi Berbasis-Kumpulan Dalam Narim

Morphology of the Folktale (1928) dari Propp adalah titik tolak dari sebuah naratologi yang berasal dari unit-unit dasar dari teks naratif sebagai sebuah keseluruhan dan/atau dari sebuah kumpulan dalam naratif. Dengan metoda formalisnya. Propp menemukan sebuah naratologi struktural yang beralih dari sebuah pendekatan etik pada sebuah pendekatan emik pada struktur naratif (Dundes 1962; cf. Strukturalisme 1.1.3). Pengaruh Propp pada Levi-Strauss dan studi struktural pada mitos, lihat Levi-Strauss (1973: 115-45) dan Mitos (2).

  1. Fungsi-Fungsi Propp.
  2. Motif dan Motifim
  3. Fungsi-Fungsi Barthes.
  1. 3.      Sintaks Naratif Dan Makrostruktur

Aturan-aturan dimana narim dapat dikombinasikan kedalam sebuah naratif membentuk sintaks naratif. Struktur semantik global dalam sebuah naratif, dapat, contohnya, diekspresikan dalam bentuk sebuah ringkasan, seringkali disebut sebagai makrostruktur (cf. Dijk 1972: 3.2).

3.1 Sintaks Naratif

Titik tolak berpengaruh lagi-lagi berasal dari Propp. Sintaks naratifnya dikembangkan lebih jauh oleh Bremond, Greimas dan banyak ahli naratologi lainnya.

  1. Rangkaian-Rangkaian Naratif Propp.
  2. Sintaks Keputusan Bremond.
  3. Model Aktansial Greimas.

     3.2 Makrostruktur Naratif

Waktu dan kausalitas sebagai dimensi-dimensi dasar dalam proses naratif (cf. Ricceur 1983-84) menunjukan sebuah makrostruktur linear dalam narataif. Rangkaian-rangkaian seperti “keadaan awal → transisi → keadaan akhir” (cf. Dijk dkk 1972: 17) atau masalah → solusi” (cf. Todorov 1969: 76) menunjukan linearitas dalam makrostruktur naratif. Kebanyakan ahli naratologi, bagaimanapun juga, menyetujui naratif-naratif yang pada dasarnya mengacu pada rangkaian-rangkaian peristiwa dimana peristiwa terakhir secara semantik berhubungan dengan peristiwa awal.

  1. 4.      Diluar Sintaks, Semantik, Dan Struktur Verbal

Diluar sintaks naratif dan semantik, pendekatan-pendekatan semiotik pada naratologi berkaitan dengan pragmatik dalam wacana naratif dan dengan naratifitas dalam media non linguistik.

4.1 Pragmatik Dalam Naratifitas

Perkembangan baru-baru ini terhadap sebuah pragmatik dalam naratifitas dibahas oleh Prince (1983). Sebuah pendekatan pada struktur-struktur komunikasi naratif, berdasarkan pada glosematik Hjelmslev, digariskan oleh Janik (1985). Wienold (1972) mengembangkan sebuah pragmatik dalam naratifitas didalam teori pemrosesan teksnya, yang merupakan sebuah varian semiotik teks dalam teori resepsi literal (cf. Holub 1984). Wienold memperhatikan bukan pada “struktur-struktur teks” tetapi lebih kepada struktur-struktur dari reaksi-reaksi pembaca pada naratif (1972: 65, 82; cf. Gulich & Raible 1977: 280-305). Dua strategi dalam pemrosesan teks digambarkan sebagai umum dalam naratifitas oleh Wienold: penyusunan kembali tekstual, dimana pembaca membentuk kembali peristiwa-peristiwa yang dinarasikan dalam rangkaian logis mereka, dan komitmen resipien (Rezipientenengagement), yang menggambarkan keterlibatan emosional pembaca dalam situasi-situasi naratif seperti horor atau ketegangan. Untuk sebuah teori semiogenetik dalam ketegangan naratif, lihat Koch (1985).

4.2 Narativitas Dalam Media

Dalam semiotik mengenai komunikasi visual, spesifik dalam naratifitas telah dipelajari khususnya dalam bidang-bidang film (Metz 1968, Chatman 1978; 1980, Scholes 1982: 57-72) dan komik-komik (Hunig 1974, Mathieu 1977: 257 dengan kepustakaan). Untuk naratifitas dalam pengiklanan, lihat Pengiklanan.

  1. VIII.       MITOS

Mitos adalah sebuah fenomena dasar dalam kebudayaan manusia. Relevansi fundamentalnya pada ilmu-ilmu dari manusia telah membuatnya sebuah obyek dari studi dalam penelitian antar disiplin. Interpretasi modernn dalam mitos dimulai pada tahun 1725 dengan New Science dari Vico (cf. Hawkes 1977: 11-15). Dengan Levi-Strauss, mitos menjadi sebuah obyek istimewa dari semiotik teks. Dimulai dengan Barthes, mitos telah diinterpretasikan sebagai sebuah fenomena semiotik dari kebudayaan sehari-hari. Untuk survey-survey penelitian dalam mitos dan mitologi lihat Sebeok, ed (1955), Maranda, ed (1972), Dupre (1973), Bolle (1974), Calame (1982), Hendricks (1982), dan Hubner (1985).

  1. 1.      Definisi Umum Dari Mitos

Mitos (dari bahasa Yunani, ‘kata’, ‘penuturan’, ‘cerita dewa’) “dapat didefinisikan sebagai sebuah cerita atau sebuah gabungan dari unsur-unsur cerita yang diambil sebagai mengekspresikan, dan oleh karena itu sebagai secara implisit menyimbolkan, aspek-aspek yang mendalam dalam eksistensi manusia dan transmanusia” (Wheelwright 1974: 538).

  1. Mitos Sebagai Sebuah Naratif Metaforik
  2. Mitos, Sains, Dan Kebenaran
  3. 2.      Analisis Struktural Levi-Strauss Mengenai Mitos

Levi-Strauss mengembangkan sebuah metoda struktural dalam analisis mitos yang menjadi paradigmatik untuk semiotik teks, pada khususnya semantik struktural Greimas dan teori semiotik dalam naratifitas. Untuk survey dan aplikasi dari metoda ini lihat Greimas (1970: 117-34), Kongas Maranda & Maranda (1971), Culler (1975), dan Hawkes (1977).

  1. Mitos Sebagai Sebuah Sistem.
  2. Logika Motologi
  3. 3.      Mitos Sehari-Hari

Dengan buku Mythologies (1957) nya, Bathes menemukan sebuah pendekatan semiotik pada kebudayaan modern yang mendefinisikan mitos bukan sebagai sebuah bentuk dari naratif, tetapi sebuah fenomena dari kehidupan sehari-hari (lihat Barthes 2, Hervey 1982: 139-48, Lavers 1982: 113-27).

  1. Mitos Sebagai Sebuah Sistem Semiotik Sekunder.
  2. Dari Moitoklasma ke Semiklasma.
  3. 4.      Kesadaran Mitologi

Mitos dan mitologi juga berada diantara topik dominan dalam semiotik Soviet (cf. Ivanov 1978b). Dalam tradisi ini, Lotman & Uspenskij mendefinisikan pemikiran mitologi seabgai sebuah fenomena umum dalam kesadaran manusia (1974: 5): Dunia mitologi tampaknya tersusun dari obyek-obyek holistik yang merupakan (a) tidak terintegrasikan kedalam hirarki, (b) tanpa ciri-ciri struktural, dan (c) singular. Dalam sebuah dunia tersebut, tanda-tanda tampak sebagai analogi pada kata benda-kata benda yang sesuai. Nama-nama tanpa ciri-ciri semantik, semata-mata mendenotasikan obyek-obyek, dan, menurut Lotman & Uspenskij, diidentifikasi dengan yang dinamakan. Dengan ciri-ciri ini, kesadaran mitologi diinterpretasikan sebagai asemiotik: “Mitos dan nama yang secara langsung berhubungan dalam sifat mereka [. . .]: Mitos adalah personal (nominasional), dan nama adalah mitologi”. Dalam perspektif ini, kesadaran mitologi dalam sejarah kebudayaan “dimulai untuk diterima sebagai sebuah alternatif pada pemikiran semiotik”, kadang-kadang bahkan sebagai sebuah penyangkalan pada sistem-sistem tanda.

  1. IX.             IDEOLOGI

Studi ideologi membawa semiotik kedalam kontak antar disiplin dengan filsafat dan ilmu sosial. Sebagai sebuah sains, ideologi telah berhubungan dengan semiotik modern semenjak sejarah awalnya. Saat ini, analisis semiotik dalam ideologi adalah sebuah topik pengulangan dalam semiotik-semiotik teoritis dan semiotik-semiotik teks, khususnya dalam studi semiotik kritis dalam media massa.

 

  1. 1.      Makna Ideologi

Istilah ideologi pertama kali digunakan pada tahun 1796 oleh A. L. C Destut de Tracy untuk menunjukan sebuah empiris baru “sains dalam gagasan-gagasan” (cf. Rastier 1972a). Dalam Zaman Pencerahan, bahasa Perancis ideologues (lihat Sejarah 3.3.4; Busse & Trabant, eds 1986) mengembangkan “studi dalam asal-usul gagasan-gagasan” ini sebagai sebuah sains yang bebas dari metafisik dan prasangka keagamaan. Ketika Napoleon kemudian menyerang dan mencemooh filsuf-filsuf ini, konsep dalam ideologi dimulai untuk memperoleh sebuah konotasi negatif.

1.1  Konsep Nilai-Netral

Dalam makna nilai-netral, ideologi adalah sistem dari norma, nilai, keyakinan, atau weltanschauungen yang mengarahkan sikap-sikap sosial dan politik dan tidakan dari sebuah kelompok, sebuah kelas sosial, atau sebuah masyarakat secara keseluruhan. Dalam makna nilai-netral ini, ideologi kebanyakan didefinisikan oleh sosiolog Amerika (misalnya, Parsons; cf. Dierse & Romberg 1976: 178), tetapi bahkan Lenin menggunakan sebuah istilah nilai-netral ketika berbicara mengenai “ideologi sosialis”. Maka, baik itu sosialisme dan kapitalisme, nasionalisme dan agama adalah ideologi-ideologi dalam artian ini.

1.2  Makna Peyoratif

Makna peyoratif dalam ideologi kembali pada Marx dan Engels, yang mendefinisikan ideologi sebagai sistem dari gagasan-gagasan yang salah, yang menggambarkan kesadaran yang salah dari sebuah kelas sosial, khususnya kelas penguasa, borjuis. Gagasan-gagasan ini salah karena mereka membangkitkan kepentingan dalam sebuah kelas tertentu sementara berpura-pura tertarik pada masyarakat secara keseluruhan. Dalam artian ini, ideologi dilihat sebagai sebuah instrumen dalam kedustaan.  Kadang-kadang dihubungkan dengan mitos dan bertentangan dengan sains dan kebenaran. Mereka yang mengadopsi konsep ideologi evaluatif ini selalu menolak untuk mempertimbangkan sistem mereka sendiri dalam gagasan-gagasan sebuah ideologi. Bagi mereka, ideologi adalah pemikiran dari orang lain (cf. Nattiez 1973a: 72).

1.3  Makna Universalistik

Makna universalistik adalah versi yang jarang muncul dari konsep. Makna universalistik mengidentifikasi ideologi dengan bidang gagasan-gagasan secara umum. Dalam konteks Marksis, ideologi dalam makna ini kadang-kadang mengacu pada superstruktur dalam perlawanan dengan dasar materi dalam sebuah masyarakat. Bakhtin (dibawah pseudonim Volosinov) menggunakan ideologi dalam makna ini ketika dia menulis: “Segalanya ideologis [. . .] adalah sebuah tanda; tanpa tanda-tanda, tidak terdapat ideologi. [. . .] Domain ideologi bersamaan dengan domain tanda-tanda. [. . .]. Kapanpun sebuah tanda hadir, ideologi juga hadir. Ideologi memiliki nilai semiotik” (1930: 9010). Dalam artian ini, studi dari ideologi bergabung dengan semiotik.

  1. 2.      Pendekatan-Pendekatan Semiotik Pada Ideologi

Dengsan pengecualian, seperti Bakhtin, semiotik telah membahas ideologi sebagian besar sebagai sebuah konsep dengan konotasi negatif. (Untuk survey lihat Carontini & Peraya 1975: 133-73, Nattiez 1973a, Larrain 1980, Zima 1981, Heim 1983: 161-311, Nicholson 1986.). Tujuan dari argumen-argumen ini adlaah bahwa semiotik harus memberikan instrumen-instrumen ilmiah untuk menghancurkan atau sekurangnya mengungkap ideologi. Dalam semiotik terapan, studi semiotik teks untuk beberapa waktu diikuti dengan keyakinan dari kemungkinan yang pertama. Studi teoritis atau studi metasemiotik, bagaimanapun juga, seringkali mengakui ketidakmungkinan dalam sebuah pelarian dari ideologi.

2.1  Analisis Semiotik Terapan Pada Ideologi

Kepentingan dari semiotik teks dalam ideologi sebagai sebuah obyek dalam analisis diekspresikan oleh Rossi-Landi sebagai berikut: “Ini dengan sarana sistem-sistem tanda yang ideologi transmisikan dan refleksikan terhadap sistem-sistem tanda menjadi mungkin untuk menjelaskannya dalam mekanisme internal mereka” (1972: 9). Dua ahli semiotik yang terkemuka yang telah membuat pengajuan untuk program tersebut mengenai penjelasan ideologi adalah Barthes dan Eco.

2.1.1 IDEOLOGI SEBAGAI SEBUAH SISTEM SEMIOTIK SEKUNDER

Dalam studi kritisnya mengenai pesan dalam media massa, Barthes menggambarkan ideologi sebagai sebuah sistem semiotik sekunder yang berdasarkan pada prinsip konotasi (lihat Barthes 1): “Domain umum dalam yang ditandakan dari konotasi adalah ideologi, yang tidak dapat tetapi tunggal untuk sebuah masyarakat dan sejarah tertentu, tidak masalah penanda dari konotasi tersebut yang digunakan” (1964c: 49). Dalam deskripsi ini, konsep ideologi bergabung dengan mitos (q.v.3), dan tetap tidak jelas diantara dua konsep ini (cf. Silverman 1983: 30). Sebuah perbedaan yang mungkin dan paralel lebih jauh diantara ideologi dan mitos ditunjukan oleh Larrain (1980: 145, 150) dengan referensi pada teori Levi-Strauss (lihat Mitos 2): “Perbedaannya bertempat dalam fakta bahwa ideologi mencoba untuk memecahkan kontradiksi dengan alam.” Baik itu mitos maupun ideologi merupakan fenomena yang beroperasi dalam ketidaksadaran. (Cf. juga posisi Althuser, Strukturalisme 4.1)

Bathes memahami ideologi dalam makna peyoratif yang dibahas diatas. Sebuah masalah logis dengan definisi ini dalam mitos dan ideologi adalah nilai normatif dimana denotasinya diasumsikan ketika dilihat sebagai non ideologi dan non mitologi. Tidakkah perbedaan ini diantara sebuah “denotasi polos” dan sebuah “konotasi bias” mengandung arti sebuah sudut pandang ideologi itu sendiri? Revisi konsep Barthes kemudian (lihat Mitos 3.2, Barthes 2) mengambil dilema ini untuk dipertimbangkan. Untuk sebuah pembahasan ekstensif mengenai teori konotasi-konotasi ideologi, lihat Kerbat-Orecchioni (1977: 208-233).

2.1.2        KODE IDEOLOGI

Eco (1970) menggambarkan ideologi sebagai kode-kode yang menghasilkan pesan-pesan dengan  konotasi pada jenis tertentu. Menurut Eco, konotasi ideologi membentuk “pesan yang diperkuat, yang menjadi unit penanda dalam sebuah sub kode retorik” (1968: 173). Ideologi-ideologi “mencegah kita dari melihat beragam sistem semantik dalam totalitas dan hubungan bersama mereka” dengan membatasi bidang dari konotasi yang mungkin pada satu yang ditentukan oleh sub kode ideologi dan dengan menyembunyikan semua konotasi lainnya. Kemudian, Eco menggambarkan ideologi sebagai sebuah contoh dalam overcoding, yaitu, sebuah proses dimana makna-makna (sekunder) ditetapkan pada pesan-pesan yang dihasilkan oleh sebuah kode dasar (primer) (1976: 135, 290, cf Kode 3.3.4).

2.1.3        IDEOLOGIM

Untuk studi ideologi dalam teks-teks (literal), Kristeva memperkenalkan istilah ideologim (1969c: 113-14). Ideologim didefinisikan sebagai fungsi antar tekstual (cf. Kristeva 2.3) yang memberikan sebuah teks koordinat sosial dan sejarahnya dan menghubungkan teks dengan praktek-praktek penanda lainnya yang menyusun ruang kulturalnya. Analisis tekstual Kristeva (1970) menunjukan bagaimana ideologim kadang-kadang seperti sebuah paradigma semiotik (dalam artian Kuhn) atau epistim (dalam artian Foucault; lihat Strukturalisme 4.2.2) dalam sebuah periode budaya.

 

2.2      Refleksi Metasemiotik

Beberapa studi semiotik dimulai dengan asumsi dalam “karakter ideologi dalam setiap wacana” (Rossi-Landi 1968: 95). Dalam perspektif ini, wacana semiotik menjadi dirinya sendiri sebuah aktivitas ideologi secara potensi. Dari pertemuan ganda dalam semiotik dan ideologi, dalam obyek dan dalam metatingkatan, Rossi-Landi menyimpulkan “dalam satu sisi bahwa sebuah doktrin dari ideologi tanpa semiotik tidak mampu dalam mengartikulasikan dirinya secara memadai. [. . .]. Disisi lainnya, sebuah semiotik, tanpa dukungan dari sebuah doktrin dalam ideologi, tetap sebuah disiplin khusus, yang terpisah dari praksis, disamping dalam klaimnya menjadi sebuah teori tanda-tanda umum” (1972: 9). Sementara kebanyakan studi-studi semiotik menyetujui ketidakmungkinan dalam pengeluaran prinsip dari bias ideologi seseorang, mereka namun demikian menunjukan bahwa sebuah semiotik ilmiah mungkin mampu “menetralkan” bias ini.

2.2.1 IDEOLOGI SEBAGAI SEBUAH SAMARAN DALAM ALTERNATIF-ALTERNATIF STRUKTURAL

Prieto memberikan sebuah gambaran ideologi berdasarkan pada prinsip kegunaan strukturalis (1975b: 143-65) (lihat Strukturalisme 1.1.3). Dalam penelitian semiotik, prinsip ini mengungkap bahwa ciri-ciri khusus, dan struktur-struktur dalam sebuah obyek, tidak pernah memiliki dasar dalam obyek materi itu sendiri: “Cara sebuah subyek menerima sebuah obyek materi [. . .] mengandung arti sebuah cara tertentu dalam menerima obyek lainnya yang berasal dari bidang wacana lainnya”. Sesuai dengan prinsip Saussure mengenai struktur sebagai perbedaan, Prieto menyatakan bahwa pengetahuan obyektif dalam ilmu manusia memerlukan referensi pada sejarah dan keacakan dari pengetahuan, sebuah referensi yang mengungkap alternatif-alternatif pada obyek analisis. Dalam kontra perbedaan pada prosedur-prosedur analisis yang berbeda, ideologi berusaha untuk “menaturalkan” kognisi dari sebuah realitas materi, yaitu, untuk membuat pengetahuan tampak sebagai sebuah akibat yang penting dari obyeknya. Ideologi oleh karena itu menyamarkan dasar-dasar semiotiknya sendiri.

2.2.2        NETRALISASI ILMIAH DALAM IDEOLOGI

Veron, juga, mengakui bahwa ideal dalam pengetahuan ilmiah yang murni dan obyektif tidak akan pernah dapat diperoleh tetapi menunjukan penelitian ilmiah yang namun demikian mampu untuk menetralkan bias ideologinya. Menurut Veron, sebuah ideologi bukanlah sebuah pesan tetapi “sebuah sistem dalam aturan-aturan semantik untuk menghasilkan pesan-pesan,” yang ditransmisikan melalui “dimensi komunikasi” dalam konotasi (1971: 67-68; cf. 1973b; 1978). Ideologi adalah serupa dan bertentangan dengan sains (1971: 71): Kapanpun ilmuwan membuat pilihan-pilihan dasar yang mana secara ilmiah tidak dapat diverifikasi, keputusannya adalah ideologi. Tetapi sains, tidak seperti ideologi, membuat sebuah “usaha terhadap sebuah netralisasi dalam makna-makna konotatif yang membuat eksplisit keputusan yang menghasilkannya.”

2.2.3        SEMIOTIK OTOKRITIK

Dalam perspektif metasemiotik, Kristeva mengkritik beberapa kecenderungan formalistik dalam semiotik karena mengabaikan “pertanyaan dalam perkiraan atau ideologi yang mengesahkan aplikasi dalam formalisasi ini, dan pada akhirnya validitasnya dan kebenarannya” (1975: 703). Pada waktu yang sama, dia menekankan bahwa dengan mengkaji ideologi tersebut, semiotik “menyerang dirinya sendiri pada matriks-matriks yang sama yang memungkinkan proses kognisi: tanda, subyek, dan posisi sosiohistorisnya.” Pelariannya dari dilema metateoritis digariskan dalam pengajuannya untuk sebuah penelitian otokritik, yang secara konstan merefleksikan perkiraan teoritis dan ideologisnya (lihat Kristeva 1).

  1. X.                TEOLOGI

E. Cassirer, M. Eliade, dan Meschonnic (1975: 48) telah menekankan sebuah kedekatan dasar diantara tanda dan dimensi dalam kesakralan: “Model dari tanda adalah model dari kesakralan. Dimensi teologi dalam tanda merupakan sebuah topik inti dalam penafsiran injil dan visi pansemiotik abad pertengahan dalam alam semesta.

Sejarah semiotik dari zaman kuno akhir sampai abad pertengahan adalah bagian dari sejarah Gereja. Terdapat sebuah kesatuan dari filsafat dan teologi pada periode ini, sehingga kontribusi signifikan pada teori tanda-tanda dapat dibuat oleh Pendeta.

Semeion (cf. Charlier 1959, Rengstorf 1971), eikon (cf. Elstester 1958), dan imago (cf. Durig 1952, Otto 1963, Lange 1969) adalah konsep-konsep kunci semiotik dalam Injil yang mengacu pada tanda-tanda, simbol-simbol, dan gambar-gambar. Pada kitab Perjanjian Lama, tanda-tanda sebagian besar adalah indeks-indeks atau simbol-simbol.

 

BAB III

SIMPULAN

Pada bab VI ini Winfried Noth menjelaskan ranah kajian semiotik. Ranah kajian semiotik ini terpusat pada literatur/ teks dan memperkenalkan beberapa definisi utama dari teks dan kriteria tekstualitas.

Adapun teks yang dikaji pada awalnya adalah teks yang memiliki sifat estetis, seperti epik, lirik, puisi, atau drama, namun seiring dengan perkembangan penelitian semiotik, literatur yang dikaji kemudian meluas kepada ideologi dan teologi.

Demikian simpulan hasil baca ini, pelaksanaan diskusi yang saling mengisi sebagai tindak lanjut kegiatan membaca ini, menjadi sebuah harapan agar adanya peningkatan pemahaman mengenai buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: