Proses Kreatifku

EPISODE RAMA SINTA YANG HARUS SELALU DIAM

Telah aku salami dua buah malam seperti Musa menunggu dua lembar ayat tentang gunung-gunung, lembah, ngarai, samudra, gurun juga langit.

Wajahmu yang pernah tersembunyi dibalik bongkahan batu seakan menjadi sebuah irama liris juga terkadang dingin dan lembab.

– ya, sebelum episode pertama dimulai, sebagaimana kisah Rahwana mencabik-cabik Sinta, terlebih dulu aku tak pernah mencintai lembaran-lembaran dosa seperti yang pernah kau katakan.

Dalam diam kita memiliki keindahan: lukisan hutan cemara dengan cahaya matahari yang muncul diantaranya, siluet pohon-pohon jati diatas danau yang berwarnai kuning kemerahan dengan hembusan tipis angin juga lukisan para penari Barli.

Aku teringat ketika senja daun-daun berguguran dari ujung kerudungmu terbawa angin hingga kesudut tembok – tempat kita mencintai syair-syair Damono juga cerita Silelaki Tua dan Laut – disana daun-daun itu membusuk bahkan menjadikan kita sakit. Langit memang seakan terlalu lelah menyaksikan tubuh kita yang selalu diam.

Tiga buah musim pernah menangis karena percakapan kita tentang nama anak-anak kijang pada ceritamu yang tak pernah tumbuh sebagaimana cemara yang tertanam dibukit itu.

Akhirnya, ya diepisode terakhir kita Rama memang harus tak pernah bisa membunuh Rahwana dan kita memang harus selalu diam.

Lembang, Oktober 2003 

Lembaran 1

Pagi ini cahaya berbaris menimpa batang-batang cemara

Gundukan pasir terkikis air hujan kemarin sore

Cacing-cacing bergeliatan dalam Lumpur basah dan kau terlihat telanjang – berbaring didekat kolam seperti sebuah gambar yang pernah terlukis diantara mata anak-anak kijang

Lembang, Oktober 2003

Suatu Kali Di Bantaran Kali

Suatu kali aku katakan padanya kalau anaknya jatuh dari pohon mangga dan mati, tapi ia malah tersenyum bibirnya tetap tebal mirip sepatu bot milik bapak

Suatu kali aku katakan kalau istrinya diperkosa orang lalu mati, tapi ia malah tertawa kegirangan sambil ngeluyur pergi tak tahu kemana

Suatu kali aku katakan kalau rumahnya akan digusur tapi ia malah tersipu kemudian menjolorkan tubuhnya

Suatu kali aku katakan kalau ia akan mati, tapi ia malah merangkulku kemudian berkata “aku mencintaimu”

Suatu kali aku tak pernah menyatakan apapun padanya karena ia tak lagi pernah aapun.

Lembang, Oktober 2003

Episode 1

pertanyaan itu kembali menghantam mukaku hingga menyisakan waktu kapan kau hendak mengantarkan adam menjumpai malam yang berisi para bidadari dan iringan nyanyian daun-daun jambu selepas lidah itu berubah menjadi ular.

Areng 1 muharam 1433 h

Lembaran 2

menunggumu di sela-sela takbir: angin seperti bercerita tentang pohonan yang di tinggal daun, lumut yang mengering dan tanah yang mulai terbelah.

matamu seperti luka memerah menyimpan puluhan kata-kata yang mengiris kelopak sedikit-demi sedikit.

Malam seperti terbiasa menyimpan rahasia antara burung hantu dan katak di tepi kali

Aku malu : menghadapmu seperti luka yang menganga diiringi air mata dan suara jangkrik yang menggerit.

: kini aku absen karena tak sanggup mengeja kalimat yang keluar dari matamu
: ijinkanlah malam mengubah cerita yang telah kau tulis
: ijinkanlah malam melukis kembali cerita dua ekor anak kijang yang kau titipkan padaku

Mungkin cukup hingga hari ini

 

Mungkin cukup hingga hari ini

Aku simpan tanda ini

Sebagai sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab

Matamu kosong

Bagitu pula anak-anak di pinggir kali itu

Menunggu giliran tiba

sambil membawa selembar kain putih yang bertuliskan “ema ku mati hari ini “

Areng 2012

Mungkin cukup hingga hari ini

 

Mungkin cukup hingga hari ini

Aku simpan tanda ini

Sebagai sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab

Matamu kosong

Bagitu pula anak-anak di pinggir kali itu

Menunggu giliran tiba

sambil membawa selembar kain putih yang bertuliskan “ema ku mati hari ini “

Areng 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: