Proposal Tesis

1.             Judul Penelitian

ANALISIS STRUKTUR DAN NILAI BUDAYA CERITA-CERITA CURUG DI KABUPATEN BANDUNG BARAT DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR PADA MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA KELAS X

2.             Latar Belakang Masalah Penelitian

Zoetmulder dalam pengantar buku Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, mengungkapkan “seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya-karya seni mereka mengungkapkan  ide-ide religius, beserta pandangan mereka mengenai manusia dan alam semesta” (1994: XI). Bentuk-bentuk kesenian yang dimiliki bangsa Indonesia banyak rupa, diantaranya karya sastra yang banyak dibuat oleh para mpu, baik sastra lisan maupun tulis, keterampilan hingga menghasilkan arsitektur candi serta hasil budaya lainnya yang menjadi sebuah kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki budaya luhur.

Berpijak dari hal di atas, bangsa Indonesia seyogyanya menjadi bangsa yang memiliki kekuatan budaya, sehingga dengan besarnya arus kebudayaan lain yang masuk, masyarakat Indonesia telah memiliki pandangan yang baik untuk dapat memilih, bahkan mengeksplorasi dirinya menjadi individu yang memiliki kontribusi bagi perkembangan bangsa ini.

Namun, kondisi yang terjadi dewasa ini justru sebaliknya. Dari perspektif kebudayaan, perkembangan masyarakat saat ini justru mengalami kemerosotan. Lemahnya pertahanan budaya saat ini justru mengakibatkan masyarakat Indonesia kelimbungan, sehingga tidak bisa membedakan budaya mana yang seyogyanya dapat dipegang sesuai dengan karakteristik masyarakat timur dan budaya mana yang perlu dicerna. Dengan kondisi ini, maka dapat kita saksikan kemerosotan ekonomi, kericuhan politik, ketegangan dan keretakan sosial sehingga muncul perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, tawuran pelajar, emansipasi wanita yang kebablasan, bahkan sekarang ini bangsa Indonesia disibukan dengan maraknya aksi terorisme serta berbagai persoalan lainnya yang seyogyanya dapat dieliminasi oleh kita sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang luhur.

Perkembangan saat ini memang menjadi sebuah pijakan untuk dapat dilakukan perubahan. Sebagaimana apa yang diyakini oleh Faruk (2003:5) bahwa peradaban manusia suatu saat akan mengalami titik balik, setelah berabad-abad percaya bahwa sejarah umat manusia merupakan suatu kesatuan jaringan yang bergerak dan berkembang secara linear, menuju suatu puncak peradaban yang dinamakan sebagai modernitas tiba-tiba akan muncul suatu kepercayaan baru yang memperlihatkan kecenderungan yang sebaliknya. Keyakinan ini perlu dibarengi dengan sistem yang dapat menuntun masyarakat agar dapat menemukan kembali kekuatan budaya yang pernah dimiliki.

Sistem yang dimaksud di atas dapat berupa pola-pola dasar guna menuntun paradigma berpikir dan kepercayaan yang lebih kepada etic-religius, yang tidak hanya menekankan sisi kognitif, namun pula sisi afektifnya, dengan adanya penekanan pada sisi moralitas dan ketuhanan yang dapat tereksplorasi dalam diri manusia Indonesia, yang dalam hal ini dapat dilakukan oleh dimensi pendidikan.

Dalam sistem pendidikan di indonesia justru sisi kognitiflah yang lebih banyak mendapat kesempatan untuk dieksplorasi. Sebagai contoh penerapan pembelajaran lebih kepada hafalan, penilaian yang dilakukan oleh setiap guru dimaknai oleh nilai atau angka, sehingga peserta didik disibukan untuk ‘mengejar-ngejar’ nilai atau angka tersebut.  Selain itu sedikitnya waktu untuk mata pelajaran yang dapat mengimbangi sisi kognitif, seperti sastra, bahkan untuk mata pelajaran sastra tidak hanya sedikitnya waktu yang dialokasikan, namun pula keberadaan guru yang kurang memiliki wawasan bersastra, sehingga kesulitan dalam menentukan bahan ajar. Kondisi ini menjadi sebuah ironi bagi cita-cita luhur pelaksanaan pendidikan yang pada dasarnya merupakan proses ‘memanusiakan manusia’.

Apabila merujuk pada tujuan pendidikan nasional yang terkandung dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 yaitu

“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

maka,  mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, khususnya pembelajaran  sastra Indonesia memiliki kesempatan yang luas untuk menggali potensi siswa. Melalui kegiatan apresiasi, siswa dapat menggali, mengetahui, menghayati serta dapat mengaktualisasikan nilai-nilai sosial, budaya, agama dan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat mengantarkan siswa menuju kearifan, kebijaksaan hidup serta dapat membangun jiwa untuk mengenali, memilih, meyakini dan mengimplementasikan yang benar adalah benar serta yang salah adalah salah, karena karya sastra (sastra) senantiasa merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat (Nasution, 2009 : 2).

Mendukung pencapaian tujuan pendidikan di atas, sesuai dengan perkembangan yang terjadi, Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) yang sekarang dilaksanakan, secara eksplisit  menyatakan, bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, namun pula sebagai perencana pendidikan. Artinya, dalam konteks pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia, guru dapat menggunakan materi ajar yang sesuai dengan keterampilan dan pengetahuan yang diimikinya dan juga sesuai dengan domisili wilayah yang didiami. Salah satunya adalah cerita-cerita curug yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat, sebagaimana yang menjadi subjek dalam penelitian ini.

Cerita-cerita curug yang penulis maksudkan adalah cerita lisan yang dimiliki oleh sekelompok orang di wilayah masyarakat dan sekitarnya mengenai asal muasal penamaan sebuah air terjun (curug) maupun cerita yang muncul di seputar curug yang menjadi subjek yang peneliti teliti. Dalam penelitian ini peneliti meneliti lima cerita curug yang sebelumnya merupakan hasil perekaman dalam wawancara dan observasi. Kelima cerita curug tersebut adalah cerita yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua, yaitu cerita Curug panganten, cerita curug yang berada di Kecamatan Rongga adalah cerita Curug Malela, cerita curug yang berasal dari Kecamatan Lembang yaitu cerita Curug Maribaya, cerita curug yang berasal dari kecacmatan Cihampelas yaitu cerita Curug Jompong, dan cerita curug yang berada di Kecamatan Parongpong yaitu cerita Curug Sawer.

Bentuk pemerian nama pada curug-curug tersebut mengandung sebuah fenomena yang menarik, karena penamaan yang dilakukan terhadap beberapa curug tersebut tidak seperti curug lainnya yang lebih kepada berdasarkan kondisi toponimi atau kondisi geografis bentuk curug pada umumnya. Berdasarkan data awal yang berasal dari internet dan kabar sebagian masyarakat di sekitar tempat penelitian, penamaan curug tersebut disesuaikan dengan cerita yang muncul dan diyakini masyarakat sekitar, yaitu penamaan Curug Panganten yang pada awalnya bernama Curug Manglayang, namun karena ada cerita sepasang muda dan mudi yang tidak direstui oleh kedua orang tuanya untuk menikah dan terjun ke dalam curug tersebut, maka nama curug tersebut kemudian menjadi Curug panganten. Cerita Curug Malela diyakini masyarakat dengan adanya hubungan cerita Eyang Tajimalela sebagai sesepuh di wilayah tersebut yang memiliki kesaktian. Sementara Curug Sawer diyakini masyarakat sekitar dengan adanya cerita ketika adanya pelaksanaan saweran, adapun cerita curug Maribaya belum teridentifikasi oleh peneliti. Keberadaan cerita-cerita ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi peneliti.

Penelitian mengenai cerita ini telah dilakukan oleh  Agus Sugiharto dan Ken Widyawati yang melakukan analisis terhadap cerita Curug 7 Bidadari dengan judul Legenda Curug 7 Bidadari (Kajian Strukturalis Levi-Strauss) dalam sebuah makalah pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro tahun 2007. Penelitian mengenai cerita ini dilakukan dengan menggunakan teori Strukturalisme Levi-Strauss untuk mengungkap fungsi dan makna mitos Curug 7 Bidadari  bagi masyarakat Desa Keseneng.

Cerita Curug 7 Bidadari ini mengenai Jaka Tarub sebagai seorang pemuda desa dan Nawang Wulan sebagai bidadari. Dalam cerita ini konflik timbul ketika Si Jaka Tarub berambisi untuk memperistri salah satu bidadari dan pada saat sudah berumah tangga dengan Nawang Wulan yang merupakan salah satu bidadari. Konflik itu terungkap semua, dan selama ini ternyata yang menyembunyikan selendang itu adalah Jaka Tarub suaminya sendiri.

Penelitian terhadap Cerita Curug 7 Bidadari ini menyimpulkan adanya Pesan-pesan simbolik mitos Cerita Curug 7 Bidadari yang terdapat pada rangkaian struktur. Pesan-pesan simbolik ini, yaitu 1) kecantikan dan ketampanan adalah suatu anugrah, 2) niat buruk seseorang lama-kelamaan pasti akan tercium baunya, 3) manusia harus dapat mengontrol diri dan tidak mengikuti hawa nafsu, 4) status seseorang tidak dipandang dari keturunan, kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan dan 5) manusia diharapkan selalu berada pada kondisi tidak berlebihan.

Penelitian yang sejenis pula pernah dilakukan oleh Anita Andriana tahun 2010 sebagai sebuah Skripsi di Universitas Pendidikan Indonesia. Penelitian yang dilakukan Anita Andriana ini pada cerita Curug Santri  dengan judul Curug Santri di Kabupaten Karawang: Analisis struktur, konteks penceritaan, dan fungsi sosial. Anita Andriana memposisikan cerita Curug Santri ini ke dalam genre sastra lisan, tepatnya yaitu legenda.

Cerita Curug Santri ini mengisahkan tentang lima orang santri yang mendapat perintah untuk pergi mencari sumber air ke gunung. Kelima santri ini kemudian mendapatkan sebuah Curug yang kemudian aliran air rakyat tersebut diaarahkan ke pondok pesantren untuk kebutuhan sehari-hari.

Penelitian terhadap cerita Curug Santri ini menyimpulkan bahwa dari analisis yang telah dilakukan, terdapat pesan simbolik, yaitu seseorang harus melaksanakan amanat yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya. Berbeda dengan cerita Curug 7 Bidadari yang merupakan cerita legenda Jaka Tarub yang sudah dikenal masyarakat luas, cerita Curug Santri ini merupakan cerita dengan tokoh masyarakat biasa, yaitu sebagai seorang santri.

Memperhatikan cerita di atas, ketertarikan peneliti untuk meneliti cerita-cerita ini semakin timbul karena karakteristik cerita-cerita tersebut berbeda. Apabila cerita Curug Panganten dan Curug sawer memiliki tokoh manusia biasa seperti cerita Curug Santri, sementara cerita Curug Malela memiliki tokoh yang sakti, dalam artian struktur yang dimiliki hampir sama dengan cerita Curug7 Bidadari.

Hal lain yang menjadi alasan peneliti untuk meneliti cerita-cerita curug di Kabupaten Bandung Barat ini adalah sebagai sebuah proses kajian dan pendokumentasian sebuah cerita yang hidup di dalam masyarakat tempat tinggal peneliti, yaitu Bandung barat, yang dalam hal ini peneliti belum temukan dalam bentuk makalah, Skripsi maupun Tesis, serta hasil pengkajian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran apresiasi sastra, untuk SMA kelas X.

3.             Fokus Masalah Penelitian

Cerita yang peneliti teliti adalah cerita yang melatarbelakangi penamaan curug maupun cerita yang ada di seputar curug yang menjadi subjek penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti hanya mengambil cerita dari lima tempat, yaitu dari Kecamatan Rongga, Kecamatan Cihampelas, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Cisarua, dan Kecamatan Lembang. Pemilihan daerah penelitian ini didasarkan pada anggapan bahwa kelima kecamatan tersebut dapat mewakili wilayah Bandung Barat, waktu yang dimiliki peneliti dalam melakukan penelitian ini cukup singkat dan memberikan kesempatan pada peneliti untuk lebih fokus dalam melakukan penelitian.

Peneliti memfokuskan penelitian hanya pada cerita rakyat yang melatarbelakangi penamaan nama-nama Curug di Kabupaten Bandung Barat dan cerita yang ada seputar curug. Kajian terhadap cerita ini diantaranya melalui 1) analisis struktur, 2) Penggalian nilai-nilai budaya dari dalam cerita,  3) penggalian persepsi masyarakat mengenai keberadaan cerita tersebut dan 4) pemanfaatan cerita sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya apresiasi sastra di SMA kelas X dalam bentuk LKS.

4.             Rumusan Masalah Penelitian

Pada penelitian ini, terdapat beberapa pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan sebagai berikut

  1. Bagaimana struktur teks cerita-cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat?
  2. Nilai budaya apa saja yang terkandung di dalam cerita-cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat?
  3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap cerita-cerita tersebut?
  4. Bagaimana pemanfaatan cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat ini sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA kelas X?

5.            Tujuan Pelaksanaan Penelitian

Tujuan penelitian ini, adalah untuk.

  1. Mendeskripsikan struktur teks cerita-cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat.
  2. Mendeskripsikan nilai budaya yang terkandung di dalam cerita-cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat.
  3. Mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap cerita-cerita curug tersebut.
  4. Mendeskripsikan bantuk pemanfaatan cerita-cerita curug yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat yang dapat digunakan sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA kelas X, khususnya pembelajaran apresiasi sastra.

6.             Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Manfaat teoritis: hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas khazanah ilmu pengetahuan, terutama di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia serta menambah wawasan dan pengetahuan tentang sastra lisan, khususnya cerita rakyat mengenai penamaan sebuah tempat.
  2. Manfaat praktis: hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
  • Mengetahui struktur teks dan nilai budaya yang terkandung dalam cerita-cerita-cerita curug dan persepsi masyarakat di Kabupaten Bandung Barat;
  • Mengetahui bentuk pemanfaatannya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia dalam bentuk LKS.
  • Sebagai motivasi dan referensi penelitian karya sastra Indonesia agar setelah peneliti melakukan penelitian ini muncul penelitian-penelitian baru sehingga dapat menumbuhkan inovasi dalam kesusastraan.

7.             Teori Landasan Pelaksanaan Penelitian

Objek yang penulis kaji dalam penelitian ini merupakan sebuah cerita asal muasal penamaan sebuah curug dan cerita yang muncul di seputar curug yang penulis teliti, yang berasal dari cerita lisan dari seorang kuncen yang kemudian penulis ubah ke dalam bentuk tulisan untuk memudahkan pelaksanaan analisis.

Berdasarkan dari keberadaan subjek penelitian ini, maka teori yang peneliti jadikan landasan dalam penelitian ini adalah teori yang berkenaan dengan folklor, Tradisi Lisan, Sastra Lisan dan Cerita Rakyat, teori struktural untuk mengkaji struktur cerita, teori mengenai bahan ajar dan pelaksanaan pengajaran, yang peneliti uraikan sebagai berikut.

a. Folklor, Tradisi Lisan, Sastra Lisan dan Cerita Rakyat

1)  Folklor

Penelitian terhadap tradisi lisan, terutama yang berbentuk cerita rakyat, maka akan berkenaan pula dengan ilmu folklor. Istilah folklor berasal dari kata dalam bahasan Inggris, yaitu folk dan lore. Menurut Dundes (Danandjaya, 2007:1), folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan yang menunjukan perbedaan dengan sekelompok lainnya. Ciri-ciri tersebut berwujud dalam warna kulit yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang paling penting, menurut Dundes, kelompok orang tersebut telah memiliki satu tradisi, yaitu kebudayaan yang telah diwariskan secara turun temurun, yang paling sedikitnya dua generasi, yang diakui sebagai milik bersama dan mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Lore adalah tradisi dari folk itu sendiri, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1997 :2).

a)  Ciri-ciri Folklor

Agar dapat membedakan folklor dari kebudayaan lainnya, seperti apa yang dikemukakan oleh Danandjaja (1997 : 3-5), kita harus mengetahui dahulu ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya, yang dapat dirumuskan sebagai berikut.

  1. penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya;
  2. folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi);
  3. folklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation), folklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan;
  4. folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi;
  5. folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita rakyat, misalnya, selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari” untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis, atau “ular berbelit­belit” untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, clan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, seperti kata “sahibul hikayat… dan mereka pun bahagia untuk seterusnya,” atau “Menurut empunya cerita… demikianlah konon” atau dalam dongeng Jawa banyak yang dimulai dengan kalimat Anuju sawijining diva (pada suatu hari), dan ditutup dengan kalimat : A lan B urip rukun bebarengan kayo mimi lan mintuna ( A dan B hidup rukun bagaikan mimi jantan dan mimi betina);
  6. folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam;
  7. folklor bersifat pralogisi, yaitu mmepunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan;
  8. folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya;
  9. folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga sering kali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

b)     Bentuk Folklor

Merunut pada penjelasan Jan Harold Brunvand (Danandjaja, 2002: 21,  dan Hutomo, 2001: 60), folklor dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok besar berdasarkan tipenya : (1) folklor lisan (Verbal folklore), (2) folklor sebagian lisan (Partly Verbal Folklore), dan (3) folklor bukan lisan (Non Verbal Folklore).

(1)     Folklor Lisan

Menurut Danandjaja folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan, seperti bahasa rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki, puisi rakyat, prosa rakyat, nyanyian rakyat (Danandjaja 2001: 22).

Sedangkan Suripan Sadi Hutomo yang menyebut folklor sebagai sastra lisan, mengungkapkan bahwa sastra lisan adalah sastra lisan yang benar-benar diturunkan secara lisan. Sastra ini umumnya berbentuk prosa murni (dongeng, cerita hiburan), prosa liris (pantun, gurindam). Selain itu sastra lisan ini dalam penampilanya tidak diiringi oleh alat seni lain, seperti kendang dan lainnya.

(2)     Folklor Setengah lisan

Folklor jenis ini adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Bentuk folklor ini antara lain adalah permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat dan lain-lain (Danandjaja 2002: 22, dan Hutomo 2001: 61).

(3)     Folklor Bukan Lisan

Folklor ini adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor ini di bagi menjadi dua bentuk, yaitu; yang berupa material dan bukan material bentuk folklor yang berupa material, seperti makanan dan minuman rakyat, arsitektur rakyat, pakaYan dan perhiasan adat dan lain-lain sedangkan yang berupa bukan material adalah gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat, dan musik rakyat.

c)       Fungsi Folklor

Dari semua yang dikekemukakan oleh Danandjaja maupun Hutomo, fungsi folklor yang merunut pada William R Bascom adalah:

  1. sebagai sistem proyeksi, sebagian alat penelitian angan-angan suatu kolektif;
  2. sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan;
  3. sebagai alat pendidikan anak;
  4. sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Sesuai dengan apa yang ditulis oleh James Danandjaja, bahwa ada tiga basis penelitian dalam meneliti folklor yaitu peneliti humanistis, peneliti ini berbasis pengetahuan bahasa dan sastra, peneliti antropologis yang terdiri dari peneliti berbasis pengetahuan antopologi, dan penelitian yang berbasis pengetahuan interdisiplinner. Maka penulis memegang erat definisi yang diterangkan William Johns Thorns, sehingga memasukan kedua folklor (folk dan lore) pada kesusastraan lisan (Danandjaja, 2002: 7).

b.  Tradisi Lisan

Memisahkan antara folklor dengan tradisi lisan, peneliti memiliki kesamaan dengan apa yang diungkapkan oleh Danandjaya (2007: 5) bahwa penggunaan istilah tradisi lisan untuk mengganti istilah folklor kurang tepat, karena istilah tradisi lisan mempunyai arti yang terlalu sempit sedangkan folklor lebih luas. Tradisi lisan mencakup cerita rakyat, teka-teki, pribahasa, dan nyanyian rakyat, sedangkan folklor mancakup lebih dari itu seperti tarian rakyat dan arsitektur rakyat.

Tradisi lisan menurut Sedyawati (1996: 5) adalah segala wacana yang disampaikan secara lisan, mengikuti tata cara atau adat istiadat yang telah memola dalam suatu masyarakat. Kandungan isi wacana tersebut dapat meliputi berbagai hal, berbagai jenis cerita maupun berbagai jenis ungkapan seremonial dan ritual.

Hutomo (1991: 9), menjelaskan bahwa istilah tradisi lisan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris oral tradision. Konsep ini pengertiannya hampir sama dengan folklore, perbedaannya hanya terletak pada unsur-unsur yang ditransmisi secara lisan kadang-kadang diikuti dengan tindakan.

Lord (2000: 141) mengemukakan, bahwa apa yang disebut tradisi lisan sebagai suatu bentuk seni yang rumit dan penuh arti. Tradisi lisan diturunkan dari tradisi kesastraan. Dengan kata lain, tradisi lisan adalah “kesastraan” sebagai tradisi kesastraan; yang rumit, sembrono, lebih kasar daripada sastra.

Dorson (1972) unsur kelisanan merupakan bagian utama dari tradisi lisan. Tanpa kelisanan suatu budaya tidak dapat disebut sebagai tradisi lisan. Oleh sebab itu, Darson membagi 4 dimensi tradisi lisan yaitu (1) kelisanan, (2) kebahasaan, (3) kesastraan, (4) nilai budaya.

c.  Sastra Lisan

Rusyana (1978:1-2) mengemukakan bahwa sastra lisan adalah sastra yang hidup dan tesebar dalam bentuk tidak tertulis. Ciri lain sastra lisan adalah ketradisiannya. Sastra lisan merupakan khazanah budaya masa lampau yang masih dipelihara oleh masyarakat penciptanya meskipun dengan kadar kepedulian yang sudah jauh menurun. Sastra lisan mencakup cerita (dongeng, legenda, dan hikayat), semacam dialog (berbalas pantun), dan mantra.

Menurut Hutomo (1991:3-4), ciri-ciri pengenal utama sastra lisan yaitu 1) penyebarannya melalui mulut, maksudnya ekspresi budaya yang disebarkan baik dari segi waktu maupun ruang dari mulut ke mulut, 2) lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa, atau masyarakat di luar kota, atau masyarakat yang belum huruf, 3) menggambarkan ciri-ciri budaya suatu masyarakat, 4) tidak diketahui siapa pengarangnya dan karena itu menjadi milik masyarakat, 5) bercorak puitis, teratur, dan berulang-ulang, 6) tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek khayalan/fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern tetapi sastra lisan memiliki fungsi dalam masyarakatnya, 7) terdiri dari berbagai versi, dan 8) menggunakan gaya bahasa lisan (sehari-hari) yang mengandung dialek, kadang­-kadang diucapkan dengan tidak lengkap.

d.  Cerita Rakyat

a)       Pengertian Cerita Rakyat

Rusyana (1981: 17) mengemukakan bahwa cerita rakyat adalah sastra lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat yang berkembang dan menyebar secara lisan pada beberapa generasi dalam suatu masyarakat.

Sementara Suwarndi (1980: 2) menyatakan bahwa cerita rakyat adalah bentuk penutur cerita yang pada dasarnya tersebar secara lisan, diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat pendukungnya secara tradisional.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka peneliti pengambil kesimpulan bahwa cerita rakyat termasuk ke dalam sastra lisan yang berbentuk cerita lisan yang hidup dan bertahan dalam suatu lingkungan masyarakat disebarkan turun-temurun dalam lingkungan masyarakat tersebut secara lisan.

b)      Genre Cerita Rakyat

Menurut Bascom (Danandjaja, 2002:50), bahwa cerita rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu : (1) Mite (myth)I, (2) Legenda (legend), dan (3) Dongeng (folktale).

(1)     Mite (Myth)

Mite adalah cerita rosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Ciri-ciri mite adalah

(a)           pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya;

(b)          mite mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya.

(2)     Legenda (Legend)

Adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu

(a)           dianggap pernah benar-benar terjadi tetapi tidak dianggap suci;

(b)          ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib;

(c)           tempat terjadinya adalah di dunia, seperti yang kita kenal kini.

(3)     Dongeng (Folktale)

Adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat.

c)       Struktur Cerita Rakyat

Seperti halnya karya sastra yang lain, cerita rakyat memiliki unsur-unsur pembentuk yang mempunyai keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dan memberikan makna menyeluruh terhadap cerita rakyat tersebut. Unsur pembentuk karya sastra tersebut meliputi alur, latar, tokoh dan penokohan, lingkungan penceritaan, tema dan amanat.

(1)     Alur

Dalam cerita rakyat, seperti halnya karya sastra yang lain, juga memiliki alur, hanya saja, kejadian-kejadian yang membangun cerita tersebut tidak ada yang menggunakan hukum kausalitas yang kadang tidak diketahui apa penyebabnya.

(2)     Latar

Latar memegang peranan penting dalam sebuah cerita untuk melukiskan suasana penceritaan yang dilakukan oleh tokoh. Peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh tokoh ditunjang oleh latar tempat dan latar waktu.

Latar tempat pada cerita rakyat biasanya tidak menentu, dalam arti bisa berada di bawah samudra, di atas awan, di dalam tanah dan lainnya yang tidak bisa ditangkap dengan akal. Sementara latar waktu bisasnya bercerita pada masa lampau.

(3)     Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam cerita rakyat tidak hanya digambarkan tokoh manusia saja, ada pula mengunakan tokoh-tokoh tertentu misalnya binatang, tumbuhan, para dewa, iblis, siluman, setan, dan tokoh lainya yang digambarkan seolah-olah seperti manusia.

Selain itu dalam cerita rakyat terlihat bahwa tokoh sering berganti-ganti nama, hal ini dapat berkaitan dengan tahapan hidup tokoh misalnya sebagai anak, remaja, dan dewasa. Di samping itu nama dapat juga meyatakan asal, pekerjaan, ciri fisik atau mentalnya seperti si miskin, si bisu, dan lainnya.

(4)    Lingkungan Penceritaan

(a)     Penutur

Penutur cerita adalah orang-orang yang menuturkan cerita baik laki-laki atau perempuan yang mengetahui atau hapal isi cerita.

(b)     Kesempatan Bercerita

Kesempatan bercerita yang dituturkan penutur cerita akan bervariasi atau beragam. Hal itu dipengaruhi oleh adat kebiasaan yang sudah menjadi hal yang terbiasa pada masyarakat pemilik cerita, sedangkan kesempatan bercerita pun kadang ada waktu-waktu tertentu atau dibatasi. Hal itu dilakukan agar jangan terjadi pelanggaran adat kebiasaan yang sudah terikat pada masyarakat pemilik cerita sebagai kolektif. Oleh karena itu, kesempatan bercerita memiliki waktu dan norma-norma tertentu.

(c)     Tujuan Bercerita

Tujuan bercerita umumnya bervariasi, hal ini bergantung pada si penutur cerita menyampaikan ceritanya kepada siapa cerita itu diceritakan dan dalam situasi seperti apa. Tujuan bercerita kadang akan tersirat dengan jelas pada isi penceritaan atau sebaliknya. Tujuan bercerita umumnya ingin menyebarkan atau memperkenalkan cerita tersebut agar tetap hidup di lingkungan masyarakat pemiliknya, baik dari masyarakat lampau, kini, dan masyarakat yang akan datang. Dengan kata lain, agar cerita itu tetap hidup pada masyarakat pemiliknya, meskipun cerita tersebut sudah tidak utuh lagi.

(5)     Tema dan Amanat

Tema merupakan intisari cerita, sementara amanat adalah pesan yang terkandung dalam suatu cerita yang biasanya dalam cerita rakyat penutur sampaikan kepada pendengarnya.

  1. Nilai Budaya

Koentjoroningrat (1985: 25) mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat yang terdiri atas konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat, mengenai hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu suatu sistem budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.

Mengambil relevansi pengertian di atas, maka nilai budaya merupakan jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Kebudayaan yang diwujudkan dalam bentuk tata hidup manusia yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya.

Galla (2001: 12) menyebutkan bahwa nilai budaya dari masa lalu (intenagible heritage) berasal dari budaya-budaya lokal yang ada di nusantara meliputi: tradisi, cerita rakyat, legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas (tari, lagu, drama pertunjukan), kemampuan beradaptasi, dan keunikan masyarakat setempat.

Menurut Kluckhon (Koentjoroningrat, 1985: 28) semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan adalah berkaitan dengan lima pokok masalah dalam kehidupan manusia, yaitu:

  1. masalah mengenai hakikat hidup manusia;
  2. masalah mengenai hakikat dari karya manusia;
  3. masalah mengenai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
  4. masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya; dan
  5. masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya.

Untuk menyelidiki nilai-nilai budaya yang masih hidup dari suatu masyarakat dapat dilakukan melalui penelitian terhadap bentuk-bentuk ekspresi budaya tersebut atau ungkapan verbalnya, yaitu bahasa atau sastra.

  1. Struktur

Struktur merupakan hubungan antar unsur-unsur pembentuk dalam suatu susunan keseluruhan. Adapun unsur pembentuk karya sastra meliputi alur, latar, tokoh dan penokohan, lingkungan penceritaan, tema dan amanat.

1)      Alur

Luxemburg (Wiyatmi, 2009: 49) menyatakan bahwa alur pada dasarnya merupakan deretan peristiwa dalam hubungan logik dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Adanya peristiwa tersebut dibangun oleh motif-motif (unsur-unsur penggerak cerita). Berhubungan dengan hukum sebab akibat (kausalitas) di atas, hukum kausalitas yang didasarkan tentang alur, seringkali tidak dapat sepenuhnya diterapkan pada semua alur cerita sastra lisan, karena banyak kejadian yang muncul dan menggerakkan cerita tidak didasarkan hukum kausalitas, antara kejadian satu dengan kejadian lain.

2)      Latar

Abrams (Nurgiyantoro, 2000: 216) menyatakan bahwa latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Berdasarkan pada pendapat di atas, maka suatu cerita pasti terjadi di suatu tempat dan pada suatu waktu tertentu. Tempat dan waktu ini selalu diwarnai oleh suatu yang menempatinya, yaitu manusia dan budayanya, keadaan alam sekitar dan sebagainya. Tempat dan waktu yang diwarnai oleh segala hal yang abadi dalamnya akan memberi warna khusus dalam cerita.

Dalam penelitian ini penulis akan memfokuskan analisis pada latar tampat dan latar waktu.

3)      Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita mutlak harus ada dalam cerita. Tidak mungkin satu peristiwa terjadi tanpa pelakunya atau tidak mungkin suatu cerita dikisahkan tanpa tokoh. Wiyatmi (2009: 30) menyebutkan bahwa tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Sementara penokohan menurut Nurgiyantoro (2000: 165) adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Wellek dan Warren (1989: 291) mengatakan bahwa bentuk penokohan yang paling sederhana adalah pemberian nama. Wellek dan Warren membagi tokoh menjadi berkarakter datar dan berkarakter bulat. Tokoh berkarakter datar bersifat statis, hanya menampilkan kecenderungan secara sosial. Sedangkan tokoh berkarakter bulat bersifat dinamis.

Teori-teori tersebut di atas, akan membantu penulis menemukan pemahaman dan jawaban menyeluruh tentang materi bahasan.

4)      Lingkungan Penceritaan

a)       Penutur

Masyarakat pendukung tradisi lisan (dalam cerita rakyat) dapat dibagi menjadi dua, yaitu kelompok penutur cerita yang menjadi penutur aktif dan kelompok pendengar cerita pendukung pasif. Penutur cerita adalah orang-orang yang menuturkan cerita baik laki-laki atau perempuan yang mengetahui atau hapal isi cerita.

Pendukung aktif misalnya kuncen (juru kunci), candoli (orang biasa yang memimpin upacara panen dan kenduri), dukun, paraji, pawang, dan orang-orang yang dituakan atau dihormati oleh masyarakat, sedangkan kelompok pendukung pasif adalah kelompok masyarakat dari kalangan biasa yang merupakan masyarakat kolektif pendukung dan pemilik dari cerita tersebut (Rusyana, 1981: 45).

b)      Kesempatan Bercerita

Rusyana (1978: 10) membagi kesempatan berbicara dalam beberapa kesempata, yaitu.

  1. pada waktu berkumpul, misalnya: pertemuan, hari lebaran, melayat orang yang meninggal, rapat desa, dtn pada waktu kedatangan tamu pembesar;
  2. pada waktu mengobrol antara dua orang atau lebih. Dalam obrolan itu si penerima cerita berlaku sebagai lawan mengobrol atau hanya hadir mendengarkan saja;
  3. pada waktu sedang bekerja atau dalam perjalanan;
  4. pada waktu ada orang menanyakan asal-usul benda, nama tempat, dan sejarah. Waktu dan tempat penceritaan itu bergantung dari penutur cerita disesuaikan dengan kesakralan cerita.

c)       Tujuan Bercerita

Rusyana (1978: 7) menyatakan bahwa tujuan bercerita adalah:

  1. agar anak cucu mengetahui asal-usul nenek moyangnya;
  2. agar orang mengetahui dan menghargai jasa orang yang telah melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi umum;
  3. agar orang mengetahui hubungan kekerabatan, sehingga walaupun telah terpisah, karena mengembara ke tempat lain, hubungan itu tidak terputus;
  4. agar orang mengetahui bagaimana asal mula sebuah tempat dibangun dengan penuh kesukaran;
  5. agar orang mengetahui keadaan kampung halamannya, baik keadaan alamnya maupun adat kebiasaannya;
  6. agar orang mengetahui benda-benda pusaka di suatu tempat;
  7. agar orang mengambil pengalaman dari perbuatan orang terdahulu sehingga is dapat bertindak dengan selamat;
  8. agar orang terhibur.

5)      Tema dan Amanat

Hermawan (Wiyatmi, 2009: 49) menyatakan bahwa tema merupakan rumusan intisari cerita sebagai landasan idiil dalam menentukan arah tujuan cerita. Sementara itu, amanat pada dasarnya merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar atau penonton.

Sementara Hartoko dan Rahmanto (Nurgiantoro, 2000: 26) berpendapat bahwa tema merupakan gagasan umum yang menopang karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan atau perbedaan. Sementara amanat adalah makna yang berupa pesan dan terkandung di dalam suatu cerita.

  1. Penerapan Cerita-cerita Curug sebagai Bahan Ajar pada Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

1)      Bahan Ajar

a)       Pengertian

National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training (Majid 2007: 173) menyatakan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Majid (2007: 174) menyatakan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik belajar dengan baik. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis.

Sementara di dalam KTSP (2008 : 125) dinyatakan bahwa bahan ajar adalah secara garis besar terdiri dari pengetahuan keterampilan dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah di tentukan

Atas dasar pengertian-pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa bahan ajar merupakan suatu unsur yang sangat penting yang harus mendapat perhatian guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, sehingga tujuan pembelajaran  yang diinginkan dapat tercapai. Dengan bahan ajar itu, para siswa dapat mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam usaha mencapai tujuan belajar.

b)     Fungsi Bahan Ajar

Fungsi bahan ajar adalah sebagai motivasi dalam proses kegiatan belajar mengajar yang lakukan oleh guru dengan materi pembelajaran yang kontekstual agar siswa dapat melaksanakan tugas belajar secara optimal. Menurut pendapat Supriyadi (1997:1), ada tiga fungsi bahan ajar yang ada kaitannya dengan pembelajaran di sekolah. Ketiga fungsi yang dimaksud adalah :

  1. Bahan ajar merupakan pedoman bagi guru yang akan mengarahkan  semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran,  sekaligus  merupakan  substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan/dilatihkan kepada siswanya.
  2. Bahan  ajar  merupakan  pedoman  bagi   siswa  yang  akan  mengarahkan aktifitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi yang  seharusnya dipelajari/dikuasainya.
  3. Bahan ajar merupakan alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil  pembelajaran.

Berdasarkan pendapat di atas, fungsi bahan ajar adalah

  1. membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar;
  2. membantu siswa dalam proses belajar;
  3. sebagai perlengkapan pembelajaran untuk mencapai tujuan pelajaran;
  4. untuk menciptakan lingkungan / suasana balajar yang kondusif.

 

c)     Manfaat Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan sarana, alat atau instrumen yang baik dan memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan tujuan pembelajaran. Manfaat dari bahan ajar itu adalah sebagai berikut.

  1. Memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai dengan  kebutuhan belajar siswa.
  2. Tidak bergantung pada buku teks yang terkadang sulit didapat;
  3. Memperkaya wawasan  karena di kembangkan dengan menggunakan berbagai referensi.
  4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menyusun bahan ajar.
  5. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dan siswa, karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya maupun kepada dirinya.
  6. Dapat dikumpulkan menjadi buku dan dapat diterbitkan (Depdiknas, 2004:1).

d)      Bentuk Bahan Ajar

Bentuk bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat yaltu :

  1. Bahan cetak (printed) antara lain hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model maket;
  2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, compact disk audio;
  3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti film, video compact disk;
  4. Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) seperti compact disk interaktif.

e)     Prinsip dan langkah Pemilihan Bahan Ajar

Dalam Buku Pedoman Menyusun dan Memilih Bahan Ajar Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional (2006) menerangkan terdapat tiga kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih atau penyusunan bahan ajar, adalah sebagai berikut.

  1. Relevan artinya keterkaitan. Materi pembelajaran memiliki keterkaitan dengan standar kompetensi dan komptensi dasar. Dengan keberadaan ini maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
  2. Konsisten artinya ajeg. Adanya keajegan antara bahan ajar dengan kompetensi dasar yang harus di kuasai siswa. Artinya jika kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa ada empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
  3. Cukup, artinya materi yang diajarkan cukup memadai dalam membantu siswa menguasai komptensi dasar yang di ajarkan. Materi tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang.

Dalam pengembangan bahan ajar, maka bahan ajar harus memiliki beberapa kriteria sebagai berikut.

  1. bahan ajar harus relevan dengan tujuan pembelajaran;
  2. bahan ajar harus seuai dengan taraf perkembangan anak;
  3. bahan yang baik ialah bahan yang berguna bagi siswa baik sebagai perkembangan pengetahuannya dan keperluan bagi tugas kelak di lapangan;
  4. bahan itu harus menarik dan merangsang aktivitas siswa;
  5. bahan itu harus disusun secara sistematis, bertahap, dan berjenjang; dan
  6. bahan yang disampaikan kepada siswa harus menyeluruh, lengkap dan utuh.

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama, mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam tujuan pembelajaran yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Kedua, mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Ketiga, memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan tujuan pembelajaran yang telah teridentifikasi. Keempat, memilih sumber bahan ajar.

f)       Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Apresiasia Sastra di SMA

Semi (Sarumpaet, 2003: 138-139) menyatakan bahwa di dalam memilih bahan ajar dan bahan belajar apresiasi sastra, sedikitnya paling tidak dipersyaratkan memperhatikan lima hal penting. Pertama, bahan ajar dan belajar itu valid untuk mencapai tujuan pengajaran. Kedua, bahan ajar dan bahan belajar itu bermakna dan bermanfaat ditinjau dari kebutuhan peserta didik. Ketiga, bahan ajar dan bahan belajar itu menarik serta merangsang minat peserta didik. Keempat, bahan ajar dan bahan belajar berada dalam batas keterbacaan dan intelektual peserta didik. Dan lima, bahan ajar dan bahan belajar, khususnya berupa bacaan sastra harus berupa karya sastra utuh, bukan karya sastra sinopsis.

2)      Pemanfaatan Cerita Rakyat dalam Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Kelas X

Kurikulum yang sekarang berlaku adalah Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) setiap satuan pendidikan orientasi materi pembelajaran dalam pendidikan di sekolah. Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk
penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu nemperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian. (BNSP, 2006:107).

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan

  1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
  2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
  3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
  4. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
  5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
  6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional (BSNP:107-108).

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan implementasi dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah tersebut memberikan gambaran dan arahan tentang Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah tersebut memberikan gambaran dan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan dan tenaga kependidikan. Standar Nasional Pendidikan juga digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga pendidikan. sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

KTSP sebagai salah satu bagian dari pengembangan kurikulum, mengandung suatu bagian terpenting yaitu silabus. Silabus didefinisikan sebagai rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan cumber belajar.

Dalam Standar Isi (SI) KTSP disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkaitan dengan pengajaran apresiasi sastra, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, seita dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Sedangkan, guru diharapkan lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.

Berdasarkan standar kompetensi semacam itu, tujuan pengajaran apresiasi sastra, antara lain: (1) agar siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (2) agar siswa dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan elektual manusia Indonesia.

Pada pengembangan silabus Bahasa dan sastra Indonesia kelas X semester 2, tercantum standar kompetensi, kompetensi dasar dan meteri pelajaran yang berkenaan dengan membahas cerita rakyat. Pada silabus tersebut tercantum standar kompetensi dan kompetensi (terlampir).

Berdasarkan pedoman silabus tersebut, cerita-cerita curug sebagai cerita rakyat memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan sebagai salah satu materi pembelajaran apresiasi sastra dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X dalam bentuk LKS.

8.             Definisi operasional

Untuk menghindari kesalahan persepsi pembaca, maka peneliti uraikan definisi operasional yang terkait dalam penelitian ini.

1)  Analisis struktur dan nilai budaya cerita-cerita curug di Kabupaten Bandung Barat

Definisi operasional dari analisis struktur dan nilai budaya cerita-cerita curug di Kabupaten Bandung Barat ini adalah analisis mengenai hubungan unsur-unsur pembentuk cerita-cerita curug yang ada di Kabupaten Bandung Barat. Dalam konteks ini, unsur-unsur pembentuk struktur cerita curug di Kabupaten Bandung Barat meliputi alur, latar, tokoh dan penokohan, lingkungan penceritaan, tema dan amanat. Sementara mengenai nilai budaya mencakup hal yang dianggap suatu masyarakat atau kelompok masyarakat anggap amat bernilai dalam hidup.

2)  Pemanfaatannya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Definisi operasional dari pemanfaatannya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah upaya penggunaan hasil analisis cerita-cerita curug yang ada di Kabupaten Bandung Barat sebagai bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada peajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

9.  Anggapan Dasar

Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah cerita-cerita curug yang peneliti teliti ini memiliki karakteristik struktur teks dan nilai budaya yang merangkai menjadi sebuah cerita yang sangat menarik bagi siswa SMA kelas X  untuk dijadikan sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya pembelajaran apresiasi sastra.

10. Rancangan dan Pelaksanaan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Syaodih (2007:60) menyatakan bahwa penelitian kualitatif (qualitative research) adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Sementara McMillan dan Schumacher (Syamsudin AR dan Vismaia S. Damaianti, 2009) mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian.

Bogdan dan Biklen (1982:27-29) secara terperinci menjabarkan karakteristik penelitian kualitatif, diantaranya:

  1. Peneliti sendiri sebagai instrumen utama untuk mendatangi secara langsung sumber data.
  2. Mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada angka.
  3. Menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada hasil.
  4. Melalui analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadaan yang terjadi.
  5. Mengungkapkan makna sebagai hal yang esensial dan pendekatan kualitatif.

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif ini, maka peneliti menyusun rancangan penelitian sebagi berikut.

  1. Peneliti melakukan pencarian informasi awal mengenai nama curug dan keberadaannya serta ada atau tidaknya cerita yang melatarbelakangi penamaan curug tersebut melalui internet.
  2. Peneliti mendatangi pemerintah daerah setempat untuk mendapatkan informasi mengenai alamat keberadaan curug serta teridentifikasi atau tidaknya cerita yang melatarbelakangi penamaan curug dengan melakukan wawancara.
  3. Peneliti melakukan wawancara sendiri kepada masyarakat sekitar curug mengenai ada atau tidaknya cerita yang melatarbelakangi penamaan curug dan adat kebiasaan yang menjadi budaya dan persepsi masyarakat dengan melakukan wawancara serta melakukan pengamatan.
  4. Peneliti melakukan wawancara kepada juru kunci untuk mendapatkan cerita dan adat kebiasaan yang menjadi budaya serta melakukan pengamatan kondisi di sekitar curug.
  5. Peneliti mengubah cerita yang menjadi data awal sebagai bentuk lisan ke dalam bentuk tulisan
  6. Peneliti mengalihbahasakan cerita ke dalam bahasa Indonesia.
  7. Peneliti melakukan analisis struktur dan nilai budaya berdasarkan teks cerita yang telah didapat.
  8. Peneliti merancang pemanfaatan cerita tersebut untuk dijadikan bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya pembelajaran apresiaisi sastra pada siswa SMA kelas X dalam bentuk LKS.

Secara garis besar jadwal penelitian peneliti uraikan sebagai berikut:

 

No.

 

Uraian Kegiatan

Rencana Waktu Kegiatan Penelitian dan Penyusunan Tesis untuk tahun Bulan November 2012 s/d April 2013

 

Ket.

Nov.

Des.

Jan.

Feb.

Mar.

April.

1. Pengajuan Proposal
2. Bimbingan Proposal
3. Pengujian Proposal
4. Penyusunan Instrumen
5. Bimbingan Penyusunan Instrumen
6. Pelaksanaan Penelitian  
7. Pengumpulan data  
8. Analisis Data  
9. Penyusunan Laporan
10 Konsultasi Pembimbing
11. Penyempurnaan
  1. 11.         Sumber Data Penelitian

Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah cerita curug yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua, yaitu cerita Curug panganten, cerita curug yang berasal dari Kecamatan Cihampelas yaitu cerita Curug Jompong, cerita curug yang berada di Kecamatan Rongga adalah cerita Curug Malela, cerita curug yang berada diKecamatan Lembang yaitu cerita Curug Maribaya dan cerita curug yang berada di Kecamatan Parongpong yaitu cerita Curug Sawer.

 

Daftar Pustaka

Aminudin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV Sinar Baru.

Andriana, Anita. 2010. Curug Santri di Kabupaten Karawang: Analisis struktur, konteks penceritaan, dan fungsi sosial. Skripsi. UPI. Bandung.

Bogdan, B.C & Biklen S.K. 1982. Quantitative Research for Education an Introduction to Theory and Methode. Boston: Allyn and Bacon.

BSNP. 2006. Standar Kompetensi dan kompetensi Dasar SMA Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas

Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT Pustaka Utama grafiti.

Danandjaya, James. 2002. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT Pustaka Utama grafiti.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan/ Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ke-5) Jakarta: Balai Pustaka.

Dorson, R.M. 1972. Folklor & Folklife: An Introduction. Chicago: The University of Chicago Press.

Endraswara, S. 2006. Metodologi Penelitian Folklor Konsep Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Medpress.

Faruk. 2003. Kebangkitan Kebudayaan. Jurnal Kebudayaan Selarong volume 01, April-juli 2003. Yogyakarta.

Fathoni, A. 2005. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: Rineka Cipta.

Galla, A. 2001. Guidebook for the Participation of Young People in Haritage conservation. Brisbane: Hall and jones Advertising

Hutomo, S. S. 1991. Mutiara Yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur.

Koentjaraningrat. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.  Jakarta: Gramedia.

Luxemburg, J.V, Mieke Bal & Willem G. Weststeijn. 1989. Tentang Sastra (Judul asli over literatur) penerjemah Akhdiati Ikram. Jakarta: Intermasa.

Madeten, S. 2011. Model Pemeliharaan Nilai-nilai Budaya dalam Upacara Adat Patahunan Dayak Kanayatan Kalimantan Barat. Disertasi Doktor Pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Majid, A. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Maleong, L. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Pradopo, R.D. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Purnama, Yuzar. 2005. Inventarisasi dan Analisis Ungkapan tradisional di Kabupaten Tasikmalaya. Bandung: Balai Kajian Jarahnitra.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Y. 1999. Sastra Klasik Milik Bangsa Indonesia. Makalah. Bandung

Rusyana, Y. 1978. Sastra Lisan Sunda Cerita Karuhun, Kajajaden, dan Dedemit. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Rusyana, Y. 2006. Tradisi Lisan dalam Ketahanan Budaya. Makalah. Bandung

Sarumpaet, R.K.T. 2003. Sastra masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sugiharto, Agus dan Ken Widyawati. 2007. Legenda Curug 7 Bidadari (Kajian Strukturalis Levi-Strauss) makalah pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.

Sukatman. 2009. Butir-butir Tradisi Lisan Indonesia Pengantar Teori dan Pembelajarannya. Yogyakarta: LaksBang Pressindo.

Syamsuddin A.R dan Vismaia S. Damaianti. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Syaodih, N. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Program Pascasarjana UPI dan Remaja Rosdakarya

Teeuw, A. 1994. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek, R & Warren, A. 1989. Teori Kesusastraan (Penerjemah Melani Budianta). Jakarta: Gramedia

Wellek, R & Warren, A. 1995. Teori Kesusastraan (Penerjemah Melani Budianta). Jakarta: Gramedia

Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Pustaka Book Publisher: Yogyakarta

Zoetmulder. 1994. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan

 PROSES MENTAL DALAM TRILOGI NOVEL KARYA AHMAD TOHARI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER DAN MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI KELAS

 

 BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Apabila ditelusuri dari perjalanan sejarah sastra Indonesia, dari awal keberadaannya sebagai hasil kebudayaan yang dikenal dengan sastra tradisional, karya sastra Indonesia kemudian terus berkembang hingga akhirnya dikenal dengan sastra modern. Perkembangan sastra Indonesia mengalami berbagai ekplorasi substansi (terutama tema) mulai dari keberadaan ekonomi, sosial, politik maupun budaya dan keberadaan keagamaan. Dari awal masa kemerdekaan novel Matahariah karya Mas Marco Kartodikromo mengangkat pemikiran multikulturalisme yang tidak terlepas dari realitas sosial dengan mengeksplorasi permasalahan ketimpangan ekonomi dan sosial serta kolonialisme, konfrontasi ras, bangsa-bangsa, dan kebudayaan (Ratih Dewi 2006: 2). Selain itu karya-karya Pramoedya Ananta Toer seperti Tetralogi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, kemudian, novel Perburuan, Gadis Pantai dan lainnya yang mengeksplorasi sosio-kultural Indonesia yang juga dipadukan dengan konfrontasi ras, ketimpangan sosial dan ekonomi yang begitu signifikan. Kemudian pada era tahun 70-an permasalahan budaya dan adat kemudian mengemuka yang ditandai dengan hadirnya novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan terus berlanjut pada tahun 80-an walaupun pada akhirnya tahun ini perkembangan permasalahan ketimpangan sosial, ekonomi, politik lebih banyak berkembang seperti yang tereksplorasi dalam trilogi novel Ahmad Tohari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.

Perkembangan karya sastra yang memperbincangkan permasalahan ketimpangan ekonomi dan sosial masih terus berlanjut dengan munculnya novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Ketimpangan sosial dan perekonomian yang terejawantahkan ke dalam bentuk kemiskinan dalam novel Laskar Pelangi, tampak jelas dengan adanya sekolah khusus yang dibentengi dengan tembok tinggi bagi karyawan PN Timah yang menyediakan sarana-prasarana pendidikan memadai, fasilitas yang lengkap, dan kehidupan yang layak. Sedangkan SD Muhammadiyah tidak mempunyai semua fasilitas yang dimiliki oleh sekolah PN Timah, semangat anak-anak kampung miskin tersebut untuk berjuang dengan gigihnya agar dapat belajar tidak pernah padam walaupun dalam keadaan yang serba terbatas. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang sehingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.

Pembahasan mengenai ketimpangan ekonomi dan sosial ini menjadi sebuah bom pada tahun 2000-an ini bagi keberadaan masyarakat sekarang setelah perkembangan karya sastra sebelumnya yang lebih mengeksplorasi permasalahan cinta dan ketabuan yang diantaranya hubungan seksual dan permasalahan kelamin yang dapat terlihat pada karya-karya Ayu Utami,  Jenar Mahesa Ayu dan lainnya serta karya-karya yang lebih berkisar pada karya novel populer Islami yang lebih di setir oleh Helvi Tiana Rosa dan karya-karya yang lebih mementingkan aspek pasar. Sehingga fenomena laskar pelangi ini menjadi sebuah karya yang mendapat tempat khusus dihati masyarakat.

Beranjak dari keberadaan sastra seperti yang telah dijelaskan di atas, penulis menilai sangat menarik untuk menganalisis novel Laskar Pelangi ini, terlebih guna mengungkap  proses mental yang tereksplorasi dalam novel tersebut sehingga dapat dijadikan sebuah model pembelajaran dalam menerapkan pendidikan karakter bagi siswa sekolah kelas VII. Keberadaan manusia sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial dengan memiliki karakter yang bervariasi menjadi sangat menarik untuk diteliti, terlebih bila dihadapkan dengan realitas permasalahan ekonomi, sosial, budaya dan kepercayaan yang muncul dilingkungannya secara bertubi-tubi. Kemunculan tindakan ‘buas’ akan mungkin terjadi, termasuk terhadap orang-orang yang masih memiliki hubungan sedarah karena adanya kepentingan. Sejauh mana keberadaan permasalahan-permasalahan tersebut terungkap dalam novel Laskar Pelangi ini dan apakah realitas ini cukup signifikan terjadi dalam masyarakat pada waktu novel ini dibuat ? Hal ini perlu diungkap karena karya sastra merupakan cerminan masyarakatnya.

Setiap karya sastra yang ditulis tentunya memiliki ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca. Dengan harapan, apa yang disampaikan itu menjadi sesuatu yang berharga bagi perkembangan kehidupan masyarakat. Adapun ide, gagasan atau pengalaman dan amanat yang ingin disampaikan pengarang tersebut tidak akan terlepas dari kondisi lingkungan penulisnya. Pradopo (2002:59) mengemukakan  bahwa karya sastra secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang. Sejalan dengan kondisi tersebut, Herder (dalam Atmazaki, 1990: 44) menjelaskan bahwa karena karya sastra dipengaruhi oleh lingkungannya, maka karya sastra merupakan ekspresi zamannya sendiri. Kondisi ini mengakibatkan adanya hubungan sebab akibat dan timbal balik antara karya satra dengan situasi sosial tempatnya dilahirkan. Terkait hal itu pula Ikhwanuddin Nasution dalam tulisannya pada saat pengukuhan guru besarnya di Universitas Sumatra Utara (Nasution, 2009 : 2) menyatakan bahwa karya sastra (sastra) merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari sosial-budaya dan kehidupan masyarakat yang digambarkannya.

Alasan selanjutnya mengenai penilaian pentingnya analisis terhadap karya tersebut penulis sandarkan pada keberadaan novel ini sangat fenomenal.

Kelebihan yang dimiliki pengarang (Andrea Hirata) di dalam karya-karyanya yaitu dari segi stilistik yang menarik, mengungkapkan setiap kejadian secara sistematis, terarah dan kronologis, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji masalah-masalah yang terdapat di dalam novel tersebut.

Terbitnya Laskar Pelangi membawa Andrea Hirata Bersama Menteri Agama Maftuh Basyuni, Deddy Mizwar, Habiburrahman El Shirazy, Yusuf Mansyur, dan Ratna Megawangi, dipilih oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan 2007: The Sound of Moral (http://jurnalnasional.com/?media, diakses Senin, 30 Juni 2008).

Novel Laskar Pelangi pada awalnya ditulis Andrea Hirata sebagai hadiah ulang tahun gurunya ibu Muslimah tetapi naskah tersebut hilang “tercuri” namun, di luar dugaan, akibat “tercuri”nya naskah tersebut oleh seorang sahabat, maka Laskar Pelangi pun diterbitkan. Nama Andrea Hirata meroket di kancah sastra. Tidak tanggung-tanggung, angka penjualan buku itu mencapai setengah juta eksemplar. Kesuksesannya pun berulang dengan diterbitkannya dua novel berikutnya, Sang Pemimpi dan Edensor. Sedangkan buku ke-4-nya yakni Maryamah Karpov akan terbit setelah Laskar Pelangi di filmkan dan disutradarai oleh Riri Riza dengan produser Mira Lesmana (http://jurnalnasional.com/?media, diakses Senin, 30 Juni 2008).

Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh `si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh ‘Nayla’ si Trauma Seks’ dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional. Hampir semua komentar pembaca memberikan pujian, mulai dari cerpenis Linda Christanty, sineas Garin Nugroho dan Riri Riza, kritikus sastra Nicola Horner, pecinta sastra Diphie Kuron, novelis Ahmad Tohari, sastrawan Korrie Layun Rampan, Kak Seto, pemikir dan mantan Ketua Umum Muhamadiyah Prof. Dr. Syafii Ma’arif, sampai penyair-kritikus sastra Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (http://www.lampungpost.com, diakses Senin, 30 Juni 2008).

Banyak kritikus yang membicarakan

Banyak yang mengalihbahasakan

Kelebihan Andrea hirata sebagai penulis

Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala memiliki kekutan yang khas dengan memiliki tingkat ekspresif yang tinggi. Secara struktural trilogi novel ini  memiliki tokoh-tokoh yang penuh dengan problematika baik dalam batinnya maupun dengan masyarakat, eksistensialisme, idealisme, alur, pengaluran, yang sederhana namun penuh dengan intrik dan akhir yang dramatis, nilai ideologis, politik, sosial, dan pertentangan kelas yang tinggi.

Tokoh Srintil yang merupakan tokoh utama dalam novel ini mengalami berbagai pergolakan, baik dalam diri pribadinya maupun terhadap tokoh lainnya, seperti tokoh Rasus yang menjadi Suaminya dan juga lingkungannya. Sebagai seorang ronggeng pengalaman pahit telah ia hadapi bahkan ketika pada masa pergolakan politik tahun 1965 pun ia turut mengalami dengan keadaan yang tak menentu, hingga keberadaannya orang-orang terdekat dan desanya pun mengalami perubahan dan seolah-olah tidak menerimanya.

Terlepas dari keberadaan struktur dan permasalahan sosial yang mendalam dan terkandung dalam setiap karya sastra, sedikit penggambaran keberadaan tokoh dengan problematikanya seperti di atas, mengisyaratkan dan penulis yakini bahwa strukturalisme genetik menjadi pendekatan yang mampu menjadi pisau analisa yang sesuai terhadap karya Ahmad Tohari ini, terlebih terhadap keberadaan pengarang dengan lingkungannya pada waktu karya tersebut dibuat.

Strukturalisme genetik sebagai pendekatan sosiologi sastra meyakini bahwa adanya hubungan teks sastra dengan hal-hal di luar teks. Hal-hal di luar teks tersebut adalah pengarang dan lingkungan yang mempengaruhinya. Dalam penciptanya, diyakini bahwa seseorang pengarang pada dasarnya menuliskan kembali berbagai hal problema sosial yang dirasakan, dilihat, dan dialaminya. Dengan keberadaan tersebut  karya sastra hadir dan menjadi bagian dari masyarakat yang merupakan hasil curahan imajinasi pengarang yang mencoba menghasilkan vision du monde (pandangan dunia) kepada subjek kolektifnya. Artinya dalam karya sastra tersebut tidak hanya terdiri dari unsur intrinsik (struktur) saja, namun juga terdapat unsur ekstrinsik (pengarang dan lingkungannya).

Untuk mengetahui pandangan pengarang, tentunya perlu dilakukan analisis terhadap 3 hal, yaitu: unsur intrinsik (struktur karya sastra) baik secara parsial maupun secara keseluruhan, latar belakang kelompok sosial pengarang, hal ini diyakini bahwa pengarang merupakan bagian dari kelompok sosial tertentu, dan latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra tersebut diciptakan.

Dengan keberadaan pandangan dunia tersebut, maka karya sastra merupakan pandangan pengarang tentang masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu untuk mengetahui bentuk perilaku dan proses mental  di dalam teks diperlukan pendekatan linguistik fungsional sistemik.

Penggunaan pendekatan strukturalisme genetik sebagai pisau analisis terhadap karya sastra, terutama tulisan-tulisan ilmiah di universitas, telah banyak dilakukan. Dalam hal ini dilakukan oleh Junus (1986:182—205). Junus melakukan dua penelitian dengan teori strukturalisme genetik. Penelitan pertama berjudul “Ziarah dan pandangan Iwan Simatupang tentang situasi masyarakat Indonesia: Pelaksanaan Pendekatan Goldmann”. Penelitian kedua berjudul Srengenge Pandangan Dunia Shahnon Ahmad tentang Tradisi dan Modern“ Dalam penelitian novel Ziarah karya Iwan Simatupang Junus berkesimpulan bahwa novel Ziarah merupakan cerminan masyarakat Indonesia yang tidak rasional Masyarakat Indonesia siap menyongsong modernitas, teknologi dan hal-hal yang tidak rasional seperti takhyul, dukun, dan ramalan. Dalam padangan Iwan masyarakat Indonesia menuju rasionalitas, sementara hal-hal yang tidak rasional belum sanggup mereka lepaskan Dalam penelitian novel Srengenge Junus berkesimpulan bahwa Shahnon Ahmad berpandangan bahwa akar budaya Melayu tidak mungkin lenyap meski masyarakat Melayu berusaha menyerap budaya modern. Modernitas atau pembaharuan yang dilakukan hanyalah struktur luar masyarakat, sementara itu jiwa masyarakat Melayu tetap Melayu. Pandangan demikian tidak hanya pandangan pengarang, tetapi pandangan masyarakat Melayu pada umumnya.

Selanjutnya yang menggunakan pendekatan strukturalisme genetik dilakukan oleh Faruk tahun 1999 terhadap novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli untuk tesisnya di Universitas Gajah Mada, yang menyimpulkan novel Siti Nurbaya mengeksprsikan dunia tragik, padangan dilematis mengenai kehidupan. Pandangan dunia tersebut merupakan produk berbagai tingkat sosial, baik antara pengarang sebagai pribadi dengan lingkungan keluarganya, pengarang sebagai sastrawan dengan pengayoman, dan pengarang sebagai anggota birokrat-aristokratik dengan lingkungan dalam sistem kolonial dan sistem sosial yang sedang mengalami perubahan sosial yang besar dan penuh konflik.

Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang berupa tulisan skripsi yang dilakukan penulis pada tahun 2005 di Universitas Pendidikan Indonesia, dengan judul “Pencarian jati diri (Kajian strukturalisme Genetik terhadap Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer)” penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya pandangan dunia pengarang yang begitu tragis masa tentara PETA dalam perang kemerdekaan. Hal ini ditandai dengan upaya pencarian jati diri yang dilakukan tokoh berakhir dengan tragis yang disimbolkan oleh kematian tokoh Ningsih. Keberadaan ini sejalan dengan keberadaan Pramoedya Ananta Toer yang pada saat itu mengalami masa sulit dan goncangan, baik secara pribadi yang berada dalam tahanan dan terhadap keberadaan kondisi bangsa yang mengalami penjajahan Jepang.

Penelitian yang menggunakan pendekatan yang sama juga dilakukan oleh Gustaf Sitepu yang menganalisis novel Asmaraloka karya Danarto untuk Tesisnya tahun 2009 di Universitas Sumatera Utara yang juga mengemukakan struktur mental yang terkandung dalam novel Asmaraloka. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah problematika tokoh lebih banyak disandarkan kepada Tuhan, dalam bentuk kepasrahan. Kemudian dalam penelitian ini tercermin adanya upaya Danarto yang berusaha memperjuangkan nilai-nilai yang dianutnya. Selain itu novel Asmaraloka yang membahas tentang perang antar etnis dan kerusuhan yang terjadi tahun 1998 mengindikasikan tidak adanya upaya pemerintah dalam merespon keberadaan aspirasi masyarakat. Untuk keluar dari kerusuhan tersebut diperlukan adanya penyucian hati dan kesadaran jiwa. Kemudian yang terakhir yaitu mengenai proses mental (afeksi, persepsi dan kognisi) mengindikasikan adanya penggambaran Danarto mengenai keadaan jiwa yang prustasi dan gundah gulana dalam menghadapi kondisi perang antar etnis.

Keberadaan ini mengisyarakatkan bahwa, sebenarnya (dan memang) karya sastra memiliki peran penting dalam kehidupan kemanusiaan, peran tersebut dapat tereksplorasi dari tradisi moral dan religi yang senantiasa menumbuhkan penghayatan terhadap nilai-nilai kebaikan, sehingga dapat membangun manusia untuk mengenali, memilih, dan meyakini yang benar adalah benar serta yang salah adalah salah.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana struktur trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala yang mencerminkan problematika tokoh akibat hubungan antar tokoh maupun lingkungannya?
  2. Bagaimana kehidupan sosial pengarang Ahmad Tohari yang berhubungan dengan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala?
  3. Bagaimana latar belakang sejarah atau peristiwa sosial masyarakat Indonesia yang mengkondisikan lahirnya trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala?
  4. Bagaimanakah pandangan Ahmad Tohari tentang masyarakat Indonesia dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala ?
  5. Bagaimankah prilaku manusia dan proses mental dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan struktur trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala yang mencerminkan problematika tokoh akibat hubungan antar tokoh maupun lingkungannya.
  2. Mendeskripsikan kehidupan sosial pengarang Ahmad Tohari yang berhubungan dengan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala.
  3. Menganalisis latar belakang sejarah atau peristiwa sosial masyarakat Indonesia yang mengkondisikan lahirnya trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala.
  4. Menganalisis pandangan Ahmad Tohari tentang masyarakat Indonesia dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala.
  5. Menganalisis prilaku manusia dan proses mental dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan manfaat praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini bermanfaat memberikan deskripsi teori strukturalisme genetik dan proses mental pada trilogi karya Ahmad Tohari ini.

Secara praktis, penelitian ini menghasilkan model penelitian teks sastra dengan teori strukturalisme genetik dan teori linguistik fungsional sistemik melalui analisis tingkah laku manusia dan proses mental. Model penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Penemuan problem sosial yang dialami oleh masing-masing tokoh.
  2. Pengkajian dunia sosial pengarang dalam kaitannya lingkungan keluarga dan kelompok sosial pengarang.
  3. Pengkajian peristiwa sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia yang dianggap mengkondisikan pengarang untuk menulis karya sastra.
  4. Penemuan pandangan pengarang dengan menghubungkan secara dialektika (poin 2 dan 3)
  5. Menemukan prilaku manusia dan proses mental, terutama yang tercermin dalam problematika psikologi  dalam trilogi novel karya Ahmad Tohari ini .

1.5 Metode Penelitian

Metode peelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan studi kepustakaan. Hal ini dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap data yang berupa buku-buku. Data primer adalah trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala, sedangkan data sekunder diperoleh dari pembacaan novel atau referensi yang berkaitan dengan novel yang penulis kaji. Data sekunder dipergunakan untuk mendukung interpretasi data primer.

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Strukturlisme Genetik

Teori strukturalisme-genetik dipelopori oleh Lucien Goldman, seorang pemimpin disiplin ilmu kritik Marxis dengan “Neo Hegelian” berkebangsaan Rumania. Munculnya strukturalisme genetik diawali dari adanya pandangan Taine yang mencoba menelaah sastra dari sudut pandang sosiologis. Menurut Taine, sastra tidak hanya sekedar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, tetapi dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan (Junus dalam Fananie 2000:117). Fenomena hubungan tersebut kemudian dikembangkan oleh Lucien Goldmann dengan teorinya yang dikenal dengan Strukturalisme Genetik (Fananie 2000:117). Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Strukturalisme Genetik Goldmann adalah penelitian sosiologi sastra (Junus 1988:20).

Sosiologi sastra yang dikembangkan Goldmann mencoba untuk menyatukan analisis struktural dengan materialisme historis dan dialektik. Baginya, karya sastra harus dipahami sebagai totalitas yang bermakna (Damono1978:40). Lebih lanjut Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya (Fananie 2000:117).

1.6.1.1 Konsep Struktur Karya Sastra

Dalam Pengantar Sosiologi Sastra Dari Strukturalisme Genetic Hingga Post Modernime, yang ditulis oleh Faruk, Goldman menyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur, akan tetapi struktur itu bukan merupakan hal yang statis, melainkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi, dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan.

Karya sastra memiliki struktur yang koheren atau terpadu. Konsep struktur karya sastra dalam teori strukturalisme genetik berbeda dengan konsep struktur karya sastra otonom. Goldmann pernah mengatakan dua pendapat mengenai karya sastra.  Pertama, karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Kedua dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi-relasi secara imajiner. Karena itu, dibedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual sedangkan sosiologi mengacu pada empirisitas (Faruk, 1999:17).

Struktur karya sastra dalam pandangan Goldmann adalah konsep struktur yang bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatian adalah relasi antara tokoh dengan tokoh  dan tokoh dengan objek yang ada di sekitar tokoh. Goldmann mendefenisikan novel sebagai cerita mengenai pencarian nilai-nilai otentik yang terdegradasi dalam dunia yang juga terdegradasi. Pencarian tersebut dilakukan oleh seorang atau tokoh hero yang problematik (Faruk, 1994:18).

Karya sastra sebagai karya estetik dalam pandangan strukturalisme genetik memiliki dua estetika, yaitu estetika sosiologis dan estetika sastra. Berkaitan estetika sosiologis, strukturalisme genetik menunjukkan hubungan antara salah satu pandangan dunia dan tokoh-tokoh serta hal-hal yang diciptakan pengarang dalam karyanya. Sedangkan berkaitan dengan estetika sastra, strukturalisme genetik menunjukkan hubungan antara alam ciptaan pengarang dengan perlengkapan sastra yang dipergunakan pengarang untuk menuliskannya (Damono,1984:43).

Karena struktur karya sastra merupakan representasi dan mengambil bahan masyarakat, struktur karya sastra memiliki hubungan secara tidak langsung dengan struktur masyarakat. Dalam hubungan itu, peran pengarang sangat menentukan. Dalam struktur karya sastra yang dihasilkan, seorang pengarang menyuarakan aspirasi kelompok sosial tertentu melalui gambaran problematik hubungan tokoh tokoh yang dilukiskan

Struktur karya sastra dengan demikian harus dipahami sebagai totalitas yang bermakna. Pemahaman itu dapat dilakukan dengan melihat hubungan antara tokoh dengan tokoh lain maupun antara tokoh dengan lingkungannya. Dari hubungan hubungan tersebut, terlihatlah problematika yang dihadapi sang tokoh dalam memperjuangkan nilai kehidupan yang dianggap sesuai dengan kelompok sosialnya dalam menghadapi kelompok sosial yang lain.

1.6.1.2 Fakta Kemanusiaan

Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia, baik berupa verbal maupun fisik yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan (Faruk, 1998: 70-71). Fakta kemanusiaan dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik, aktivitas individual tertentu, kreasi kultural yang berupa seni sastra, seni musik, filsafat dan lainnya.

Fakta kemanusiaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fakta sosial dan fakta individual. Fakta sosial mempunyai peran dalam sejarah, sedangkan fakta individual merupakan aktivitas libidinal seseorang. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disebutkan subjek dari fakta kemanusiaan adalah subjek kolektif dan subjek individual.

Fakta kemanusiaan merupakan hasil usaha manusia dalam mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar (Goldman dalam Faruk 1998: 71). Untuk mencapai keseimbangan tersebut, diharuskan adanya proses strukturasi timbale balik yang saling bertentangan tetapi sekaligus saling isi-mengisi, dalam kata lain adanya fase trans-individual.

Subjek trans-individual merupakan satu kesatuan atau kolektivitas individu-individu tersebut. Hal demikian juga menjadi subjek karya sastra yang besar, sebab karya sastra semacam itu merupakan hasil aktivitas yang objeknya sekaligus alam semesta dan kelompok manusia. Karya sastra yang besar berbicara alam semesta dan hukum-hukumnya serta persoalan-persoalan yang tumbuh darinya (Faruk, 1994:14—15).

 

1.6.1.3 Subjek Kolektif

Karya sastra merupakan manivestasi fakta kemanusiaan yang dilakukan oleh subjek kolektif. Aspirasi pengarang dalam karyanya bukan semata-mata aspirasi individual. Aspirasi pengarang adalah aspirasi yang mewakili kolektifitas kelompok sosialnya. Kedudukan sosial pengarang dalam kelompok sosialnya kemudian menjadi penting dan mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya

Konsep subjek kolektif digunakan dalam penelitian untuk megetahui latar kehidupan sosial pengarang. Pengarang jelas diikat oleh kelompok sosialnya. Pengarang jelas akan menyuarakan aspirasi kelompok sosial atau subjek kolektif. Sebagai individu yang menginterpretasikan subjek kolektifnya, pengarang memiliki struktur mental yang mencerminkan subjek kolektifnya. Struktur mental pengarang ini dibentuk oleh lingkungan keluarga dan masyarakat atau kelompok sosialnya. Lingkungan keluarga atau orang tua mewarnai pandangan pengarang karena kebiasaan-kebiasaan, norma, filsafat kehidupan banyak tertanam melalui hubungan sosiologi keluarga. Sementara itu, kelompok sosial pengarang berupa hubungan persahabatan dengan manusia lain, pengalaman hidup, serta buku-buku hubungan persahabatan dengan manusia lain, pengalaman hidup, serta buku-buku bacaan yang memiliki kontribusi proses kreatif pengarang.

1.6.1.4 Konsep Pandangan Dunia

Pandangan dunia merupakan kompleks yang menyeluruh dari gagasan-gagasan, inspirasi-inspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial lainnya (Goldman, dalam Faruk 1988: 74).

Berdasarkan definisi di atas, maka pandangan dunia bukanlah merupakan fakta empiris langsung, tetapi lebih merupakan struktur gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat menyatukan suatu kelompok sosial dihadapan kelompok sosial lainnya. Pandangan dunia bukan merupakan ekspresi suatu kelompok sosial saja, tetapi juga kelas sosial. Sebab seorang pengarang juga merupakan anggota kelas sosial, lewat suatu kelaslah ia berhubungan dengan perubahan sosial dan politik yang besar.

Seperti Taine dan Plekanov, Goldman (dalam Damono, 1979: 45) beranggapan, bahwa pendekatan sosialogis (dalam hal ini Strukturalisme genetik) yang sahih hanya bisa dilaksanakan terhadap karya sastra besar, karena karya sastra yang besar memiliki konsep pandangan dunia, sehingga adanya koherensi dalam karya sastra tersebut, baik deep structure maupun surface structure.

Selain hal di atas, Goldman menemukan adanya pandangan dunia yang bersifat tragik. Pandangan dunia ini mengandung tiga elemen, yaitu pandangan mengenai Tuhan, manusia, dan dunia. Pandangan dunia tragik mengenai semua elemen itu bercirikan dua hal yang bertentangan. Pertama, pemahaman secara lengkap dan tepat mengenai dunia baru yang diciptakan oleh individu rasionalistik bersama tuntutan-tuntutan yang berharga dan secara ilmiah sahih. Kedua, penolakan secara total untuk menerima dunia tersebut sebagai satu-satunya dunia yang memungkinkan manusia hidup, bergerak, dan mempunyai keberadaan. Dalam konteks cerita novel, kedua hal yang bertentang tersebut berlangsung dalam waktu yang sekaligus bersamaan.

1.6.1.5 Konsep “Pemahaman-Penjelasan“ dan “Keseluruhan-Bagian“

Konsep “pemahaman-penjelasan“ dan “keseluruhan–bagian“ terkait dengan metode yang digunakan oleh teori srtukturalisme genetik. Karya sastra harus dipahami sebagai struktur yang menyeluruh. “Pemahaman“ sastra sebagai struktur menyeluruh akan mengarahkan pada “penjelasan“ hubungan sastra dengan sosio-budaya sehingga karya sastra memiliki arti. Karya sastra merupakan satuan yang dibangun dari bagian-bagian yang lebih kecil, karena itu, pemahaman terhadap karya sastra dilakukan dengan konsep “keseluruhan-bagian“. Teks karya sastra itu sendiri merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, yang membuatnya menjadi struktur berarti. Konsep tersebut melahirkan metode “dialektika“. Prinsip dasar metode ini adalah bahwa karya sastra dengan realita masyarakat memiliki hubungan yang dialektika, hubungan yang secara tidak langsung. Karya sastra mempunyai dunia tersendiri dan masyarakat merupakan dunia tersendiri. Meski memiliki dunia yang berlainan, karya sastra dan realita dapat dilihat melalui proses interpretasi. Perhatian pertama tertuju pada teks karya sastra dan perhatian yang kedua terhadap latar belakang sosiobudaya masyarakat (Junus, 1986:194).

Dalam metode dialektika dikenal konsep “pemahaman-penjelasan“. Pemahaman adalah usaha pendeskripsian struktur objek (karya sastra) yang dipelajari. Penjelasan adalah usaha menggabungkan pemahaman ke dalam struktur yang lebih besar. Konsep “keseluruhan–bagian“ mengemukakan dialektika antara keseluruhan dan bagian. Keseluruhan hanya dapat dipahami dengan mempelajari bagian-bagiannya dan bagian-bagian tersebut dapat dipahami kalau ditempatkan dalam satu keseluruhan. Pemahaman dilihat sebagai suatu proses yang melingkar terus-menerus dari keseluruhan ke bagian dan dari bagian ke keseluruhan. (Saraswati, 2003:81).

Strukturalisme genetik sebagai teori dengan demikian menawarkan sebuah metode analisis data. Berkaitan dengan analisis data tersebut, konsep ”pemahaman-penjelasan” dan ”bagian-keseluruhan” memberikan prosedur sebagai berikut, pertama, data novel dianalisis bagian per bagian. Untuk memperoleh pemaknaan bagian-bagian harus dipandang dalam hubungannya sebagai keseluruhan. Dalam analisis ini, perhatian utama peneliti adalah hubungan antara tokoh dengan tokoh lain maupun hubungan tokoh dengan lingkungannya. Dengan demikian terlihat problem yang dihadapi masing-masing tokoh. Kedua, agar hubungan bagian keseluruhan novel tersebut dapat dipahami, maka peneliti harus memberikan penjelasan. Penjelasan dilakukan dengan cara menghubungkan struktur novel dengan struktur sosial pengarang yang meliputi kehidupan sosial pengarang dan sejarah yang secara sinkronis dianggap mengkondisikan pengarang menulis novel

1.6.2 Linguistik Fungsional Sistemik: Proses Mental      

1.6.2.1 Linguistik Fungsional Sistemik

Untuk menemukan proses mental dalam penelitian ini, strukturalisme genetik ditopang oleh teori linguistik fungsional sistemik (triangulasi teori). Teori LFS dikembangkan oleh Halliday dan para pakar LFS lainnya, seperti Martin, Halliday dan Matthiessen, dan Kress. Teori ini berkembang di Inggris, tetapi perkembangannya sangat pesat terutama di Universiy of Sydney Australia sejak Linguistics Department dibuka di universitas itu pada 1976 (Sinar dalam Gustaf Sitepu, 2009).

Dalam teori linguistik fungsional sistemik (LFS) dengan pendekatan fungsional dinyatakan bahwa bahasa terstruktur berdasarkan fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, bahasa terstruktur berdasarkan tujuan penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan untuk suatu fungsi atau tujuan disebut teks (text). Dengan pengertian itu, teks yang digunakan untuk menceritakan peristiwa (narasi) terstruktur berbeda dengan teks yang digunakan untuk melaporkan satu peristiwa (laporan), kecenderungan tata bahasa dalam teks sejarah berbeda dengan teks fisika dan struktur teks politik dan berbeda dengan teks kesastraan. Perbedaan ini terjadi karena fungsi dan tujuan masing-masing teks berbeda.  Perbedaan teks direalisasikan oleh perbedaan tata bahasa (lexicogramar) secara kualitatif dan kuantitatif. Yang dimaksud dengan perbedaan kualitatif adalah dalam dua teks yang berbeda tujuannya pemunculan suatu aspek tata bahasa terjadi pada satu teks itu, sementara dalam teks yang satu lagi aspek tata bahasa itu tidak muncul. Perbedaan kuantitatif menunjukkan bahwa tingkat probabilitas pemunculan aspek tata bahasa itu lebih tinggi daripada teks yang satu lagi.

Dengan pengertian fungsional di atas, teks dinterpretasikan sebagai ditentukan oleh konteks sosial, yakni segala unsur yang terjadi di luar teks.  Dengan kata lain, konteks sosial memotivasi pengguna atau pemakai bahasa menggunakan struktur tertentu.  Konteks sosial yang mempengaruhi bahasa ini dalam teori LFS terdiri atas konteks situasi (register)r dan budaya (culture) yang di dalamnya termasuk ideology (ideology). Konteks situasi mengacu kepada kondisi dan lingkungan yang mendampingi atau sedang berlangsung ketika penggunaan bahasa berlangsung atau ketika interaksi antarpemakai bahasa terjadi.  Konteks situasi dirinci sebagai terdiri atas tiga subelemen, yaitu (1) medan (field)), yakni apa— (what) yang dibicarakan dalam interaksi, (2) pelibat (tenor) yakni siapa— (who) yang terkait atau terlibat dalam interaksi, dan (3) cara (model) yakni bagaimana— (how) interaksi dilakukan.  Lebih lanjut, Halliday (1974) menegaskan bahwa bahasa adalah fenomena antarmanusia yang disebut sebagai interorganism (Saragih dalam Gustaf Sitepu, 2009)

 

1.6.2.2 Proses mental

Halliday (dalam Sitepu, 2006:28) menjelaskan bahwa satu unit pengalaman yang sempurna direalisasikan dalam klausa yang terdiri atas tiga unsur, yaitu proses (process) partisipan (participant)  dan sirkumstan (circumstance). Proses menunjuk kepada kegiatan atau aktivitas yang terjadi dalam klausa yang menurut tata bahasa tradisional dan formal disebut kata kerja atau verb. Partisipan dibatasi sebagai orang atau benda yang terlibat  dalam proses tersebut. Sirkumstan adalah lingkungan tempat proses yang melibatkan partisipan terjadi. Inti dari satu pengalaman adalah proses Dikatakan demikian, proses menentukan jumlah dan kategori partisipan. Proses juga menentukan sirkumstan secara tidak langsung

Proses mental menunjukkan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut indera kognisi, emosi, dan persepsi yang terjadi dalam diri manusia, seperti melihat mengetahui, menyenangi, membenci, menyadari, dan mendengar. Proses mental terjadi di dalam diri (inside) manusia dan mengenai mental atau psychological Aspects kehidupan.

Secara semantik, proses mental menyangkut pelaku manusia saja atau wujud lain yang dianggap atau berperilaku manusia, seperti tingkah laku dalam dongeng yang mengisahkan bahwa burung pungguk merindukan bulan. Proses mental yang mencakup kriteria semantik dan sintaksis, yaitu proses mental menyangkut manusia klausa mental memiliki paling sedikit satu partisipan manusia, seperti klausa Ayah sedang menikmati pagi bersama secangkir kopi yang memaparkan pengalaman mental dengan menikmati dan partisipan ayah. Di samping itu, proses mental dapat diikuti proyeksi dan proses mental tidak dapat diikuti oleh aspek sedang Proses mental juga merupakan proses dua hal, yakni klausa dengan dua partisipan.

1.7 Definisi Operasional

Strukturalisme genetik

trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Damono, Sapardi Joko,1979. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Depdikbud.

Eagleton, Terry, 2001. Marxisme dan Kritik Sastra. Jakarta: Jendela

Faruk, 1988. Strukturalisme Genetik dan Epistemologi Sastra. Yogyakarta : PD Lukman Offset.

__________1999. Pengantar Sosiologi Sastra Dari Strukturalisme Genetik Hingga Post Modernime. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

__________1999. Hilangnya Pesona Dunia, Siti Nurbaya, Budaya Minang, Struktur Sosila Kultural. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia 

Fananie, Zaenuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Jabrohim, 2001. Metode Penelitian Sastra, Yogyakarta : Hanindita

Junus, Umar. 1983. Dari Peristiwa ke Imajinasi. Jakarta: Gramedia.

___________1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.

___________1988. Karya Sastra Sebagai Sumber Makna Pengantar Strukturalisme. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Kementrian Pendidikan Malaysia.

Luxemburg, Jan Van, Mieke Bell, dan Wellem. Diindonesiakan oleh Dik Hartoko. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

­­___________1984. Tentang Sastra. Jakarta: Gramedia.

Nuswantoro. 2001. Daniel Bell Matinya Ideologi. Magelang: Indonesia Tera.

Pradopo, Rachmad Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sitepu, Gustap. 2009. Strukturalisme Genetik Asmaraloka. Tesis. Universitas Sumatera Utara. Medan

Sumardjo, Yakob 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Tohari, Ahmad. 2009. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Ucu. 2005. Pencarian Jati Diri (Analisa Strukturalisme Genetik Pada Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer) Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusasteraan. Terjemahan Melani Budianto. Jakarta: Gramedia.

Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: