Mengenai Pragmatik

PENGGUNAAN PRINSIP-PRINSIP PRAGMATIK DALAM PERISTIWA TUTUR PADA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI STKIP SILIWANGI BANDUNG

Oleh

Ucu, S.S, M.Pd dan Diena San Fauziyah, M.Pd

1.1  Latar Belakang Penelitian

Bahasa sebagai lambang bunyi yang bersistem tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Dua medium bahasa yakni lisan dan tulis menjadi dimensi penggunaan bahasa. Namun, dalam  penggunaanya, medium lisan seringkali dinilai bersifat lebih efektif dan komunikatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Nurgiyantoro (2009:277) yakni bahasa lisan lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penggunaan bahasa secara lisan, dikenal peristiwa yang disebut peristiwa tutur. Peristiwa tutur ini diartikan Yule (2006:82) sebagai suatu kegiatan di mana para peserta tutur berinteraksi dengan bahasa dalam cara-cara konvensional untuk mencapai suatu hasil. Inilah yang kemudian membedakan bentuk bahasa secara lisan dan tulis. Bentuk bahasa lisan yang disebut sebagai tindak tutur tidak akan pernah terlepas dari konteks. Segala hal yang tidak bisa dijelaskan oleh pernyataan atau bentuk tuturan lain akan dapat dijelaskan oleh konteks.

Keberadaan konteks dalam tuturan merupakan bagian dari kajian pragmatik. Terlepas dari hal itu, pragmatik juga mengkaji peristiwa tutur berdasarkan prinsip. Artinya, secara disadari ataupun tidak, dalam peristiwa tutur, baik penutur maupun lawan tutur sebagai bagian dari peristiwa tutur itu sendiri akan berkenaan dengan penggunaan prinsip-prinsip pragmatik.

Kedudukan prinsip dalam peristiwa tutur berbeda dengan kedudukan kaidah dalam hal berkegiatan menulis. Inilah yang kemudian membawa kajian pragmatik menjadi sebuah kajian fungsional, bukan kajian hukum seperti kajian formal. Pelanggaran kaidah dalam kajian formal tentu dinyatakan salah karena telah melanggar hukum, namun pelanggaran prinsip dalam kajian pragmatik belum tentu dinyatakan salah.

Penggunaan prinsip-prinsip pragmatik ini akan berkaitan erat dengan kelancaran proses berbahasa secara lisan, sehingga menciptakan komunikasi yang efektif dan efisien. Selain itu, secara langsung maupun tidak langsung, cara dan gaya berbahasa yang baik cenderung menjadi faktor penentu derajat pendidikan seseorang. Walaupun tentunya hal itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang berkembang di masyarakat mengenai gaya bertutur atau berbahasa, mulai dari “bahasa menunjukkan bangsa”, “usul menunjukkan asal”, “budi baik basa ketuju”, hingga “yang elok budi yang indah bahasa”.

Cukup banyaknya perumpamaan-perumpamaan berbahasa seperti yang disebutkan di atas, cukuplah menjadi bukti bahwa berbahasa dalam hal ini kaitannya dengan bertutur sangat berperan penting dalam kehidupan. Kepentingan bahasa itu sendiri menjadi penunjuk tingkat derajat kebaikan seseorang.

Selain hal itu, penggunaan bahasa atau penggunaan tuturan kaitannya dengan peristiwa tutur pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas juga tentulah menjadi salah satu objek kajian yang bahasa yang sangat penting. Proses komunikasi yang efektif dan efisien antara dosen dengan mahasiswa ataupun mahasiswa dengan mahasiswa tentu akan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif dan efisien. Proses demikian tentu akan pula memberikan hasil pembelajaran yang lebih optimal. Inilah yang menjadi landasan penting mengapa penggunaan prinsip-prinsip pragmatik sangat penting untuk diperhatikan, meskipun jika melanggar belum tentu menjadi salah. Selain itu, melalui kajian ini, penggunaan prinsip-prinsip pragmatik diharapkan dapat menjadi sebuah bahan untuk meningkatkan kualitas penggunaan bahasa pada saat kegiatan belajar mengajar, khususnya di STKIP Siliwangi Bandung sebagai tempat di mana penelitian dilakukan.

 

1.2  Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan paparan dalam latar belakang masalah penelitian di atas, masalah dirumuskan sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah penggunaan bahasa dosen dan mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar di STKIP Siliwangi Bandung?
  2. Bagaimana penggunaan prinsip-prinsip pragmatik dalam kegiatan belajar mengajar di STKIP Siliwangi Bandung?
  3. Apakah penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip pragmatik membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih berkualitas?

 

1.3  Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar rumusan masalah di atas, secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk memotret, mengkaji dan mendeskripsikan sejauh mana prinsip-prinsip pragmatik diperhatikan dan digunakan dalam peristiwa tutur pada kegiatan belajar mengajar di STKIP Siliwangi Bandung. Secara khusus, berkaitan dengan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bahasa dosen dan mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar di STKIP Siliwangi Bandung.
  2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan prinsip-prinsip pragmatik dalam kegiatan belajar mengajar di STKIP Siliwangi Bandung.
  3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip pragmatik terhadap kualitas kegiatan belajar mengajar.

 

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Manfaat teoretis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata dan perbandingan teori berdasarkan hasil studi lapangan mengenai penggunaan prinsip-prinsip pragmatik bahwa pelanggaran prinsip belum tentu salah dan tidak menjadikan seseorang menjadi terdakwa dan dikenai hukuman.
  2. Manfaat praktis. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah cermin dalam penggunaan bahasa yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di STKIP Siliwangi Bandung.

 

1.5  Definisi Operasional

Untuk memperjelas arah dan tujuan penelitian, berikut ini definisi variabel penelitian.

  1. Prinsip-prinsip pragmatik merupakan segala bentuk asas yang menjadi landasan bertutur. Dalam kajian pragmatik, yang menjadi landasan adalah prinsip, di mana ketika terjadi pelanggaran maka belum tentu menandakan sebuah kesalahan.
  2. Peristiwa tutur merupakan berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat dan situasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: