Essay Tentang Sastra

Realitas ketimpangan sosial Muatan Karya Sastra

Oleh

Ucu, S.S, M.Pd

Sastra adalah hasil dari suatu kegiatan kreatif yang memadukan unsur estetika dan komunikatif  yang berisikan ide, pemikiran dan gagasan dari pengarang. Dalam prespretif muatan, pada dasarnya sastra merupakan cerminan masyarakatnya. Sementara dalam perspektif kemasyarakatan sastra merupakan sebuah budaya yang saling mengisi dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu sastra berperan penting dalam kehidupan kemanusiaan, peran tersebut dalam diejawantahkan ke dalam berbagai bidang kehidupan manusia, baik ekonomi, sosial, politik maupun lainnya.

Berbicara mengenai upaya pengkajian sebuah karya sastra, Frederik Eagles (Terry Eagleton, 2001: …) mengemukakan bahwa seni (sastra) jauh lebih kaya dan sulit dipahami, dibandingkan dengan teori politik maupun ekonomi. Seni (sastra) tidak semata-mata ideologis. Untuk itu, maka intensitas  pengkajian karya sastra harus terus mendapat kesempatan yang lebih banyak guna mengembangkan pemahaman terhadap karya sastra tersebut maupun penggunaan teori pengkajiannya.

Mengenali proses kelahirannya, penciptaan sebuah karya sastra mengalami proses yang panjang hingga dapat sampai ke tangan pembaca, Proses ini seringkali tidak diketahui oleh pembaca awam dan mungkin pula dianggap sepele oleh sebagian penelaah sastra awam, mulai dari munculnya dorongan pertama untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapan, sampai akhirnya tercipta sebuah karya yang siap untuk dibaca oleh publik.

Setiap karya sastra yang ditulis tentunya memiliki ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca, dengan harapan apa yang disampaikan itu menjadi sesuatu yang berharga bagi perkembangan kehidupan masyarakat. Adapun ide, gagasan atau pengalaman dan amanat yang ingin disampaikan sastrawan tersebut tidak akan terlepas dari kondisi lingkungan penulisnya. Pradopo (2002:59) mengemukakan  bahwa karya sastra secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang. Sejalan dengan kondisi tersebut, Herder (dalam Atmazaki, 1990: 44) menjelaskan bahwa karena karya sastra dipengaruhi oleh lingkungannya, maka karya sastra merupakan ekspresi zamannya sendiri. Kondisi ini mengakibatkan adanya hubungan sebab akibat dan timbal balik antara karya satra dengan situasi sosial tempatnya dilahirkan. Terkait hal itu pula Ikhwanuddin Nasution dalam tulisannya pada saat pengukuhan guru besarnya di Universitas Sumatra Utara (Nasution, 2009 : 2) menyatakan bahwa karya sastra (sastra) merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari sosial-budaya dan kehidupan masyarakat yang digambarkannya.

Keberadaan ini mengisyarakatkan bahwa, sebenarnya (dan memang) karya sastra memiliki peran penting dalam kehidupan kemanusiaan, peran tersebut dapat tereksplorasi dari tradisi moral dan religi yang senantiasa menumbuhkan penghayatan terhadap nilai-nilai kebaikan, sehingga dapat membangun manusia untuk mengenali, memilih, dan meyakini yang benar adalah benar serta yang salah adalah salah.

Dari awal keberadaannya sebagai hasil kebudayaan yang dikenal dengan sastra tradisional, karya sastra Indonesia kemudian terus berkembang hingga akhirnya dikenal dengan sastra modern. Perkembangan sastra Indonesia mengalami berbagai ekplorasi substansi (terutama tema) mulai dari keberadaan permasalahan ekonomi, sosial, politik maupun budaya dan permasalahan keagamaan. Dari awal masa kemerdekaan novel Matahariah karya Mas Marco Kartodikromo mengangkat pemikiran multikulturalisme yang tidak terlepas dari realitas sosial dengan mengeksplorasi permasalahan kemiskinan serta kolonialisme, konfrontasi ras, bangsa-bangsa, dan kebudayaan, sehingga ironisnya, aktivis seperti Marco menjadi korban pertama yang mengakhiri hidupnya di penjara yang penuh nyamuk malaria (Ratih Dewi 2006: 2). Selain itu pada tahun ’60-an karya-karya Pramoedya Ananta Toer seperti Tetralogi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, kemudian, novel Perburuan, Gadis Pantai dan lainnya yang mengeksplorasi sosio-kultural Indonesia yang juga dipadukan dengan konfrontasi ras, ketimpangan sosial dan ekonomi yang begitu signifikan.

Pada era tahun 70-an permasalahan budaya dan adat kemudian mengemuka yang ditandai dengan hadirnya novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan terus berlanjut pada tahun 80-an walaupun pada akhirnya tahun ini perkembangan permasalahan ketimpangan sosial, ekonomi, politik lebih banyak berkembang seperti yang tereksplorasi dalam trilogi novel Ahmad Tohari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Tahun 70-an yang bila meminjam kata-kata Moh. Wan anwar bahwa karya sastra tahun 70-an lebih tercurah pada eksperimentasi estetik dengan budaya tradisi sebagai sumber. Walaupun pada waktu itu ada karya-karya Iwan Simatupang yang menulis karya sastra dengan sindiran dan ejekannya yang juga menonjolkan ketidakberesan sosial (Zaimar 1991:207-218), namun hal tersebut tidak membangun pandangan pembaca terhadap keseluruhan hasil karya sastra yang muncul pada tahun 70-an.

Perkembangan karya sastra yang memperbincangkan permasalahan ketimpangan ekonomi dan sosial pada tahun 90-an hingga tahun 2000-an masih terus berlanjut dengan munculnya novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Ketimpangan sosial dan perekonomian yang terejawantahkan ke dalam bentuk kemiskinan dalam novel Laskar Pelangi, tampak jelas dengan adanya sekolah khusus yang dibentengi dengan tembok tinggi bagi karyawan PN Timah yang menyediakan sarana-prasarana pendidikan memadai, fasilitas yang lengkap, dan kehidupan yang layak. Sedangkan SD Muhammadiyah tidak mempunyai semua fasilitas yang dimiliki oleh sekolah PN Timah, semangat anak-anak kampung miskin tersebut untuk berjuang dengan gigihnya agar dapat belajar tidak pernah padam walaupun dalam keadaan yang serba terbatas. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang sehingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.

Pembahasan mengenai ketimpangan ekonomi dan sosial ini menjadi sebuah bom pada tahun 2000-an ini bagi keberadaan masyarakat sekarang setelah perkembangan karya sastra sebelumnya yang lebih mengeksplorasi permasalahan cinta dan ketabuan yang diantaranya hubungan seksual dan permasalahan kelamin yang dapat terlihat pada karya-karya Ayu Utami,  Jenar Mahesa Ayu dan lainnya serta karya-karya yang lebih berkisar pada karya novel populer Islami yang lebih di setir oleh Helvi Tiana Rosa dan karya-karya yang lebih mementingkan aspek pasar. Sehingga fenomena laskar pelangi ini menjadi sebuah karya yang mendapat tempat khusus dihati masyarakat.

MENYOAL CERITA RAKYAT SEBAGAI BAHAN AJAR

DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

oleh

U C U, S.S, M.Pd

Abstrak

Sebagai sebuah materi ajar, cerita rakyat sebagai bagian dari pembelajaran apresiasi sastra sungguh sangat mengkhawatirkan. Beberapa persoalan yang muncul seputar pembelajaran cerita rakyat ini adalah penelitian mengenai cerita rakyat setempat kurang, materi ajar atau bahan ajar mengenai cerita rakyat sedikit, waktu/ kesempatan pelaksanaan pembelajaran cerita rakyat terbatas,  dan pelaksanaan pembelajaran sastra, khususnya cerita rakyat, kurang meningkatkan minat siswa.

Persoalan-persoalan tersebut muncul sekaitan dengan adanya indikasi gagalnya pembelajaran sastra yang dilakukan di Indonesia. Terlepas dari kebijakan yang nanti akan dikeluarkan oleh pemerintah dalam bidang pendidikan, namun perlu adanya upaya untuk menjawab persoalan tersebut, setidaknya dalam tataran praktis, agar guru dapat menggunakan model pembelajaran yang memang dapat merangsang kreatifitas dan minat siswa untuk mempelajarinya.

Kata kunci: cerita rakyat, bahan ajar.

A.    Pendahuluan

Zoetmulder dalam pengantar buku Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, mengungkapkan “seluruh dunia telah maklum akan hasil gemilang yang dicapai bangsa Indonesia dahulu kala dalam bidang kesenian. Lewat karya-karya seni mereka mengungkapkan  ide-ide religius, beserta pandangan mereka mengenai manusia dan alam semesta” (1994: XI). Bentuk-bentuk kesenian yang dimiliki bangsa Indonesia banyak rupa, diantaranya karya sastra yang banyak dibuat oleh para mpu, baik sastra lisan maupun tulis, keterampilan hingga menghasilkan arsitektur candi serta hasil budaya lainnya yang menjadi sebuah kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki budaya luhur.

Berpijak dari hal di atas, masyarakat Indonesia seyogyanya menjadi masyarakat yang memiliki kekuatan budaya, sehingga dengan besarnya arus kebudayaan lain yang masuk, masyarakat Indonesia telah memiliki pandangan yang baik untuk dapat memilih, bahkan mengeksplorasi dirinya menjadi individu yang memiliki kontribusi bagi perkembangan bangsa ini.

Namun, kondisi yang terjadi dewasa ini justru sebaliknya. Dari perspektif kebudayaan, perkembangan masyarakat saat ini justru mengalami kemerosotan. Lemahnya pertahanan budaya saat ini justru mengakibatkan masyarakat Indonesia kelimbungan, sehingga tidak bisa membedakan budaya mana yang seyogyanya dapat dipegang sesuai dengan karakteristik masyarakat timur dan budaya mana yang perlu dicerna. Dengan kondisi ini, maka dapat kita saksikan kemerosotan ekonomi, kericuhan politik, ketegangan dan keretakan sosial sehingga muncul perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, tawuran pelajar, emansipasi wanita yang kebablasan, bahkan sekarang ini bangsa Indonesia disibukan dengan maraknya aksi terorisme serta berbagai persoalan lainnya yang seyogyanya dapat dieliminasi oleh kita sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang luhur.

Perkembangan saat ini memang menjadi sebuah pijakan untuk dapat dilakukan perubahan. Sebagaimana apa yang diyakini oleh Faruk (2003:5) bahwa peradaban manusia suatu saat akan mengalami titik balik, setelah berabad-abad percaya bahwa sejarah umat manusia merupakan suatu kesatuan jaringan yang bergerak dan berkembang secara linear, menuju suatu puncak peradaban yang dinamakan sebagai modernitas tiba-tiba akan muncul suatu kepercayaan baru yang memperlihatkan kecenderungan yang sebaliknya. Keyakinan ini perlu dibarengi dengan sistem yang dapat menuntun masyarakat agar dapat menemukan kembali kekuatan budaya yang pernah dimiliki.

Sistem yang dimaksud di atas dapat berupa pola-pola dasar guna menuntun paradigma berpikir dan kepercayaan yang lebih kepada etic-religius, yang tidak hanya menekankan sisi kognitif, namun pula sisi afektifnya, dengan adanya penekanan pada sisi moralitas dan ketuhanan yang dapat tereksplorasi dalam diri manusia Indonesia, yang dalam hal ini dapat dilakukan oleh dimensi pendidikan.

Dalam sistem pendidikan di indonesia justru sisi kognitiflah yang lebih banyak mendapat kesempatan untuk dieksplorasi. Sebagai contoh penerapan pembelajaran lebih kepada hafalan, penilaian yang dilakukan oleh setiap guru dimaknai oleh nilai atau angka, sehingga peserta didik disibukan untuk ‘mengejar-ngejar’ nilai atau angka tersebut.  Selain itu sedikitnya waktu untuk mata pelajaran yang dapat mengimbangi sisi kognitif, seperti sastra, bahkan untuk mata pelajaran sastra tidak hanya sedikitnya waktu yang dialokasikan, namun pula keberadaan guru yang kurang memiliki wawasan bersastra, sehingga kesulitan dalam menentukan bahan ajar. Kondisi ini menjadi sebuah ironi bagi cita-cita luhur pelaksanaan pendidikan yang pada dasarnya merupakan proses ‘memanusiakan manusia’.

Apabila merujuk pada tujuan pendidikan nasional yang terkandung dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 yaitu

“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

maka,  mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, khususnya pembelajaran  sastra Indonesia dengan bahan ajar cerita rakyat, memiliki kesempatan yang luas untuk menggali potensi siswa. Melalui kegiatan apresiasi, siswa dapat menggali, mengetahui, menghayati serta dapat mengaktualisasikan nilai-nilai sosial, budaya, agama dan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat mengantarkan siswa menuju kearifan, kebijaksaan hidup serta dapat membangun jiwa untuk mengenali, memilih, meyakini dan mengimplementasikan yang benar adalah benar serta yang salah adalah salah, karena karya sastra (sastra) merupakan cerminan nilai-nilai dari suatu masyarakat.

Mendukung pencapaian tujuan pendidikan di atas, sesuai dengan perkembangan yang terjadi, Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) yang sekarang dilaksanakan, secara eksplisit  menyatakan, bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, namun pula sebagai perencana pendidikan. Artinya, dalam konteks pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia, guru dapat menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan keterampilan dan pengetahuan yang diimikinya dan juga sesuai dengan domisili wilayah yang didiami, salah satunya menggunakan cerita rakyat setempat dalam pembelajaran apresiasi sastra.

B.    Apa itu Cerita Rakyat?

Rusyana (1978: 17) mengemukakan bahwa cerita rakyat adalah sastra lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat yang berkembang dan menyebar secara lisan pada beberapa generasi dalam suatu masyarakat.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka cerita rakyat termasuk ke dalam sastra lisan yang berbentuk cerita lisan yang hidup dan bertahan dalam suatu lingkungan masyarakat disebarkan turun-temurun dalam lingkungan masyarakat tersebut secara lisan.

Bascom (Danandjaja, 2002:50), membagi cerita rakyat ke dalam tiga golongan besar, yaitu : (1) Mite (myth), (2) Legenda (legend), dan (3) Dongeng (folktale).

1.       Mite (Myth)

Mite adalah cerita/ prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Ciri-ciri mite adalah,

  1. pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya;
  2. mite mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya.

2.       Legenda (Legend)

Adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite,

  1. dianggap pernah benar-benar terjadi tetapi tidak dianggap suci;
  2. ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib;
  3. tempat terjadinya adalah di dunia, seperti yang kita kenal kini.

3.       Dongeng (Folktale)

Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat.

C.    Bahan Ajar Cerita Rakyat dalam Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Meskipun saat ini telah muncul kurikulum baru, yang masih dalam tahap perkenalan, yaitu kurikulum perekat bangsa, namun kurikulum yang sekarang masih berlaku adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) masih belum berdampak signifikan bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Sistem kurikulum di dalam KTSP, yang terdiri dari standar kompetensi dan kompetensi dasar belum dapat terjabarkan secara holistik oleh para guru hingga menjadi satuan kegiatan di kelas. Padahal standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Adapun standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Berdasarkan standar kompetensi yang ada dalam KTSP, tujuan pengajaran apresiasi sastra, antara lain: (1) agar siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (2) agar siswa dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Pada pengembangan silabus Bahasa dan sastra Indonesia kelas I SD semester 2, kelas V semester 1, kelas VII semester 1, dan X semester 2 tercantum standar kompetensi, kompetensi dasar dan meteri pelajaran yang berkenaan dengan membahas cerita rakyat. Berdasarkan pedoman silabus tersebut, cerita rakyat memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan sebagai salah satu materi pembelajaran apresiasi sastra dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

D.    Persoalan Materi Ajar Cerita Rakyat dalam Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Sastra

Sebagaimana pembelajaran sastra pada umumnya, berbagai persoalan muncul sekaitan dengan ‘gagalnya’ pembelajaran sastra yang ada di Indonesia.  Ada beberapa yang perlu disoroti terkait persoalan yang muncul ini.

  1. Penelitian mengenai cerita rakyat setempat kurang, kalaupun ada kurang dieksplorasi menjadi bahan ajar

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rusyana, bahwa ada dua tujuan pembelajaran sastra yakni untuk kepentingan ilmu sastra dan tujuan untuk kepentingan pendidikan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk kepentingan ilmu pengetahuan (ilmu sastra), tujuan pembelajaran sastra lebih diorientasikan pada pengetahuan tentang teori sastra, sejarah sastra, sosiologi sastra dan kritik sastra. Sedangkan untuk kepentingan pendidikan, tujuan pembelajaran sastra merupakan bagian dari tujuan pendidikan pada umumnya yakni mengantarkan anak didik untuk memahami dunia fisik dan dunia sosialnya, dan untuk memahami dan mengapresiasi nilai-nilai dalam hubungannya dengan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. (Rusyana, 1984:313).

Pengembangan kesastraan dalam bentuk penelitian (cerita rakyat) pada lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki program pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dengan tema local wisdom, sebagai pengejawantahan tujuan pembelajaran sastra di atas, sebetulnya sudah menjadi sebuah tradisi. Penelitian cerita rakyat oleh setiap mahasiswa pada setiap universitas tersebut sebetulnya dapat dijadikan sebuah bahan ajar, sehingga cerita rakyat yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran lebih variatif.

  1. Materi ajar atau bahan ajar mengenai cerita rakyat sedikit

Dalam beberapa buku, termasuk buku BSE yang diterbitkan pemerintah, bahan ajar mengenai cerita rakyat justru kurang variatif. Dari setiap tahunnya materi ajar mengenai cerita rakyat hanya berkisar pada cerita rakyat yang telah diterbitkan sejak dahulu. Dalam arti cerita rakyat yang baru kurang disuguhkan, sehingga kurang merangsang minat siswa.

Cerita rakyat merupakan produk budaya masyarakat setempat, sehingga dalam setiap wilayah pasti akan terdapat cerita rakyat. Terlepas dari buku ajar, guru pun kurang dapat memanfaatkan bahan ajar mengenai cerita rakyat, terutama untuk cerita rakyat daerah setempat.

  1. Waktu/ kesempatan pelaksanaan pembelajaran cerita rakyat terbatas

Sebagaimana yang tercantum dalam pengembangan silabus Bahasa dan sastra Indonesia, bahwa kesempatan pembelajaran cerita rakyat sangat sedikit. Hal ini dapat terlihat bahwa yang ada dalam SK dan KD hanya pada kelas I (SD) semester 2, kelas V (SD) semester 1, kelas VII (SMP) semester 1, dan X (SMA) semester 2.

Dalam konteks ini, maka hendaknya pemanfaatan pembelajaran cerita rakyat ini dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Siswa diharapkan dapat benar-benar ‘terjun ke dalam lautan‘ yang memang dimiliki cerita rakyat, bukan sekedar ‘cuci muka’.

  1. Pelaksanaan pembelajaran sastra, khususnya cerita rakyat, kurang meningkatkan minat siswa

Dalam konteks pengajaran, fungsi utama sastra (cerita rakyat) bagi siswa  adalah bahwa pembelajaran ini dapat memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan dengan pengembangan imajinasi, pengalaman baru, pengembangan wawasan menjadi perilaku insani, pengalaman, pengembangan bahasa, pengembangan kognitif, pengembangan kepribadian juga pengembangan sosial anak (Tarigan, 1995: 6)

Pelaksanaan pembelajaran di kelas, akan sangat berhubungan dengan penyampaian guru baik model pembelajaran maupun metode yang digunakan oleh seorang guru dalam meyampaikan materi ajar. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa model pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan pengalaman apresiasi dan kreativitas yang dapat memacu kreativitas siswa, hal ini salah satunya disebabkan karena kualitas guru yang kurang menguasai bahan ajar sastra (cerita rakyat) dan kurang dapat memanfaatkan sarana, seperti VCD, komputer serta Internet  dan lainnya.

E.    Model yang Dapat Digunakan dalam Pembelajaran Cerita Rakyat

Pembelajaran cerita rakyat hendaknya dipandang sebagai bentuk relasi sosial. Artinya, melalui interaksi belajar mengajar terjadi hubungan yang dinamis antara cerita rakyat dengan murid, cerita rakyat dengan pengajar, pengajar dengan murid, atau murid dengan murid dengan refleksi kehidupan sosial sesuai dengan nuansa pembelajaran dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini pembelajaran tidak lagi bernuansa hafalan, sekadar penjelasan dan tanya jawab, namun lebih dari itu pembelajaran yang berlangsung hendaknya ditandai ciri responsif dan kolaboratif. Dalam pembelajaran yang demikian itu, murid dan guru bersama-sama memberikan tanggapan terhadap fakta yang dipelajarinya termasuk dalam hal penentuan materi yang dipelajari. Dengan model pembelajaran seperti itu diharapkan insteraksi belajar-mengajar dapat mengarah pada terciptanya komunikasi dalam konteks konstruksi sosial.

Berdasarkan dari konsep di atas, model analisis wacana kritis/ Critical Discourse Analysis (CDA) dapat diterapkan dalam pembelajaran cerita rakyat. Penerapan model CDA dalam pembelajaran sastra, dapat ditempuh tiga tahapan penyajian yang meliputi (1) tahap penjelajahan, (2) tahap interpretasi, dan (3) tahap re-kreasi

Pada tahap pertama, sebagai tahap penjelajahan, guru dapat memberi kesempatan kepada salah seorang siswa untuk membacakan wacana cerita rakyat dan para siswa lainya menyimaknya. Sebagai variasi, pengajar dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk “menerjemahkan” cerita rakyat tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan “penerjemahan” ini ialah agar siswa lain yang berasal dan berlatar belakang budaya yang berbeda dapat memahami serta proses komunikasi diharapkan dapat berjalan dengan lancar.

Tahap kedua, yang masih dalam tahap penjelajahan, yakni seluruh siswa melakukan penyimakan pembacaan cerita rakyat. Hal-hal yang perlu disimak ialah tema dan pesan (makna) yang ada di dalam wacana, karakteristik berbentuk cerita (mite, legenda dan dongeng) beserta keyakinan atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat setempat-sesuai dengan latar wacana cerita rakyat yang dijadikan bahan pembelajaran, dan berbagai hal yang dipandang penting oleh guru. Sebaiknya, sebelum atau setelah pembacaan wacana cerita yang dipilih, guru memberikan informasi yang secukupnya tentang latar belakang sosial budaya wacana cerita yang dipilih. Informasi yang diberikan oleh guru ini penting agar “makna” yang diperoleh siswa benar-benar tepat sesuai dengan konteks sosial-budayanya.

Tahap ketiga, yanga merupakan tahap interpretasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan diskusi, yakni mendiskusikan hasil pemaknaan masing-masing siswa terhadap cerita rakyat yang dibaca. Dalam berdiskusi, prinsip “kebebasan berpendapat” hendaknya menjadi perhatian guru.

Tahap keempat, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan “re-kreasi”, yakni penciptaan kembali sebuah cerita, atau hasil pemaknaan, dalam bentuk tulisan kreatif. Dengan kegiatan ini, siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengkomunikasikan segala sesuatu yang dipandang berharga dan bernilai sebagai manifestasi hasil pemaknaan terhadap wacana cerita yang diangkat sebagai bahan pembelajaran. Dengan kegiatan ini diharapkan siswa dapat menguasai keterampilan menulis.

F.    Simpulan

Dengan dimilikinya berbagai warisan budaya, yang meruapakan sebuah prestasi besar dalam berkesenian, bangsa Indonesia sepatutnya memiliki ketahanan budaya, yang tereksplorasi dalam sistem pendidikan, yang menjadi pola hidup masyarakat sehingga dapat bertahan sehubungan dengan gencarnya perkembangan global.

Cerita Rakyat yang merupakan warisan prestasi besar masyarakat Indonesia, yang termasuk ke dalam bahan ajar pendidikan di Indonesia, kurang mendapat tempat dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra.

Terlepas mengenai kebijakan pemerintah, pembelajaran apresiasi sastra yang menyuguhkan cerita rakyat perlu di poles dengan baik. Setidaknya dalam tataran praktis, guru dapat menerapkan model pembelajaran yang dapat merangsang kreatifitas dan merangsang keinginan siswa untuk dapat menyenangi sastra Indonesia, terutama cerita rakyat.

PUSTAKA RUJUKAN

Danandjaya, James. 2002. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT Pustaka Utama grafiti.

Faruk. 2003. Kebangkitan Kebudayaan. Jurnal Kebudayaan Selarong volume 01, April-juli 2003. Yogyakarta.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

________________. 2001. Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE

Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV. Diponegoro.

______________. 1978. Sastra Lisan Sunda Cerita Karuhun, Kajajaden, dan Dedemit. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Semi, M. Atar. 1993. Rancangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

Sumardjo, Jakob. 1995. Sastra dan Massa. Bandung: ITB.

Tarigan, H.G. 1995. Dasar- dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.

Zoetmulder 1994. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: