Model Pembelajaran BIPA

MODEL PEMBELAJARAN AFIKSASI MELALUI MEDIA CD INTERAKTIF DALAM KETERAMPILAN MENULIS UNTUK PEMBELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA)

(Studi  Eksperimen untuk Pembelajar BIPA Tingkat Dasar di SMP Mutiara Nusantara International School Bandung)

Oleh: Sulistiono S.Pd 

 

  1. 1.             Latar Belakang Penelitian

Dewasa ini, bahasa Indonesia  semakin diminati oleh orang-orang asing atau orang luar negeri. Hal ini dapat dilihat dengan banyak dibukanya lembaga-lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing baik di Indonesia maupun di luar negeri. Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing ini dimaksudkan guna memperkenalkan bahasa Indonesia kepada para penutur asing  untuk berbagai kepentingan, baik pengajaran maupun komunikasi praktis. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, sebagaimana pula bahasa lain sebagai bahasa asing, ditujukan guna memberikan penguasaan lisan dan tertulis kepada para pembelajar. Hal ini mengandung maksud bahwa mereka diharapkan mampu mempergunakan bahasa Indonesia untuk berbicara dengan lancar dan sekaligus dapat mengerti bahasa yang diujarkan penutur aslinya (Wojowasito, 1977: 1-2).

Tercapainya maksud dan tujuan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur bahasa asing dipengaruhi oleh tiga komponen. Ketiga komponen tersebut adalah pembelajar, materi pembelajaran, dan proses pembelajaran. Hubungan ketiga komponen tersebut sangatlah penting sehingga akan menentukan hasil pembelajaran. 1) Pembelajar merupakan komponen yang sangat menonjol keberadaanya karena karateristik dan peran pembelajar BIPA dapat dilihat dari a) motivasi, b) tujuan pembelajaran, c) bakat, d) ciri personal, e) cara/strategi belajar, f) kemampuan kognitif, g) pengetahuan/kemampuan. 2) Penyelenggara BIPA. Dalam hal ini penyelenggara BIPA perlu memahami karakteristik dan peran pembelajar karena setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan berbeda. 3) Proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran pemahaman yang baik harus dimunculkan ketika menyiapkan bahan-bahan ajar. Dalam hal ini perlu diperhatikan bagaimana pengajar menentukan dan membuat model-model pembelajaran. Dalam konteks ini model pembelajaran mendapat tempat yang signifikan dalam keberhasilan pembelajaran. Perlu diperhatikan bahwa tujuan pembuatan model pembelajaran diarahkan untuk :

  1. memberikan wahana bagi pembelajar untuk mempraktikan kaidah-kaidah bahasa yang didapatnya di kelas. Dengan cara ini, pembelajar akan menyadari sejauh mana pencapaian pembelajarannya;
  2. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk berani berkomunikasi dalam suasana yang alami;
  3. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk meningkatkan kelancaran berbahasanya;
  4. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk mendapat informasi yang faktual sesuai dengan kebutuhan belajar.

Pembelajaran bahasa Indonesia secara formal yang dilakukan pada setiap lembaga pendidikan untuk semua tingkat pendidikan, dengan model pembelajaran apapun, diarahkan agar setiap pembelajar memiliki empat keterampilan[1], yaitu: memiliki keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Adapun empat keterampilan untuk tingkat dasar[2], antara lain :

  1. Keterampilan mendengarkan, meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, petunjuk, denah, pengumuman, berita, dan konsep materi pelajaran.
  2. Keterampilan berbicara, meliputi kemampuan mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda, fungsi anggota tubuh, kegiatan bertanya, percakapan, bercerita, deklamasi, memberi tanggapan pendapat atau saran, diskusi dan lainnya.
  3. Keterampilan membaca, meliputi keterampilan memahami teks bacaan melalui membaca nyaring, membaca lancar, membaca puisi, membaca dalam hati, membaca intensif dan sekilas.
  4. Keterampilan menulis, meliputi kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis surat, undangan, ringkasan paragraf dan lainnya.

Terkait dengan maksud dan tujuan pembelajaran BIPA serta keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh setiap pembelajar bahasa, seperti yang telah dijabarkan di atas, pembelajaran BIPA masih banyak terkendala, diantaranya belum adanya kurikulum standar dan belum variatifnya bahan ajar.

Secara faktual berbicara mengenai kurikulum pembelajaran BIPA, sampai dengan saat ini ternyata belum ada kurikulum BIPA yang dijadikan kurikulum standar. Selama ini penyelenggara pendidikan memiliki kebebasan untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Dalam penyusunannya, standar kurikulum yang digunakan tersebut disandarkan pada tujuan agar dapat menampung berbagai perkembangan penggunaan bahasa. Misalnya pendekatan terhadap orang yang belajar bahasa, mereka tidak lagi dipandang sebagai objek, tetapi sebagai subjek (pelaku) dalam proses belajar bahasa. Segala kegiatan dalam pembelajaran bahasa, harus berpusat pada mereka yang belajar bahasa. Sebagai bahan ajar, bahasa tidak dipelajari sebagai bagian-bagian, tetapi dipelajari sebagai satu keutuhan, sesuai dengan bidang pemakaiannya (Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 208: 267).

Selain kurikulum, hingga saat ini pula bahan ajar untuk pembelajaran BIPA masih belum banyak yang ditawarkan kepada penggunanya itu sendiri. Bahan ajar hanya digunakan oleh kalangan tertentu saja yang menyelenggarakan BIPA. Hal ini dikarenakan banyak sekolah atau penyelenggara BIPA masih sibuk dalam menjaga program mereka agar tidak diketahui oleh lembaga penyelenggara BIPA yang lain karena takut ditiru. Mungkin salah satu faktor pendorong mereka melakukan hal ini adalah berkaitan dengan masalah komoditas ekonomi yang dapat dimonopoli oleh kelompok tertentu. Kondisi ini pula di tambah dengan teknik mengajar yang monoton, satu arah, dan tidak terprogram. Namun sayangnya tidak banyak yang menyadari dan melakukan pengembangan sistem pengajaran secara konsisten, bahwa setiap siswa BIPA menuntut kegiatan belajar (bukan kegiatan mengajar) yang menarik dan bermakna. Kegiatan belajar yang menarik saja tidak cukup jika pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan kepada siswa tidak bermakna. Sebaliknya, walaupun pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan sangat penting dan bermakna, tetapi diajarkan dengan cara yang tidak menarik bagi siswa, maka akan menimbulkan kegiatan belajar yang tidak efektif.

Berdasarkan temuan survei yang dilakuan oleh Alwasilah (2000:127) para pengajar BIPA di Australia melaporkan sejumlah kesulitan yang dialaminya. Di antaranya adalah (1) lemahnya keterampilan menyimak dan kesulitan menguasai afiksasi bahasa Indonesia, (2) kendala akademis yang berkaitan dengan metodologi pengajaran BIPA.

Selain itu beberapa praktisi pengajar BIPA, baik di dalam maupun di luar negeri menemukan berbagai permasalahan yang dimiliki oleh pengajar asing dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Rosidi (2000:392) menemukan bahwa penutur Jepang mengalami kesulitan dengan  imbuhan, khususnya kata yang menggunakan awalan, sisipan, dan akhiran seperti ; ber-, meng-,men-, me-kan, mem-. per-kan, mem-per-i, dan lain sebagainya. Selain itu, pembelajar pemula mengalami kesulitan dalam mencari kosa-kata sulit dalam kamus, apakah kata tersebut kata dasar atau kata jadian.

Selain pada tingkat dasar, begitu pula hasil penelitian berkenaan dengan kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia para pembelajar BIPA di tingkat menengah di Indonesian Language and Culture Intensive Course (ILCIC), penellitian dalam kurun waktu 1999-2000 yang dilakukan oleh Setya Try Nugraha (2000:7) didapatkan hasil dinataranya adalah ketidakefektifan kalimat sebanyak 422 kesalahan,  kesalahan pemilihan kata sebanyak 228, kesalahan penggunaan afiks sebanyak 203 kesalahan, tidak lengkapnya fungsi-fungsi kalimat sebanyak 113, kesalahan pemakaian preposisi sebanyak 52,  pembalikan urutan kata sebanyak 74 kesalahan, penggunaan konstruksi pasif  sebanyak 37, kesalahan pemakaian konjungsi sebanyak 25, ketidaktepatan pemakaian  kata yang  ada 17 kesalahan, dan  kesalahan dalam pembentukan jamak  sebanyak 9 kesalahan. Jadi kesalahan mencolok terjadi pada pembuatan kalimat yang efektif disusul kesalahan pemilihan kata, pemakaian afiks, dan tidak lengkapnya fungsi-fungsi dalam kalimat.

Kesulitan-kesulitan lainnya dikemukakan oleh Hidayat (dalam Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, 2008: 273), bahwa berbagai kendala yang membuat pembelajar BIPA kesulitan menguasai struktur bahasa Indonesia, yaitu:

  1. kandungan makna yang terdapat dalam struktur kalimat BI, masih kurang mereka pahami;
  2. pemahaman terhadap konsep struktur kalimat Bahasa Indonesia (BI) masih samar-samar;
  3. satuan-satuan linguistik yang menjadi unsur pembangun kalimat BI belum mereka kuasai;
  4. kerancuan terhadap pemahaman posisi fungsi, kategori dan peran dalam sebuah kalimat;
  5. penggunaan BI masih dipengaruhi kebiasaan penggunaan berbahasa ibunya;
  6. struktur pola kalimat BI berbeda dengan struktur kalimat bahasa ibu mereka;
  7. penguasaan kosa kata dan pembentukannya belum banyak mereka ketahui;
  8. penguasaan membaca buku-buku kebahasaan masih kurang.

Kendala-kendala yang muncul dalam pembelajaran BIPA di atas, baik kendala yang muncul dari pengajar, pembelajar maupun objek yang diajarkan, menjadi sebuah permasalahan yang memerlukan obat penawar yang setidaknya dapat menjadi alternatif penyembuhan. Oleh karena itu penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat sangat diperlukan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Dengan demikian, peneliti meyakini bahwa, penggunaan strategi yang tepat akan sangat membantu pembelajaran BIPA meraih keberhasilan dalam proses pembelajarannya, salah satunya adalah model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti bermaksud akan meneliti “Model Pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif dalam keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat untuk pembelajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) di tingkat dasar, dengan alasan bahwa:

  1. belum banyaknya model  pembelajaran afiksasi yang sesuai untuk pembelajar BIPA;
  2. masih ada pengajar yang kesulitan dalam memberikan pembelajaran afiksasi untuk pembelajar BIPA;
  3. model pembelajaran afiksasi melalui penggunaan media CD interaktif dapat meningkatkan kemampuan menulis kata berafiks dalam kalimat untuk pembelajar BIPA tingkat dasar.
  1. 2.             Indentifikasi Masalah

Masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dari latar belakang penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

  1. masih minimnya bahan pembelajaran afiksasi terutama pada afiksasi awalan pembentuk verba: meN-, untuk pembelajar BIPA tingkat dasar yang diajarkan di sekolah;
  2. pembelajar BIPA tingkat dasar masih kesulitan menguasai afiksasi bahasa Indonesia;
  3. pembelajar BIPA tingkat dasar masih mengalami kesulitan dalam memahami arti baik kata dasar dan kata yang berimbuhan;
  4. tidak banyaknya pengajar yang memanfaatkan model pembelajaran dengan menggunakan media  CD interaktif untuk  meningkatkan keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat  untuk pembelajar BIPA tingkat dasar.

.

  1. 3.             Rumusan Masalah

Berdasarkan pada apa yang dijelaskan dalam latar belakang penelitian yang terangkum dalam pembahasan masalah, penelitian ini akan difokuskan pada “Model Pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif dapat meningkatkan keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat untuk  pembelajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) di tingkat dasar”.

Masalah yang akan dicari jawabannya melalui penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

  1. bagaimanakah perencanaan pembelajaran afiksasi  melalui media cd interaktif  pada  siswa kelas IX  SMP Mutiara Nusantara International  School di  Bandung?
  2. bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran afiksasi  melalui media cd interaktif  pada siswa kelas IX  SMP Mutiara Nusantara International  School di  Bandung?
  3. bagaimankah  hasil  Model pembelajaran afiksasi  melalui media cd interaktif  pada siswa kelas IX  SMP Mutiara Nusantara International  School di  Bandung?
  1. 4.             Tujuan penelitian

Berkenaan dengan identifikasi masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk.

  1. menganalisis peningkatan model pembelajaran afiksasi dalam keterampilan menulis kata berafiks  dalam kalimat melalui penggunaan media  CD interaktif untuk pembelajar  BIPA tingkat dasar;
  2. menganalisis adanya peningkatan yang signifikan pada model pembelajaran afiksasi dalam keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat melalui penggunaan media CD interaktif  untuk pembelajar BIPA tingkat dasar.
  3. 5.             Pembatasan Masalah
    1. Berdasarkan pada kurikulum pembelajaran afiksasi pada pembelajar BIPA tingkat dasar yaitu pada imbuhan meN-, peN-, di- ,dan akhiran   –an, maka penulis hanya membatasi pembahasan pada pengajaran afiksasi pembentuk Verba meN-  melalui  media CD interaktif;
    2. Keterampilan menulis kata  berafiks dalam kalimat.
  1. 6.             Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut.

  1. a.             Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut ;

1)            menambah kajian inovasi pembelajaran bahasa Indonesia bagi model pembelajaran afiksasi untuk pembelajar BIPA tingkat dasar;

2)            mengembangkan konsep model pembelajaran afiksasi dalam keterampilan menulis kata bearfiks dalam kalimat untuk pembelajaran BIPA tingkat dasar.

  1. b.             Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1)            khusus untuk para pengajar BIPA, model pembelajaran dengan menggunakan CD interaktif merupakan alternatif  model pembelajaran dalam rangka meningkatkan kualitas keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat  untuk pembelajaran bahasa Indonesia di bidang morfologi;

2)            khusus untuk para siswa/pembelajar BIPA, penerapan model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif dapat mengembangkan potensi, keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat dan motivasi siswa dalam menguasai afiksasi;

3)            khusus untuk sekolah internasional yang membuka program bahasa Indonesia, penggunaan model pembelajaran media CD interaktif merupakan salah satu alternatif  strategi pembelajaran bahasa Indonesia bagi pembelajaran BIPA tingkat dasar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran afiksasi;

4)            khusus untuk para peneliti, penerapan model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif dapat dilakukan pada populasi yang lebih banyak dan lebih luas.

  1. 7.             Asumsi
    1. Keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat hanya dapat diperolah dan dikuasai dengan cara praktik dan latihan.
    2. Strategi belajar bahasa merupakan usaha untuk meningkatkan kompetensi linguistik dan sosiolinguistik bahasa sasaran.
    3. Strategi belajar bahasa adalah tindakan, tingkah laku, langkah dan teknik yang secara spesifik diambil oleh siswa secara sadar untuk meningkatkan pemahaman, internalisasi dan penggunaan bahasa sasaran.
    4. Penggunaan model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif  dapat meningkatkan keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat untuk pembelajar BIPA tingkat dasar.
  1. 8.             Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban tentative (sementara) terhadap masalah yang ditentukan (Syamsuddin, dan Vismaia, 2009:64). Berdasarkan definisi tersebut, hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan yang signifikan hasil belajar kelas IX di SMP Mutiara Nusantara International School pada keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat setelah diberi pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif.

  1. 9.             Definisi Operasional

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variable terikat. Penerapan model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif pada mata pelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing yang dilaksanakan di sekolah internasional, yaitu siswa Sekolah Menengah Mutiara Nusantara International School di Komplek Graha Puspa Jalan Sersan Bajuri Cihideung Parompong Bandung ditempatkan sebagai variabel bebas. Sedangkan hasil belajar yang berupa peningkatan keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat ditempatkan sebagai variabel terikat. Untuk memberikan kejelasan tentang variabel-variabel penelitian ini, berikut peneliti uraikan beberapa definisi operasional.

  1. a.             Model Pembelajaran

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dalam hal ini model pembelajaran merupakan upaya manipulasi pengajar dalam menggunakan media (CD interaktif) guna tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan kata lain pula, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

  1. b.             Media Pembelajaran

Media pada dasarnya merupakan sarana atau alat (yang biasanya secara fisik) yang mengantarkan sesuatu hal, baik informasi maupun lainnya, yang digunakan oleh seorang pengguna guna mencapai tujuan tertentu. Apabila media tersebut mengandung maksud-maksud pembelajaran, maka media itu disebut media pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka media pembelajaran adalah alat yang digunakan (dalam hal ini CD interaktif) oleh seseorang (pengajar) yang ditujukan guna tercapainya tujuan pembelajaran.

  1. c.              CD interaktif

CD Interaktif merupakan sebuah media yang berformat multimedia yang dikemas dalam sebuah CD (Compact Disk). CD Interaktif ini merupakan hasil pemecahan suatu masalah berdasarkan pendekatan komunikasi audio visual.

CD Interaktif biasanya berbasis komputer serta menggabungkan dan mensinergikan semua media yang terdiri dari  teks, grafis, foto, video, animasi, numeric, narasi dan interaktifitas yang diprogram berdasarkan teori pembelajaran dan dikemas dalam piringan compact disk (CD).

  1. d.             Menulis kata berafiksasi

Afiksasi adalah proses pertumbuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur, yaitu: dasar atau bentuk dasar, afiks dan makna gramatikal yang dihasilkan. Bentuk dasar yang menjadi dalam proses afiksasi adalah bentuk akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi misalnya ‘meja, beli, sikat’. Afiksasi dapat juga berupa kompleks seperti ‘terbelakang’ pada kata ‘keterbelakangan’, ‘berlaku’ pada kata ‘memberlakukan’, ‘aturan’ pada kata ‘beraturan’, dapat juga bersifat frasa, seperti ‘ikut serta’ pada kata ‘keikutsertaan’, ‘tiba di Jakarta’ pada kata ‘setiba di Jakarta’.

Sementara itu keterampilan menulis kata berafiks adalah keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa BIPA untuk merangkaikan kata dasar atau dasar kata yang disesuaikan dengan imbuhan yang dilekatkanya dengan baik.

  1. 10.         Kajian Teoretis
    1. a.             Model Pembelajaran

Gunter et al (1990:67) mendefinisikan bahwa model pembelajaran adalah “an instructional model is a step-by-step procedure that leads to specific learning outcomes. (Model pembelajaran adalah prosedur yang berupa langkah-demi-langkah yang mengarah pada hasil belajar yang spesifik). sementara Rusman mengatakan bahwa model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan, sehingga meminjam pendapat Joyce dan Weil, Rusman menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pelajaran, artinya pengajar boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya (Rusman, 132-133 : 2011).

Ada dasar petimbangan dalam pemilihan model pembelajaran yang dapat dijadikan pertimbangan oleh pengajar, diantaranya:

1)            Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai

a)             Tujuan diarahkan pada domain kognitif, afektif atau psikomotor?

b)             Bagaimana kompleksitas tujuan yang ingin dicapai?

c)             Apakah memerlukan keterampilan akademik?

2)            Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran.

a)             Materi pembelajaran apakah berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?

b)             Mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?

c)             Apakah tersedia bahan atau sumber yang relevan?

3)            Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa

a)             Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?

b)             Apakah model pembelajaran sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?

c)             Apakah model pembelajaran sesuai dengan gaya belajar peserta didik?

4)            Pertimbangan dari sudut non teknis

a)             Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model pembelajaran?

b)             Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan?

c)             Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai efektivitas atau efisiensi?

Model pembelajaran memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil (1980), yaitu:

1)            Syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran,

2)            Social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,

3)            Principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,

4)            Support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan

5)            Instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects).

  1. b.             Media Pembelajaran

Kata ‘media’ berasal dari bahasa latin. Bentuk jamaknya adalah ‘medium’. Secara harifah, media berarti ‘pengantar’ atau ‘perantara’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:756), ‘media’ mempunyai arti “alat atau sarana untuk menyebarluaskan informasi seperti surat kabar, radio, televisi”.

Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication) di Amerika membatasi media “sebagai segala bentuk dan saluran untuk menyampaikan pesan atau informasi’. Menurutnya media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca.

Berdasarkan bahasan-bahasan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan guru kepada siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa terhadap pembelajaran.

Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran atau mengandung maksud-maksud pembelajaran, maka media itu disebut media pembelajaran. Gagne dan Briggs (dalam Kustandi dan Sutjipto 9 : 2011)  menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran, yang terdiri dari buku, tape recorder, compect disk (CD), kaset, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar grafik, televisi, komputer dan lainnya.

Berdasarkan definisi tersebut, maka media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna.

Levie dan Lenzt (dalam Kustandi dan Sutjipto 21 : 2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu

1)            Fungsi atensi yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pembelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

2)            Fungsi afektif yaitu dengan gambar atau film dalam menggugah emosi dan sikap siswa.

3)            Fungsi kognitif yaitu dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi

4)            Fungsi kompensatoris yaitu membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Sementara peran media dalam pembelajaran adalah sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kemp dan Dayton (dalam Kustandi dan Sutjipto 23 : 2011) mengemukakan beberapa hasil penelitian yang menunjukan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pembelajaran di kelas, yaitu:

1)            penyampaian pelajaran tidak kaku;

2)            pembelajaran bisa lebih menarik;

3)            pembelajaran bisa lebih interaktif;

4)            waktu pelaksanaan pembelajaran bisa lebih efektif dan efisien;

5)            kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan;

6)            pembelajaran dapat diberikan kapan dan dimana saja;

7)            sikap positif siswa dapat lebih terbangun dalam pelaksanaan pembelajaran;

8)            peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif.

Berdasarkan perkembangan yang terjadi, jumlah dan jenis media pembelajaran yang ada pada saat ini sangat banyak dan bervariasi baik berupa media yang sengaja dirancang (by design) maupun yang tidak dirancang secara khusus namun dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran (by utilization). Klasifikasi media berdasarkan adanya tiga ciri yaitu suara (audio), bentuk(visual), dan gerak(motion) diantaranya seperti di bawah ini:

1)            Media audio-motion-visual,

2)            Media audio-still-visual,

3)            Media audio-semi motion,

4)            Media motion-visual,

5)            Media still-visual,

6)            Media audio,

7)            Media cetak (Brets dalam Ayip, 2003: 16).

  1. c.              CD Interaktif

Menurut  Maroebeni  (Tim  Medikomp, 1994)  CD  Interaktif  merupakan sebuah  media  yang  menegaskan  sebuah  format  multimedia  dapat  dikemas  dalam sebuah CD (compact disk) dengan tujuan aplikasi interaktif di dalamnya. CD interaktif  berisi program multimedia yang berbasis kompter serta menggabungkan dan mensinergikan semua media yang terdiri dari  teks, grefis, foto, video, animasi, numeric, narasi dan interaktifitas yang diprogram berdasarkan teori pembelajaran dan dikemas dalam piringan compact disk (CD).

Menurut  Maroebeni  (dalam Savara, 2003)  kelebihan  dan  kekurangan  CD  Interaktif antara lain:

1)          Penggunanya bisa berinteraksi dengan program komputer

2)          Menambah  pengetahuan.  Pengetahuan  yang  dimaksud  adalah  materi pelajaran yang disajikan CD Interaktif

3)          Tampilan audio visual yang menarik

sedangkan kekurangan CD interaktif antara lain:

1)           Medium yang digunakan hanya komputer.

2)           Membatasi target audience karena hanya pemakai komputer saja yang dapat mengaksesnya.

3)           Pemeliharannya harus lebih hati-hati daripada buku (tidak boleh kena panas, tergores berat atau pecah).

  1. d.             Keterampilan Menulis kata berafiks.

Keterampilan menulis kata berafiks adalah kemampuan siswa dalam merangkaikan kata dasar dengan  imbuhannya secara benar dan tepat. Yang mana dalam pembentukannya, kata mengalami interferensi morfologi pada proses pembentukan bentuk dasar bahasa Indonesia dengan pembubuhan afiks.

Proses pembubuhan afiks tersebut dinamakan afiksasi. Terdapat tiga hal yang penting dalam afiksasi, yaitu: 1) proses perubahan fonem, 2) proses penambahan fonem, 3) proses penanggalan fonem. Di dalam Tata Bahasa  Baku  Bahasa  Indonesia afiks  terdiri  atas  prefiks (awalan),  infiks  (sisipan),  sufiks  (akhiran),  dan  konfiks  (gabungan  awalan  dan  akhiran)  (Alwi.  2003:  31).  Namun,  menurut  Ramlan  (2001:  58)  afiks  dalam bahasa  Indonesia  terdiri  atas  prefiks  (awalan),  infiks  (sisipan),  sufiks  (akhiran), dan  simulfiks  afiks  terpisah).  Menurut  Arifin  (2009:  4),  imbuhan  dalam  bahasa Indonesia  terdiri  atas  prefiks,  infiks,  sufiks,  konfiks  (imbuhan  terbelah),  dan simulfiks (imbuhan  gabung).  Sementara  itu,  Keraf  (1991:  94) mengatakan  bahwa afiks dalam bahasa Indonesia terdiri atas prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat dikategorikan bahwa afiks terdiri atas:

1)            Prefiks, yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut “prefiksasi”;

2)            Sufiks, yang diimbuhkan disebelah kanan dasar dalam proses yang disebut “sufiksasi”;

3)            Infiks, yang diimbuhkan dengan penyisipan di dalam dasar itu, dalam proses yang namanya “infiksasi”;

4)            Konfiks, atau simulfiks, atau ambifiks, atau sikumfiks, yang diimbuhkan untuk sebagian disebelah kiri dasar dan untuk sebagian disebelah kanannya, dalam proses yang dinamai ” konfiksasi”, atau “simulfiksasi”, atau “ambifiksasi”, atau “sirkumfiksasi”.

  1. 11.         Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen subjek tunggal (Single Subject  Eksperiment). Alasan mengapa digunakan metode  ekperimen subjek tunggal  dalam penelitian ini adalah karena jumlah subjek  yang ditelitinya terbatas, hanya 10 orang dan sulit untuk dilakukan pembagian kelompok antara kelompok eksperimen dan kontrol. Metode penelitian ini sesuai dengan hakekat penelitian yang akan dilakukan, yaitu untuk melihat perubahan perilaku dan perbedaan secara individu dari subjek yang diteliti. Dengan demikian, hasil eksperimen disajikan dan dianalisis berdasarkan subjek secara individual (Sukmadinata,2005:209). Selain itu metode penelitian eksperimen subjek tunggal merupakan suatu desain eksperimen sederhana yang dapat menggambarkan dan mendeskripsikan perbedaan setiap individu disertai dengan kata yang disajikan secara sederhana dan terinci.

Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain A-B-A, yaitu desain yang menunjukkan adanya control terhadap variable bebas yang lebih kuat dibandingkan dengan desain lainnya. Oleh karena itu, validasi internal lebih meningkat, sehingga hasil penelitian yang menunjukkan hubungan fungsional antara variable terikat dan bebas lebih menyakinkan. Dengan membandingkan dua kondisi baseline sebelum dan sesudah intervensi, keyakinan adanya pengaruh intervensi lebih dapat diyakinkan.

Pada desain A-B-A ini langkah pertama adalah mengumpulkan data perilaku sasaran (target behavior) pada kondisi garis dasar (baseline) pertama (A1) sampai data stabil. Setelah data menjadi stabil pada kondisi garis dasar (baseline) pertama (A1), intervensi (B1) diberikan. Pengumpulan data pada kondisi intervensi dilaksanakan secara terus menerus sampai data mencapai kecenderungan arah dan level data yang jelas. Setelah itu masing-masing kondisi, yaitu garis dasar pertama (A1) dan intervensi (B) diulang kembali pada subjek yang sama pada kondiai garis dasar (baseline) kedua (A2). Produser utama disain A-B-A ini secara visual dapat digambarkan sebagai berikut;

Baseline (A1)———-Intervensi(B1)———Baseline(A2)

Untuk memastikan seluruh siswa berada pada tingkat yang sama, yaitu tingkat IX (kelas 3 tingkat sekolah menengah pertama) maka pada awal semester sebelum kelas pengajaran bahasa Indonesia dimulai para siswa mengikuti pre test (tes awal) yang diselenggarakan oleh peneliti.

  1. 12.         Teknik pengukuran Tes

Untuk mendapatkan hasil  pengukuran tes awal dan tes akhir menggunakan  rumus t test one group design dan pengolahan tes awal dan akhir menggunakan  SPSS.

  1. 13.         Instrumen Penelitian

Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Wawancara, dilakukan pada guru dan siswa tentang kesulitan dalam  pembelajaran afiksasi.
  2. Angket,  berisikan bagaimana kebiasaan yang telah dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran afiksasi.
  3. Observasi, keikutsertaan peneliti dan mitra penelitian dalam melihat langsung proses pembelajaran
  4. Tes, Instrumen tes berupa tes penguasaan kemampuan menulis kata berafiks dalam kalimat yang dikembangkan oleh peneliti sendiri  berdasarkan kurikulum dan silabus. Instrumen tes dikembangkan oleh peneliti untuk guru kelas  mengajarkan  pelajaran bahasa Indonesia di sekolah  internasional. Tes ini diberikan pada kegiatan prapelatihan, kegiatan intervensi, dan pada kegiatan pascapelatihan.
  1. 14.         Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian subjek tunggal disain A-B-A.

  1. Menentukan dan menetapkan perilaku yang mau diubah sebagai target behavior, yaitu peningkatan kemampuan menulis kata berafiks dalam kalimat melalui media CD interaktif  pada model pembelajaran afiksasi.
  2. Pada tahap baseline -1 (A-1), menetapkan kemampuan menulis melalui tes pengukuran kemampuan menulis kata berafiks dalam kalimat sebanyak tiga sesi.
  3. Pada tahap intervensi (B), dilaksanakan pelatihan afiksasi selama dua sesi pertemuan, masing-masing sesi @ 45 menit.
  4. Pada tahap baseline-2 (A-2), dilakukan kembali tes pengukuran kemampuan menulis, untuk mengetahui perkembangan kemampuan menulis kata berafiks dalam kalimat pada setiap subjek setelah mengalami dua sesi intervensi.
  1. 15.         Alur Penelitian

Gambar 1. Diagram Alur Penelitian

  1. 16.         Tahap Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap,yaitu tahap praeksperimen, tahap eksperimen, dan tahap pascaekperimen.

  1. a.             Tahap Pra eksperimen

Pada tahap  ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1)             Melakukan telaah pustaka terhadap kurikulum, silabus, buku pelajaran bahasa Indonesia,  buku penunjang/pengayaan pelajaran bahasa Indonesia.

2)             Melakukan analisis awal pada kemampuan siswa terhadap keterampilan menulis kata berafiks dalam kalimat.

3)             Melakukan kajian model pembelajaran

4)             Merancang model pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif.

5)             Menyusun instrument tes

6)             Melakukan uji coba soal tes awal dalam penelitian.

7)             Menyusun model  pembelajaran afiksasi melalui media CD interaktif.

8)             Menyusun pedoman penilaian.

9)             Menyusun instrumen observasi, dan instrumen angket.

  1. b.             Tahap Eksperimen

Pada tahap  ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1)             Melaksanakan kegiatan model pembelajaran afiksasi dengan menggunakan media CD interaktif.

2)             Melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan bantuan pengamat guru bahasa Indonesia lain jika memungkinkan.

3)             Memberikan tes akhir  kemampuan  menulis kata berafiks dalam kalimat.

4)             Memberi angket kepada siswa untuk mendapatkan gambaran respons terhadap model   pembelajaran yang diterapkan.

  1. c.              Tahap Pasca ekperimen

Pada tahap  ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1)            Memilih data kuantitatif dan data kualitatif.

2)            Mengolah data kuantitatif (hasil tes menulis yang berkaitan dengan afiksasi) secara statistik.

3)            Mengolah data kualitatif (hasil observasi dan angket) secara deskriptif.

4)            Menyusun laporan penelitian.

  1. 17.         Teknik Analisis Data

Yang dimaksud dengan analisis perubahan dalam kondisi adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi base line atau kondisi intervensi, sedangkan komponen yang akan dianalisis meliputi komponen seperti yang dibicarakan di atas yakni tingkat stabilitas, kecenderungan arah, dan tingkat perubahan (level change).

  1. 18.         Jadwal Penelitian

Secara garis besar jadwal penelitian dapat diajukan sebagai berikut:

No.

Uraian Kegiatan

Rencana Waktu Kegiatan pada tahun 2011/12 (Bulan)

Okt

Nov

Des

Jan

Feb

Maret

April

1

Pengajuan proposal

X

 

 

 

 

 

 

2

Bimbingan Proposal

X

X

 

 

 

 

 

3

Pengujian Proposal

 

X

 

 

 

 

 

4

Penyusunan instrumen

 

X

X

X

 

 

 

5

Bimbingan Penyusunan Instrumen

 

 

X

X

 

 

 

5

Pelaksanaan Penelitian

 

 

 

X

X

X

 

6

Pretes

 

 

 

X

 

 

 

7

eksperimen

 

 

 

X

X

 

 

8

Postes

 

 

 

 

 

X

 

9

Pengumpulan data

 

 

X

X

X

X

 

10

Analisis data

 

 

 

 

X

X

 

11

Penyusunan laporan

 

 

 

 

X

X

X

12

Konsultasi pembimbing

 

 

X

X

X

X

X

13

Penyempurnaan

 

 

 

 

 

X

X

  1. 19.         Lokasi dan Subjek Penelitian.

Lokasi penelitian dilakukan di satu sekolah internasional yang terletak di kota Cihideung Parompong, Bandung, Jawa Barat. Sekolah tersebut adalah Sekolah Menengah Pertama Mutiara Nusantara International School di Komplek Graha Puspa Jalan Sersan Bajuri Cihideung Parompong Bandung. Adapun subjek penelitian terdiri dari 10 orang siswa dari sekolah tersebut yang berada di level-IX (kelas 3 SMP) dengan rentang usia antara 13-15 tahun. Indentitas subjek penelitian terdiri dari 5 orang siswa laki-laki dan 5 orang siswa perempuan yang berasal dari negara Jepang, Filipina, Cina, India, Swiss, Amerika dan Belanda.

Adapun alasan pemilihan subjek penelitian didasarkan pada hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, berupa kegiatan observasi dan wawancara dengan 1) guru sekolah tersebut adalah sekolah internasional yang memiliki kualitas pengajar yang baik serta respon dari pihak sekolah yang sangat kooperatif dan bersedia menerima penelitian untuk melakukan penelitian ini; 2) sekolah tersebut memiliki latar belakang budaya dan negara asal siswa yang bervariasi, sementara jumlah sekolah internasional di kota Bandung sangat terbatas; 3) penelitian dilaksanakan pada awal pembelajaran semester baru dan pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran wajib yang harus dipelajari di Sekolah Menengah Pertama; 4) terbatasnya faktor waktu dan dana yang dimiliki oleh peneliti menjadi salah satu pertimbangan atas pemilihan subjek tersebut.

Daftar Pustaka

Alwasilah.A. Chaedar. 2000. Proseding Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIP BIPA) III. Bandung:Andira

Agustien, dkk. 1999. Buku Pintar Bahasa dan Sastra Indonesia. Semarang: CV.    Aneka Ilmu.

Arsyad, Azhar. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Burden, P. R., & Byrd, D. M. 1996. Method for effective teaching, second edition. Boston: Allyn and Bacon.

Depdiknas. (2006). Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta

Gunter, M. A., Estes, T. H., & Schwab, J. H. 1990. Instruction: A models approach. Boston: Allyn and Bacon.

http://maroebeni.wordpress.com/category/desain-komunikasi-visual/

http://students.blog.unnes.ac.id/arifnputri/membuat-media-pembelajaran-interaktif-dengan-piranti-lunak-presentasi/

http://udin-reskiwahyudi.blogspot.com/2011/06/pengaruh-penggunaan-media-cd-interaktif.html

Iskandarwassid dan Dadang S. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosda Karya

Joyce, B., & Weil, M. 1980. Model of teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc

Nugraha, Tri setya. kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia para pembelajar BIPA di ILCIC, P3 Bahasa, Universitas Sanata Darma. Dalam http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/SetyaTriNugraha2.doc

Poerwadarminta. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ramlan, M. 1987. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.

Rosidi, A. 2000. “Makalah Pengajaran (BIPA) kasus di Jepang” pada Proseding

                        Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIP BIPA) III. Bandung:Andira

Sadiman, Arief. dkk. 1990. Media Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali

Sadiman ,Arief S. [et al.]  1986. PA Citation. Media pendidikan : pengertian, pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Rajawali.

Sukmadinata. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.  Remaja Rosdakarya.

Syamsuddin A.R dan Vismaia S.D. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Morfologi. Bandung : Penerbit Angkasa

Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa

Wojowasito, 1977, Pengajaran Bahasa Kedua (Bahasa Asing, Bukan Bahasa  Ibu), Bandung: Shinta Dharma

 

 

 


[1] Menurut Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006),

[2] Sebagaimana ruang lingkup pembahasan, maka penulis mengidentifikasi keterampilan untuk tingkat dasar

  1. Artikel yang sangat bagus. Kalo boleh tau nama CD yang digunakan apa ya? saya tertarik untuk melakukan eksperimen yang serupa. Terima Kasih

  2. penelitian ini harus ditindaklanjuti menuju kesempurnaan, saya akan mendukung selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: