Sedikit Mengenai BIPA

Oleh

Ucu, S.S, M.Pd

1.  Pengertian BIPA

Menurut Suhardi dalam kumpulan makalah yang berjudul Prosiding Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III (1999: 135-136) bahasa Indonesia bagi penutur asing merupakan bahasa asing, seperti halnya bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, dan sebagainya bagi penutur Indonesia. Hal ini berarti bahwa bahasa asing merupakan bahasa yang dipelajari atau dikuasai seseorang setelah bahasa pertamanya. Sehubungan dengan hal tersebut, Subyakto (1988) menyebut bahasa asing itu sebagai bahasa kedua (B2) dan bahasa pertama sebagai bahasa kesatu (B1). Jadi, bahasa Indonesia dalam hal ini dapat disebut B2 bagi penutur asing yang bahasa pertamanya (B1) bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Mandarin, Tagalog, dan sebagainya. Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing banyak diminati oleh berbagai lapisan masyarakat dari mancanegara anatara lain pejabat pemerintahan, politikus, wartawan, pedagang, mahasiswa, seniman, atau wisatawan. Menurut Suyata (2000: 269) orang asing mempelajari Bahasa Indonesia dengan tujuan bermacam-macam dari sekedar berkomunikasi untuk keperluan sehari-hari, seperti berbicara dengan supir, menawar barang, sampai penguasaan bahasa Indonesia yang bersifat resmi dan lebih spesifik, seperti mengikuti kuliah atau mengajarkan bahasa Indonesia, ingin mengembangkan bisnis tertentu di Indonesia, ingin mendalami bahasa Indonesia, atau ingin mendalami kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia.

2.  Perkembangan BIPA

Perkembangan bahasa Indonesia cukup menyebar di beberapa negara. Hal ini karena banyak penutur asing yang berminat mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan, kini pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing mempunyai sebutan tersendiri yaitu BIPA. Bahasa Indonesia dapat menarik minat penutur lain untuk mempelajarinya. Menurut pengakuan pembelajar asing, bahasa Indonesia relatif lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bahasa Cina dan Jepang. Namun, pengakuan ini tidak mutlak sebab ada juga yang beranggapan bahwa bahasa Indonesia juga sulit dipelajari kalau sudah menyangkut afiksasi. Meskipun demikian, kini bahasa Indonesia sudah dipelajari di beberapa Negara di Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Oleh karena itu, bahasa  Indonesia harus menyetarakannya dengan bahasa modern berkembang lainnya di dunia, penyetaraan bahasa Indonesia dalam antar hubungan budaya dalam pergaulan Internasional, serta pemutakhiran bahasa Indonesia yang mampu menjadikan bahasa Indonesia memenuhi fungsinya sebagai bahasa modern.

3.  Kedudukan BIPA bagi pembelajar asing

Kedudukan BIPA bagi pembelajar asing adalah sebagai bahasa ke dua sehingga pemerolehannya dilakukan setelah menguasai bahasa pertama. Suyatna dalam Pratiwi (2008: 10) berpendapat bahwa orang asing mempelajari bahasa Indonesia dengan tujuan bermacam-macam, dari sekadar berkomunikasi untuk keperluan sehari-hari, seperti berbicara dengan supir, menawar barang, sampai penguasaan bahasa Indonesia yang bersifat resmi, seperti mengikuti kuliah atau mengajarkan bahasa Indonesia.  

4.  Maksud dan Tujuan Pembelajaran BIPA

Terkait dengan pembelajaran Bahasa Indonesia ini, pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dimaksudkan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada para penutur asing  dalam berbagai kepentingan, baik pengajaran maupun komunikasi praktis. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, sebagaimana pula bahasa lain sebagai bahasa asing, ditujukan guna memberikan penguasaan lisan dan tertulis kepada para pembelajar. Hal ini mengandung maksud bahwa mereka diharapkan mampu mempergunakan bahasa Indonesia untuk berbicara dengan lancar dan sekaligus dapat mengerti bahasa yang diujarkan penutur aslinya (Wojowasito, 1977: 1-2). Tercapainya maksud dan tujuan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur bahasa asing dipengaruhi oleh tiga komponen. Ketiga komponen tersebut adalah pembelajar, materi pembelajaran, dan proses pembelajaran. Hubungan ketiga komponen tersebut sangatlah penting sehingga akan menentukan hasil pembelajaran. Pertama, pembelajaran merupakan komponen yang sangat menonjol keberadaanya karena karateristik dan peran pembelajar BIPA dapat dilihat dari a) motivasi, b) tujuan pembelajaran, c) bakat, d) ciri personal, e) cara/strategi belajar, f) kemampuan kognitif, g) pengetahuan/kemampuan. Kedua, penyelenggara BIPA. Dalam hal ini penyelenggara BIPA perlu memahami karakteristik dan peran pembelajar karena setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan berbeda. Ketiga,  proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran pemahaman yang baik harus dimunculkan ketika menyiapkan bahan-bahan ajar. Dalam hal ini perlu diperhatikan bagaimana pengajar menentukan dan membuat model-model pembelajaran. Dalam konteks ini model pembelajaran mendapat tempat yang signifikan dalam keberhasilan pembelajaran. Perlu diperhatikan bahwa tujuan pembuatan model pembelajaran diarahkan untuk:

  1. memberikan wahana bagi pembelajar untuk mempraktikan kaidah-kaidah bahasa yang didapatnya di kelas. Dengan cara ini, pembelajar akan menyadari sejauh mana pencapaian pembelajarannya;
  2. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk berani berkomunikasi dalam suasana yang alami;
  3. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk meningkatkan kelancaran berbahasanya;
  4. memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk mendapat informasi yang faktual sesuai dengan kebutuhan belajar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.